NEWSTICKER

Bedah Editorial MI: Waspadai Cuaca Panas

N/A • 26 April 2023 09:27

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia umumnya dilanda cuaca panas. Menurut BMKG, fenomena ini terjadi salah satunya karena dinamika atmosfer yang tidak biasa. Pelaksana Tugas Bidang Klimatologi BMKG, Dodo Gunawan menjelaskan sejumlah negara lain di Asia bahkan dilanda gelombang panas dengan suhu hingga 51 derajat celsius. 

Di India, gelombang panas bahkan menyebabkan 11 orang tewas. Menurut BMKG, Indonesia memang tidak mengalami gelombang panas, tetapi suhu maksimum udara tergolong panas. Bahkan lonjakan tahun ini merupakan yang terparah.

Selain karena dinamika atmosfer, fenomena ini secara klimatologis juga dipengaruhi oleh gerak semu matahari serta tren pemanasan global dan perubahan iklim yang memperparah keadaan. 

Gelombang panas atau heatwave pun semakin berisiko berpeluang terjadi 30 kali lebih sering. Cuaca sebagai bagian dari fenomena alam adalah takdir yang tidak bisa dilawan. Akan tetapi, besar-kecilnya dampak bencana yang disebabkan fenomena alam tersebut sangat ditentukan oleh kesigapan manusia itu sendiri.

Selain dehidrasi dan berbagai penyakit, cuaca panas dapat memicu kebakaran hutan dan lahan jika tidak diantisipasi dengan serius. Semua dampak ini tentunya perlu diantisipasi. 

BMKG harus lebih sering menginformasikan perihal fenomena cuaca ini kepada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat pun mesti aware dengan informasi yang disampaikan oleh institusi terkait, baik itu BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, maupun Kementerian Kesehatan.

Biasakan memperhatikan informasi seputar cuaca yang disampaikan otoritas terkait. Kesadaran tentang cuaca beserta dampak yang dapat ditimbulkannya harus menjadi laku hidup sehari-hari. Ingat, kita hidup berdampingan dengan alam bersama segala konsekuensinya. Jika tidak bijak menyikapinya, fenomena alam tersebut akan menelan dan menyengsarakan kita semua. 

Sudah banyak contoh berbagai bencana yang menelan korban karena kita lalai mengantisipasinya, seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan. Seluruh kepala daerah dan masyarakat kiranya harus lebih sering mengakses, memantau prediksi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG. Peduli data cuaca mesti menjadi budaya baru masyarakat. Ramalan cuaca adalah hasil kerja rasional berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan.

Langkah antisipasi menyeluruh harus dilakukan dan tidak hanya menyangkut pemda setempat, tapi juga dari sistem peringatan dini yang lebih awal, sosialisasi yang masif, dan ketanggapan pemerintah termasuk dalam setiap kebijakan. Kita harus belajar dari negara-negara lain yang sudah mengakrabi bencana.

Kemampuan menekan korban, baik harta maupun jiwa, bukanlah hasil sekejap dan bukan pula kerja sektoral. Ketanggapan bencana benar-benar dibangun dan disiapkan secara nasional, termasuk lewat pendanaan terhadap riset teknologi deteksi bencana, baik tsunami, gempa bumi, tanah longsor, maupun bencana alam lainnya.

Sumber: Media Indonesia

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Metrotvnews.com

(Muhammad Ali Afif)