Cerita Bagito Ketakutan Melawak di Depan Soeharto

Elang Riki Yanuar    •    26 Oktober 2016 14:53 WIB
bagito
Cerita Bagito Ketakutan Melawak di Depan Soeharto
Bagito (Foto: MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Miing sedang siaran radio ketika telepon di dekatnya berdering. Tanpa firasat apapun, Miing mengangkat telepon. Dia tadinya mengira sang penelepon pendengar radio yang hendak meminta diputarkan lagu.

"Halo, saudara Miing?," kata seorang pria di ujung telepon.

"Saudara Miing, saudara Miing. Sudah cepetan, mau minta lagu apa?" ujar Miing.

"Ayo buruan," kata Miing lagi yang belum tahu dengan siapa ia bicara.

"Kami dari Protokoler presiden," jawab pria itu.


Bagito (Foto: MI/Ramdani)

Waktu itu, tiga pekan sebelum Bagito dijadwalkan tampil di acara perayaan Hari Ibu. Presiden Soeharto yang sedang di puncak kekuasaan dijadwalkan hadir. Miing pun mulai serius mendengarkan penyataan sang protokoler Istana Negara.

"Seperti apa naskahnya (yang akan ditampilkan)?" tanya pria itu dengan nada tegas.

"Saya belum pikirkan pak" jawab Miing.

"Coba saudara ambil kertas, catat," kata sang protokoler lalu memaparkan larangan materi lawak yang tak boleh ditampilkan.

"Kalau banyak tidak bolehnya lebih baik kita pidato saja Pak," kata Miing kala itu.

"Terserah bagaimana saudara menerjemahkannya," protokoler mengakhiri perbincangan.

Bagito memang dikenal kerap menyisipkan sindiran politik dalam materi lawaknya. Tapi, melawak dengan konten satir politik menjadi hal tabu di era Orde Baru. Apalagi harus tampil di depan Soeharto.


Bagito (Foto: dok. Miing)

Siapa sangka, Ibu Tien Soeharto ternyata kepincut dengan tingkah kocak Miing, Didin dan Unang yang saat itu terkenal dengan program Basho (Bagito Show) di sebuah televisi swasta. Sekretariat Negara awalnya tidak mengizinkan. Alasannya jelas, Bagito dianggap 'nakal' dengan lawakan-lawakan politiknya sehingga ditakutkan membuat Soeharto marah atau tersinggung.

"Tidak ada yang bisa menolak Ibu Tien. Siapa yang berani waktu itu? Akhirnya kita main," ucap Miing.

Bagito akhirnya pergi ke Balai Sidang (Jakarta Convention Centre) untuk tampil melawak di depan Soeharto. Mereka terlebih dulu harus melewati pengamanan ketat sebelum masuk.

Miing akan membawakan karakter seorang kakek asal Betawi. Dia hanya membawa pakaian tradisional dan sarung. Miing lolos. Didin yang biasa memerankan karakter hansip saat itu memakai pakaian rapi lengkap dengan dasi sehingga dibiarkan masuk.

Giliran Unang, ia tidak lolos dan harus diperiksa Paspampres.  "Saudara membawa senjata tajam?," tanya Paspampres.

Unang akan melawak dengan peran sebagai orang Jawa bernama Kardiman sehingga tampil dengan pakaian tradisional Jawa, lengkap dengan blangkon dan keris.  Barang bawaan Unang itu bikin masalah.

"Yah bapak, saya kan mau melawak. Kenapa saya bawa keris? karena kalau bawa silet kekecilan, nanti enggak kelihatan," kata Unang.  Dia sepertinya terlalu percaya diri jika Paspampres mengenalinya sebagai pelawak terkenal. Dugaan Unang salah.

"Jangan bergurau kamu!" bentak Paspampres kepada Unang.

Didin, Miing dan Unang langsung ciut. Mereka kebingungan. Keris yang dianggap benda berbahaya itu sejatinya properti untuk melawak. Beruntung, ketegangan mereda setelah panitia menjemput mereka.

Setelah berhasil masuk, Bagito ditempatkan di ruangan khusus. Di situ, mereka mendapat pengawalan ketat yang dikomandoi oleh Sjafrie Sjamsoeddin sebelum menjabat Pangdam Jaya.

Sjafrie hanya duduk bersandar. Dia sengaja mengangkat celana panjangnya. Rupanya, di kedua kaki Sjafrie terselip pistol. Miing, Didin dan Unang mulai ketar-ketir melihatnya. Mereka merasa diteror meski bukan dalam bentuk verbal.

Rasa takut menghinggapi Didin, Miing dan Unang. Mereka takut keseleo lidah hingga berujung pada kasus hukum. Namun, ketakutan mereka buyar setelah mendengar gemuruh penonton yang hadir di tribun atas.  

"Kita tidak tahu kalau di atas itu ada guru teladan, mahasiswa teladan, itu penggemar Bagito semua, teriak mereka semua. Akhirnya menang kita. Soeharto gue cuekin, kita dadah-dadah (melambaikan tangan). Setelah Pak Harto senyum, 'kalah' semuanya. Biasanya 15 menit, 35 menit kita tampil tidak dihentikan," kenang Miing.

Usai tampil, Sjafrie Sjamsoedin menghampiri personel Bagito.

"Selamat dek, Bapak (Soeharto) tersenyum," kata Sjafrie.

"Senyam senyum. Tadi aja nakut-nakutin gue lho," ujar Miing di dalam hati lalu tertawa.

Pengalaman lucu melawak di zaman Soeharto itulah yang akan disajikan dalam pertunjukkan reuni bertajuk Bagito Return. Acara Bagito Return akan digelar 2 November 2016 di The Hall, Senayan City, Jakarta mulai pukul 19.00 WIB.  

"Kita akan kasih tahu melawak zamannya Pak Harto itu seperti apa sih. Kita masih hapal materinya. Anak-anak muda tidak tahu bagaimana ketakutannya kita melawak di depan Pak Harto," tutup Miing.


 


(ELG)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA