NEWSTICKER

Bedah Editorial MI: Sigap Deteksi Penyakit Misterius

20 October 2022 08:16

Beberapa bulan terakhir kasus gagal ginjal akut pada anak merebak di Tanah Air. Penyebabnya masih misterius. Namun, yang pasti, korbannya telah berjatuhan. Juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) M Syahril mengatakan, berdasarkan data terakhir per 18 Oktober, terdapat 206 kasus dari 20 provinsi. Yang melaporkan kematian ada 99 kasus atau 48%. Adapun RSCM sebagai rumah sakit rujukan nasional melaporkan jumlah kematian sebanyak 65% pasien. Sejauh ini, pihak Kemenkes sudah memberikan antidot atau penawar untuk pasien kepada rumah sakit di seluruh Indonesia.

Selain itu, kementerian juga telah menginstruksikan apotek agar tidak menjual obat sirup untuk sementara. Pasalnya, berkaca pada kasus serupa di Gambia, obat batuk sirup yang mengandung penurun panas (parasetamol) diduga menjadi penyebab rusaknya ginjal pasien di negara tersebut. Oleh karena itu, tenaga kesehatan di Indonesia pun diminta tidak meresepkan obat cair atau sirup sampai investigasi selesai. 

Pemerintah, dalam hal ini Kemenkes, memang perlu bertindak cepat. Apalagi, penyakit ini sangat mengancam jiwa pasien, yang umumnya anak-anak atau balita. Selain bisa menyebabkan kematian, kerusakan pada ginjal pasien juga akan memengaruhi kualitas kesehatan mereka seumur hidup. Harus segera ditelusuri apa penyebab pastinya penyakit misterius ini agar segera diketahui cara pencegahannya. Jangan sampai masyarakat kebingungan dan semakin banyak jatuh korban. 

Ini tentunya  tantangan bagi dunia kedokteran, juga Litbang Kemenkes serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). Apa pun caranya, mereka harus berupaya keras menemukan solusinya. Jika perlu, bekerja sama dengan negara lain yang mengalami kasus serupa.

Badan POM sebagai lembaga pengawas obat dan makanan juga harus menelusuri apakah obat yang diduga menjadi penyebab kasus serupa di Gambia beredar pula di Indonesia. Jangan sekadar berdalih obat itu tidak terdaftar, tapi telusuri hingga ke pasar-pasar dan toko-toko obat. Jangan pula ada yang ditutup-tutupi. Jika memang terbukti ada perusahaan farmasi yang mendistribusikan obat tersebut, jatuhkan sanksi.

Kasus ini tentu harus jadi pembelajaran bagi semua agar tidak sembarangan mengonsumsi obat. Untuk menjaga kesehatan, hal yang paling penting ialah mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, istirahat teratur, dan jangan lupa menjaga kebersihan. Kasus ini juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi dunia kedokteran dan litbang kesehatan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan mereka dalam mendeteksi penyakit. Sebab, kita tidak pernah tahu, wabah patogen apa lagi yang akan terjadi di masa depan.

Sumber: Media Indonesia