Gerbang Keabadian

Anggitondi Martaon    •    07 September 2016 19:02 WIB
galeriindonesiakaya
Gerbang Keabadian
Sejumlah masyarakat adat Toraja membawakan tarian ritual Makkatia pada upacara adat Pemakaman Rambu Solo (Foto:Antara/Sahrul Manda Tikupadang)

Metrotvnews.com, Jakarta: Siapa yang tak kenal dengan Toraja? Sebuah suku asli di Sulawesi Selatan itu terkenal budaya dan keunikannya hingga keluar negeri.

Hal itu yang membuat Yovie Widianto tertarik melihat langsung tradisi dan budaya Toraja yang dipertahankan hingga saat ini. Ditemani oleh Putri Indonesia 2006, Agni Pratista‎, Yovie melihat berbagai keunikan tanah Toraja.

‎Hal pertama yang menarik perhatian kedua sahabat itu adalah rumah adat suku Toraja atau lebih dikenal dengan nama ‎Tongkonan‎. Saat asyik melihat Tongkonan, Yovie dan Agni dikejutkan kehadiran salah satu pemuka masyarakat Toraja, Anton. Pria paru baya tersebut menemani Yovie dan Agni mengeksplorasi Tongkonan.

Anton menceritakan, rumah Tongkonan terbagi dalam dua bagian. Pertama, lumbung yang terletak di bagian depan. Hampir sama dengan daerah atau suku lainnya, lumbung di Toraja berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian, seperti padi dan lainnya.

Kemudian, bangunan yang berfungsi untuk tempat tinggal. Selain digunakan untuk tempat tinggal, rumah tersebut juga dipergunakan untuk menyimpan mayat keluarga.‎

"Selain tempat tinggal itu tempat menyimpan mayat atau sumbung," kata Anton kepada Yovie dalam Program Idenesia di Metro TV bertema Gerbang Keabadian.

Melihat kemewahan rumah adat suku Toraja tersebut, Yovie pun menanyakan apakah seluruh elemen masyarakat bisa membangun Tongkonan. Anton menjawab, "Tidak semua masyarakat membangun Tongkonan. Kelompok yang memiliki Tongkonan biasanya dari kalangan bangsawan."

Meskipun begitu, maysrakat biasa juga bisa membangun Tongkonan. Tapi ada perbedaan corak yang sangat mencolok antara Tongkonan yang dibangun kaum bangsawan dan masyarakat biasa.‎

"Biasanya ada perbedaan di ukiran. Bangsawan memiliki ukiran dan masyarakat biasa tidak memiliki ukiran," ungkap Anton.

Meski memilik perbedaan dari ukiran, Tongkonan pada umumnya memiliki empat warna khas, yaitu hitam, kuning, merah, dan putih. Setiap warna memiliki warna berbeda.

‎"Warna hitam melambangkan kedukaan. Warna kuning melambangkan suka cita seperti yang dipakai pada perkawinan dan pesta. Sedangkan, warna putih melambangkan ‎suci, dan merah adalah berani," jelas Anton.

Selain itu, yang menarik perhatian Yovie dan Agni yaitu tanduk kerbau yang terpasang di bagian depan rumah. Anton menjelaskan, kepala kerbau melambangkan kemakmuran bagi orang Toraja.

"Karena harganya itu telah mencapai satu miliar satu ekor," pungkas dia.‎

Memang, tanduk kerbau menjadi salah satu ciri khas rumah adat masyarakat Toraja. Tapi, tidak semua Tongkonan memiliki tanduk kerbau dibagian depan Tongkonan.

Pemuka masyarakat lainnya, Berti, menjelaskan bahwa tanduk kerbau baru bisa dipasang jika sebuah rumah atau keluarga menggelar Rambu Solo, sebuah upacara pemakaman yang dilakukan masyarakat Toraja ketika seseorang anggota keluarga meninggal.

"Kalau dalam adat Toraja, orang meninggal dipotongkan kerbau. Jadi, setiap Tongkonan yang punya tanduk, berarti sudah melakukan Rambu Solo. Tanduk dipotong saat seseorang meninggal, lalu dikuburkan," kata Berti.‎

Upacara Rambu Solo bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang telah meninggal menuju alam roh. Bahkan, masyarakat Toraja percaya, upacara Rambu Solo dianggap sebagai penyempurnaan kematian seseorang.

Jika belum melaksanakan Rambu Solo, maka orang yang meninggal dianggap sebagai orang sakit dan dibaringkan di sumbung. Mayat tersebut tetap diberikan makan dan diajak bicara layaknya orang hidup.

Selain penanda telah mengadakan upacara Rambu Solo, tanduk kerbau juga simbol status sosial. Semakin tanduk kerbau terpampang di Tongkonan, maka hal itu menandakan orang atau keluarga ini adalah bangsawan.

Bicara mengenai Rambu Solo, tim Idenesia sempat mengikuti Festival Toraja International 2016 dengan tema Jangan Mati Sebelum ke Toraja, beberapa waktu yang lalu. Festival tersebut menyajikan kekayaan budaya masyarakat Toraja, termasuk Rambu Solo.

Selain terkenal akan kekayaan budayanya, Toraja juga terkenal dengan hasil alam, kopi Toraja. Kopi Toraja bernilai tinggi di pasar mancanegara.

Meski beberapa negara sempat mencoba untuk membudidayakan kopi tersebut di luar daerah Toraja, hasilnya tidak sama dengan kopi yang ditanam di Toraja.

Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya faktor tanah dan iklim Toraja sehingga kualitas rasa kopi Toraja tidak bisa diduplikasi, meski ditanam dengan biji yang sama di daerah luar.

Saksikan IDEnesia episode Gerbang Keabadian, hanya di Metro TV pada Kamis (8/9/2016), pukul 22.30 WIB.

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(ROS)