Ence Bagus Semakin Selektif Pilih Panggung Stand Up Comedy

Purba Wirastama    •    01 Maret 2018 22:16 WIB
Ence Bagus
Ence Bagus Semakin Selektif Pilih Panggung Stand Up Comedy
Ence Bagus (Foto: instagram)

Jakarta: Aktor dan pelawak Ence Bagus mengaku dirinya harus semakin selektif memilih panggung pertunjukan tempatnya melawak. Pasalnya, perkembangan internet dan media sosial membuat materi komedi yang seharusnya berada di ranah privat bisa dengan mudah tersebar ke khalayak umum.

"Segala sesuatu yang sifatnya khusus pun bisa jadi umum. Dulu sebelum ada media sosial, misal saya kebetulan di panggung, apa yang terjadi saat itu ya (selesai) saat itu. Saat gue mau omong soal agama, presiden, politik, apa yang terjadi di situ selesai di situ," ungkap Ence saat berkunjung ke kantor redaksi Media Indonesia di Kedoya Jakarta, belum lama ini.

"Namun sekarang enggak bisa. Apa yang terjadi di situ, kadang dijadikan bahan untuk yang lain. Padahal itu (berbeda konteks). Panggung pertunjukan itu sebuah tempat yang sakral. Kami anggap pertunjukan itu seperti halnya ritual kesenian. Ya sudah, apa yang terjadi di situ, ya di situ. Nah sekarang bedanya itu. Jadi, ya sadar media saja," lanjutnya.

Ence memberi contoh kasus yang dialami Ge Pamungkas pada Desember 2017 dan Joshua Suherman pada awal tahun ini, saat mereka tampil dalam panggung stand up atau komedi tunggal. Menurut Ence, jika pertunjukan tersebut tidak terekam dan tidak tersebar ke media sosial, tidak akan ada keributan. Alasannya, materi komedi mereka dibawakan khusus untuk kalangan penonton internal dalam acara masing-masing.

"Ada beberapa kali, kayak pertunjukan stand up comedy kemarin, kepleset. Sebetulnya kalau enggak kena blow up media atau enggak keluar ke media sosial, enggak akan jadi ribut. Toh yang ribut waktu itu di mana? Di media sosial. Pada saat pertunjukan di panggung, enggak ada yang meributkan," tutur Ence.

"Namun memang ada pihak-pihak yang menjadikan agama sebagai entahlah, isu yang seksi mungkin. Akhirnya yang harusnya di situ, ya (tersebar)," imbuhnya.

Bagi Ence, ini adalah konsekuensi atas kemajuan teknologi. Pria kelahiran 1980 ini menyebut pelaku seni harus menyikapi dengan lebih pintar. Dia sendiri punya syarat khusus jika hendak tampil dalam pertunjukan komedi tunggal.

Dia meminta ponsel tidak merekam materi. Jika rekaman acara memang hendak disebarkan bagi khalayak umum, harus ada perjanjian dari awal soal mana saja yang boleh dan tidak boleh dimuat. Jika ada penonton yang tak suka dengan topik bahasannya, orang tersebut dipersilakan untuk keluar dari acara.

"Kita jadi harus semakin hati-hati. Ya aku sekarang begitu. Kalau punya keresahan, lalu melawak di depan teman-teman yang enggak ada masalah membicarakan SARA (suku, agama, ras), ya aku omong saja, tapi di antara kami saja," tukasnya.

Ence dikenal luas setelah bergabung dalam grup komedi televisi Extravaganza pada 2007. Selain tampil di televisi, Ence juga aktif sebagai aktor film dalam berbagai peran sejak 2008. Terakhir dia muncul dalam Yowis Ben garapan Fajar Nugros dan Bayu Skak sebagai satpam sekolah. Film terbarunya adalah Guru Ngaji yang akan dirilis dalam waktu dekat.




 
(ELG)

Seksisme dan Biduan Dangdut

Seksisme dan Biduan Dangdut

1 week Ago

Unsur seksisme bahkan lekat dengan profesi pedangdut ini. Seksisme merupakan penghakiman, prasa…

BERITA LAINNYA