Berkaca dari Musibah Bassist Navicula, Astrid Ingatkan Pentingnya Keselamatan

Cecylia Rura    •    28 Maret 2018 08:00 WIB
astrid sartiasari
Berkaca dari Musibah Bassist Navicula, Astrid Ingatkan Pentingnya Keselamatan
Astrid (Foto: medcom/cecylia)

Jakarta: Musibah tak bisa diprediksi. Kepergian Indra Made dan pasangannya Afiriana Dewi sejenak membuat kalangan musisi ikut berkabung dan berbelasungkawa. Kecelakaan yang menimpa mendiang bassist Navicula bersama kekasihnya itu pun ikut mendapat perhatian khusus dari penyanyi Astrid.

Di samping ikut berduka, pelantun Jadikan Aku Yang Kedua ini mengambil hikmah dari musibah yang dialami Indra. Astrid belajar pentingnya musisi memperhatikan keselamatan terlebih ketika sedang tur konser musik di lintas kota dan daerah.

"Aku dengar kabar itu juga. Ini memang keselamatan para musisi, kadang-kadang kita suka meremehkan hal itu. Misalnya, kalau kita melakukan trip. Kayak aku kemarin di Malang atau di Makassar, kadang-kadang perjalanan dari bandara menuju ke tempat itu kan agak jauh. Kadang-kadang ada yang pengemudinya urakan dan sebagainya," papar Astrid ketika ditemui Medcom.id di Jakarta, Selasa, 27 Maret 2018.

"Itu yang kadang kita suka masih, 'Duh, gimana caranya, ya? (kasih tahu)'. Kadang-kadang suka kasih tahu masih ngebut saja. Padahal keselamatan kita sangat penting. Ya, mungkin butuh juga kali ya kita perlindungan pribadi untuk hal-hal semacam itu, karena kita sering banget keluar kota dan sebagainya," imbau Astrid.

Kecelakaan yang menimpa Made dan Afi terjadi sesaat setelah Made bersama Navicula tampil dalam acara nirlaba Kopernik Day di kawasab Gianyar, Ubud, Bali pada Jumat malam, 23 Maret 2018. Afi meninggal ketika hendak dibawa ke Rumah Sakit Ari Canti, rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian. Sementara Made dinyatakan meninggal dunia setelah melalui masa kritis saat dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah, Bali.

Jenazah Afi sendiri telah dipulangkan ke keluarganya di Yogyakarta pada Sabtu, 24 Maret 2018. Sementara jenazah Made kini masih berada di Rumah Sakit Sanglah sambil menunggu waktu baik menurut adat Bali untuk dikremasi.




 


(ELG)