Bondan Winarno 'Maknyus', Dari Jurnalis hingga Calon Legislatif

Purba Wirastama    •    29 November 2017 21:00 WIB
bondan winarno
Bondan Winarno 'Maknyus', Dari Jurnalis hingga Calon Legislatif
Bondan Winarno (Foto: MI/Adam Dwi)

Jakarta: Bondan Haryo Winarno meninggal pada Rabu 29 November 2017 dalam usia 67 tahun. Kenangan tentang Bondan, yang mudah dipahami dan diingat orang, tak lain adalah kiprah sebagai presenter acara wisata kuliner di televisi.

"Top markotop!" ucapnya kala makanan yang tengah disantap enak tetapi tak seenak saat dia berseru: Maknyus!

Capaian karier Bondan ini mendapat pengakuan dari Panasonic Gobel Award 2013 untuk kategori Hobby and Lifestyle Presenter. Dia diunggulkan bersama Dudit Widodo, Benu Buloe, Asri Pramawati, serta Farah Quinn, yang akhirnya membawa pulang piala.

Namun Bondan lebih dari ikon piknik kuliner. Pria kelahiran Surabaya 29 April 1950 ini punya kiprah berbeda-beda dalam setiap dekade. Profesi lain yang digeluti Bondan antara lain penulis, pengusaha, konsultan, jurnalis, copywriter, creative director agensi iklan, dan pegiat komunitas. Terakhir dia juga mencatat jejak sebagai calon legislatif.

Sejak 2010, dia juga aktif berinteraksi di Twitter dengan nama @PakBondan, yang hingga kini telah menjaring ratusan ribu pengikut. Sejak 30 Maret 2017, dia ikut aktif mengepos foto di Instagram. Kebanyakan adalah foto makanan dan minuman.

Terkait jurnalistik, salah satu karya besar Bondan yang kerap diceritakan adalah laporan investigasi mengenai kasus kematian Michael de Guzman pada 1997, yang meramaikan skandal penipuan tambang emas Bre-X di Busang, Kalimantan Timur. Laporan ini pula yang membuat dia menghadapi pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik.

Banyak artikel dan laporan wawancara yang telah mengangkat kisah Bondan Winarno dari ragam sisi. Sebagian dapat dengan mudah ditemukan di arsip-arsip situs web. Berikut ini rangkuman beberapa catatan penting mengenai empat profesi Bondan, mulai dari jurnalis hingga caleg.

1. Jurnalis
Pada era 1980-an, Bondan pernah bekerja di dunia media, dengan menjadi juru kamera Departemen Pertahanan dan Keamanan, serta pemimpin redaksi majalah bisnis SWA. Sebelumnya, menurut catatan situs tokoh.id, Bondan muda punya keinginan menjadi penerbang, tetapi gagal. Kuliah di jurusan arsitektur juga kandas karena biaya terbatas.

Setelah beberapa tahun beralih menjadi pengusaha di AS, Bondan kembali menulis untuk media massa pada era 1990. Dia menulis antara lain untuk Harian Kompas, Tempo, Suara Pembaruan, dan The Asian Wall Street Journal sebagai jurnalis lepas.

Pada 18 Maret 1997, ada kejadian besar yang menarik minat Bondan untuk melakukan investigasi di Busang. Michael Antonio Tuason de Guzman, manajer eksplorasi tambang emas Bre-X, dikabarkan meninggal setelah menjatuhkan diri dari helikopter ketinggian 800 kaki di atas hutan lebat Kalimantan.

Bondan menilai kematian ini janggal karena Guzman adalah orang yang sangat menikmati hidup. Guzman memiliki dua istri dan mengadakan pesta besar pada malam sebelum dia bunuh diri. Sejumlah wartawan menduga dia dibunuh, tetapi Bondan curiga Guzman memalsukan kematian.

Sebelum kabar kematian ini, kisah Bre-X telah jadi perhatian dunia terkait klaim bahwa ada tambang emas besar di Kalimantan. Bre-X, perusahaan milik promotor saham David Walsh, mulai menancapkan bor di Borneo pada 1993 atas ajakan geolog John Felderhof. Guzman ikut serta sebagai orang kedua Felderhof.

Lonjakan saham Bre-X menarik minat sejumlah pihak yang lantas berebut kesempatan untuk mengakuisisi perusahaan. Bre-X sesumbar bahwa Busang dapat menghasilkan enam juta ons emas per tahun. Sebagai pembuktian, Guzman diutus untuk menunjukkan lokasi yang dimaksud. Dalam perjalanan ini, Guzman disebut bunuh diri.

Bondan menerbitkan hasil investigasi ini di The Asian Wall Street Journal dan buku Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi. Kesimpulan besarnya, Guzman memalsukan kematian. Salah satu bukti paling kuat yang diajukan Bondan adalah ihwal gigi palsu Guzman yang tidak ditemukan di jenazah.

Sejumlah media pernah membahas laporan investigasi Bondan. Misal Oryza Ardyansyah Wirawan yang menulis untuk Pantau.or.id pada 2007. Menurut laporan Oryza, investigasi dilakukan Bondan karena iseng di tengah sepinya bisnis perusahaan tempat dia menjabat sebagai presiden direktur.

Investigasi dikerjakan atas nama pribadi selama empat pekan tanpa payung media massa. Naskah selesai ditulis dalam pekan ke-8. Dia berburu sekitar 30 narasumber di Jakarta, Samarinda, Balikpapan, Busang, Manila, Toronto, serta Calgary. Biaya yang dia habiskan sekitar USD 7.500.

Pada 1998 setelah Presiden Suharto lengser, buku Bondan beredar luas. Mantan Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana (almarhum), yang namanya tersangkut skandal Bre-X, menggugat Bondan dengan pasal pencemaran nama baik. Bondan kalah dalam peradilan pidana dan perdata.

Pada usia 50, menurut laporan Henry Adrian untuk Majalah Pasti, Bondan memutuskan pensiun karena takut mati muda. Dia berkaca dari sang ayah yang meninggal dalam usia 55 dan kakak yang meninggal dalam usia 52.


Bondan Winarno (Foto: MI/Adam Dwi)


Namun pada 2001, dia diminta menjadi Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan dan setuju untuk tiga tahun saja. Pada 2004, Ninok Leksono dari Kompas menawari Bondan untuk menjadi penulis kolom wisata dan kuliner di laman digital Kompas. Kolom ini dinamai Jalansutra, yang kemudian berkembang menjadi grup diskusi di milis Yahoo dan media sosial.

2. Penulis
Sebelum menjadi jurnalis, Bondan lebih dulu menekuni minat sebagai penulis. Menurut The Story Book of Just Alvin 2, Bondan menang dalam lomba menulis tingkat nasional yang diadakan majalah Si Kuncung pada 1960. Sejak itu dia menentukan cita-cita untuk menjadi penulis dan wartawan.

Pada usia 20-an, Bondan mulai menulis novel. Novel pertama dia adalah Haneda. Novel ketiganya, Josephine, menang dalam Sayembara Mengarang Novel Femina 1977 dan diterbitkan pada 1979. Pada tahun yang sama, dia menyunting naskah film November 1828 (Teguh Karya) untuk diterbitkan dalam bentuk buku berjudul sama.


Bondan Winarno (Foto: MI/Ramdani)

Selain fiksi dan laporan investigasi Bre-X, Bondan juga menulis buku kiat bisnis, biografi, profil perusahaan, wisata, dan makanan. 25 cerpen dia selama 1980- 2004 diterbitkan dalam Petang Panjang di Central Park. Terakhir, dia ikut menyumbang satu tulisan dalam buku #KamiAhok.

3. Pengusaha
Bondan pernah menjalankan bisnis perikanan di Jepang dan AS. Tujuan utamanya adalah menambah penghasilan supaya dapat menyekolahkan anaknya di AS. Profesi ini dijalani setelah dia keluar dari Majalah Swa.

Bersama sejumlah teman, Bondan juga membuat wine house bernama Decanter. Dia juga mengembangkan kedai kopi kemitraan Kopi Tiam Oey. Kedai ini, seperti diceritakan dia kepada Alvin Adam, didirikan atas usulan beberapa orang untuk membuat restoran. Kedai kopi dipilih karena lebih praktis dan harganya terjangkau.

4. Calon Legislatif DPR
Bondan sempat menjadi calon anggota DPR dari kendaraan Partai Gerindra pada 2014. Minatnya untuk duduk kursi legislatif didasarkan pada niat untuk menjalankan program kampanye mengurangi konsumsi nasi dan meningkatkan protein.

Dalam wawancara dengan Patrick S. Hutapea untuk Panajournal.com, Bondan menyebut bahwa selama bertahun-tahun, dia apolitis karena tidak bergabung dengan partai politik mana pun.

"Tapi saya bukan antipolitik. Saya mulai tergerak masuk ke dunia politik sekitar tiga tahun lalu. Saat itu, saya diundang Menteri Pertanian RI Suswono. Dia dan jajarannya meminta pendapat saya tentang program kampanye kedaulatan pangan," kata Bondan, April 2014.

Bondan memberi usulan soal kampanye mengurangi konsumsi nasi. Program ini dinilai bisa lebih mudah dipahami masyarakat dibanding 'kedaulatan pangan', yang mestinya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Lagipula, Indonesia adalah konsumen beras terbesar di dunia dan menjadi salah satu negara dengan penderita diabetes terbanyak. Dengan mengurangi beras, uang dapat digunakan untuk membeli makanan sumber protein, yang juga mengenyangkan.

Usulan ini tidak mendapat tindak lanjut dari Kementerian. Dia mengajukan ke petinggi salah satu partai politik, tetapi juga tak mendapat tanggapan lebih lanjut. Lantas pada Januari 2013, Bondan melihat kicauan Prabowo Subianto mengenai Hari Gizi Nasional. Saat itu Prabowo mencalonkan diri sebagai Presiden untuk Pemilu 2014.



Bondan pun merasa cocok dengan Gerindra dan mengirim surat elektronik. Lewat balasan surel keesokan harinya, Prabowo mempersilakan Bondan bergabung. Singkat cerita, dia terdaftar di daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta II, yang disebut sebagai dapil 'neraka' karena terkenal sulit.

Untuk kegiatan operasional sebagai caleg, dia mengaku telah menghabiskan dana sekitar Rp230 juta, yang didapat dari teman-teman. Angka ini disebut jauh di bawah caleg lain yang bisa menghabiskan dana Rp6-10 miliar.

Satu hal yang saat itu menjadi polemik adalah pembelaan dia terhadap Prabowo. Lewat beberapa kicauan, Bondan membantah beberapa isu yang dituduhkan terhadap Prabowo, seperti penculikan aktivis dan mahasiswa 1998, pengkhianatan ke Suharto, dan dalang kerusuhan 1998.

Banyak yang mencibir Bondan di Twitter, termasuk Glenn Fredly dan Fadjroel Rachman yang menilai Bondan tak peduli terhadap isu HAM dan orang hilang '98. Menurut Bondan saat itu, pemecatan Prabowo dari jabatan militer tidak membuktikan bahwa dia bersalah atas kejatahan HAM.

Dalam Dapil DKI II, Bondan bertarung dengan 14 caleg dari total 13 parpol. Dia tak menang dan disisihkan oleh empat petahana (Demokrat, PKS, PPP, PDIP) serta tiga caleg baru dari  Golkar (Fayakhun Andriadi), PDIP (Masinton Pasaribu), dan Gerindra (Biem T Benjamin). Kesempatan untuk mengupayakan program pengurangan konsumsi beras belum dapat terwujud.

Kini Bondan telah pergi setelah berjuang menghadapi masalah jantung dan pembuluh darah. Dua operasi besar pada 27 September 2017 dinyatakan telah berhasil dilakukan. Dia bahkan sempat menuliskan secara rinci riwayat kesehatan yang dia alami sejak 2005, tetapi tidak diceritakan secara luas.

Namun situasi berkehendak lain. Setelah pulang dan beristirahat di Bali, Bondan harus menjalani operasi kedua karena komplikasi pasca operasi pertama. Sebelum operasi pada Rabu pagi 29 November 2017, Bondan sempat berpesan kepada istri dan anak-anaknya, untuk merelakan dia.

"Dia juga enggak mau kalau nanti, katakan masih berhasil diselamatkan, keadaannya masih sangat rentan," ucap Eliseo Font Raket.

Selamat jalan, Pak Bondan...

 


(ELG)