Di Balik Lensa

Anggitondi Martaon    •    31 Agustus 2016 12:25 WIB
galeriindonesiakaya
Di Balik Lensa
Memasuki era digital, dunia fotografi kini menjadi hobi yang digandrungi anak muda (Foto:Antara/Suwandy)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dunia fotografi kini menjadi hobi yang digandrungi anak muda. Terlebih ketika memasuki era digital, peminat dunia fotografi bagaikan jamur di musim hujan.

Hal itu yang membuat Yovie Widianto tertarik mengeksplorasi dunia ‎fotografi dalam program IDEnesia episode Di Balik Lensa. Yovie ingin mengetahui bagaimana seorang fotografer profesional mengabadikan suatu momen dan menghasilkan karya yang sangat bernilai.

Yovie terlebih dahulu ingin mengetahui perbedaan dunia fotografi saat masih menggunakan sistem analog dengan digital. Seperti kita ketahui, kedua era tersebut memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Mulai dari teknik hingga foto yang dihasilkan.

Salah satu narasumber Yovie, Nurulita Adriani Rahayu mengatakan, kedua era itu memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari sisi teknik.

Wanita yang mulai menekuni dunia fotografi sejak tahun 1990-an itu mengungkapkan, teknik menjadi perbedaan yang sangat mencolok di antara kedua era tersebut. Feeling seorang fotografer lebih terasa saat menggunakan kamera yang menggunakan roll film.

‎"Di situ kita memotret benar-benar mengandalkan feeling, lightmeter, dan doa. Karena kita tidak bisa menentukan hasilnya. Apa yang kita bayangkan dengan hasil setelah foto dicetak, tidak selalu sama," ‎kata Nurul.

Sebaliknya, pada era ini masalah teknik sudah mulai dilupakan. Sebab, seorang fotografer bisa melihat hasil jepretan tanpa harus menunggu hasil fisik foto.

"Sayangnya, pada era digital feeling enggak muncul. Pada masa analog, ketika hendak memotret kita mikir dulu jadinya seperti apa, baru jepret. Pada era digital, langsung jepret-jepret, gagal hapus. Kalau dulu enggak bisa begitu, karena roll film kan mahal," ucap Nurul.

Hal senada dituturkan Jacky Suharto. Dia melihat perkembangan teknologi dunia fotografi sebagai kemudahan untuk mengeksplorasi kemampuan seorang fotografer.

"Sekarang teknologi sudah sangat mumpuni sekali. Sudah benar-benar meng-empower seorang fotografer, lebih meng-explore fototografi ketimbang dulu waktu masih pakai analog," kata Jacky.

Kemajuan teknologi dunia fotografi, kata Jacky, juga diikuti komponen pendukung. Misal,  make up artist, model, fesyen, dan lain sebagainya. Sehingga, karya yang dihasilkan pun lebih bagus.

"Kemajuan itu sendiri enggak mungkin kalau enggak didukung iklim fesyen di Indonesia dan pelaku-pelakunya, seperti make up artist, desainer, dan sebagainya. Mereka meng-empower kita untuk berkarya lebih bagus," ucap Jacky.

Selain bicara era, Yovie juga tertarik mengenai alur kerja seorang fotografer profesional. Setiap foto yang dihasilkan mengandung nilai ekonomi.

Namun, hal itu tidak mudah. Sebab, seorang fotografer profesional juga harus mengikuti keinginan klien, mulai dari tema hingga faktor pendukung lainnya.

Roni Bachroni, fotografer yang turut hadir pada program IDEnesia mengatakan, memenuhi harapan klien akan hasil foto sangat menentukan dalam dunia industri.

‎"Paling penting itu, bagus itu kalau klien puas. Itu kalau kita ngomong industri‎. Tapi kalau kita bicara idealisme, I don't care about what people say, yang penting menurut saya bagus," kata Roni.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Roni mengatakan bahwa hal pertama yang harus dibicarakan dengan klien yaitu mengenai fokus foto tersebut. Sebab, sebuah foto untuk industri mewakili sebuah produk yang ingin dipromosikan.

"Balik lagi sebenarnya bergantung dengan konsep awal, seperti beauty foto kah, suasana, atau interior," kata Rony.

‎‎Jacky pun memberikan pendapat sama. Namun, dirinya terkadang membandingkan apa yang diinginkan klien dengan keinginannya.

 "Tiap berkarya cenderung mencapai sebuah goal yang diterima oleh klien seperti ini. Kalau sudah dapat, saya minta spare waktu untuk membandingkan dengan seperti yang saya mau," kata Jacky.

Hal senada disampaikan oleh Nurul.‎ Menurutnya, konsultasi dengan klien sangat dibutuhkan, terlebih untuk foto iklan. Hal itu perlu untuk menampung keinginan klien.

‎"Sama sih, untuk step pemotretan, apalagi untuk iklan pasti ada briefing dulu dengan agensi. Meeting dulu sama klien. Terus disepakati konsepnya mau yang seperti apa. Jadi, pas hari H itu kita sudah prepare semuanya," kata Nurul.‎

‎Terlepas dari itu semua, salah satu hal yang diharapkan oleh Nurul yaitu mengenai hak cipta foto. Menurutnya, saat ini hak cipta dalam fotografi belum terlalu diperhatikan.

"Inginnya ke depan pemerintah bekerja sama dengan asosiasi fotografer untuk melindungi karya cipta," ucap Nurul, berharap.

Saksikan IDEnesia episode Di Balik Lensa, hanya di Metro TV pada Kamis (1/9/2016), pukul 22.30 WIB.

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(ROS)