Menyusuri Waktu Melalui Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono

Antara    •    07 September 2017 20:28 WIB
sapardi djoko damono
Menyusuri Waktu Melalui Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono (Foto: Metrotvnews/Elang)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyair Sapardi Djoko Damono meluncurkan Manuskrip Sajak yang berisi corat-coret sajak tulisan tangannya pada periode 1958 hingga 1970-an.

Kumpulan manuskrip Sapardi disusun oleh Indah Tjahjawulan yang membuatnya menjadi seperti album kolase gambar. Semua proses pembuatan buku diserahkan langsung oleh sang sastrawan kepada Indah.

"Saya tidak turut campur dalam pembuatan," kata Sapardi dalam peluncuran di Indonesia International Book Fair 2017, Kamis.

"Itu tulisan anak remaja, cengeng dan ngawur. Enggak usah dibaca enggak apa-apa, tapi gambarnya menarik. Anak muda kalau baca bisa 'wah, Sapardi waktu muda cengeng begini'," seloroh Sapardi, merujuk pada manuskrip sajak-sajak yang ditulisnya saat remaja pada era akhir 1950-an.

Sebelum mengenal mesin tik dan komputer, Sapardi mengandalkan buku tulis bergaris sebagai tempat menuangkan ide dalam otaknya menjadi sajak-sajak yang nantinya dikirimkan ke media massa atau dibukukan.

Biasanya manuskrip berujung di tempat sampah, apalagi yang sudah berusia puluhan tahun. Tapi Sapardi secara tidak sengaja terus menyimpannya.

Rupanya manuskrip itu bercampur dengan buku-bukunya, koleksi yang selalu jadi prioritas setiap kali berpindah tempat tinggal. Maka manuskrip itu tidak tercecer meski rumahnya berpindah dari satu kota ke kota lain, mulai dari Solo, Madiun, Semarang hingga Jakarta.

Manuskrip itu terabaikan hingga akhirnya diabadikan dalam buku Manuskrip Sajak yang disusun desainer grafis, Indah Tjahjawulan.

"Ini khan sebenarnya sampah, tapi beliau (Indah) susun jadi buku yang sangat indah," seloroh Sapardi.

Indah awalnya belum tahu akan diapakan corat-coret Sapardi yang berharga itu, tapi dia yakin manuskrip yang sudah dipamerkan di Makassar International Writers Festival tersebut harus didokumentasikan.

"Manuskrip ini penting untuk diketahui karena (isi aslinya) banyak yang berubah saat masuk ke media atau dijadikan buku. Manuskrip ini seperti 'doodling'-nya bapak," kata Indah yang merancang Manuskrip Sajak.

Membaca manuskrip-manuskrip Sapardi seakan masuk ke mesin waktu, kata Indah, karena perkembangan zaman juga terlihat lewat tulisan-tulisannya.

Bagi Sapardi sendiri, buku berisi sekitar 200 manuskrip sajaknya ini bisa mencerminkan perkembangannya hingga perubahan cara berpikirnya dari masa ke masa.

"Mungkin bisa dibaca sebagai studi di dalam sastra," kata dia.

Selain jadi data sejarah sastra untuk peneliti, buku ini bisa jadi harta karun berharga bagi penikmat puisi Sapardi agar bisa lebih mengenal sang penyair juga artefak budaya untuk masyarakat.

Manuskrip Sajak setebal 226 halaman itu mulai dijual di toko buku pada November mendatang.


 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

6 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA