Reza Rahadian: Perfilman Indonesia Butuh Dukungan Pemerintah

   •    11 Agustus 2017 12:05 WIB
filmreza rahadian
Reza Rahadian: Perfilman Indonesia Butuh Dukungan Pemerintah
Aktor Reza Rahadian. (Foto: Metrotvnews.com/Triyanisya)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dunia perfilman Indonesia tak hanya mampu memuaskan mata para penikmat film di dalam negeri. Sejumlah film garapan anak negeri juga terbukti mampu berjaya di kancah internasional.

Sayangnya, dukungan dan apresiasi pemerintah dianggap belum mampu membuat dada orang-orang yang terlibat dalam produksi film berbangga. Sebab, bukan cuma penghargaan, perhatian pun kadang sulit didapatkan.

Inilah yang dirasakan oleh Reza Rahadian, pemeran Rudy Habibie dalam film Habibie & Ainun yang memenangi kategori aktir terbaik dalam Festival Film Asia Pasific 2017.

"Buat orang-orang film pada umumnya banyak yang bergerak sendiri. Mungkin karena responnya yang lama atau prosesnya yang cukup bertele-tele, artinya banyak sekali birokrasinya sehingga orang-orang film memilih gerak sendiri dan mengirim sendiri filmnya ke festival," ungkap Reza, dalam Selamat Pagi Indonesia, Jumat 11 Agustus 2017.

Reza mengatakan bukan hal aneh jika kemudian penghargaan yang didapatkan oleh orang-orang yang aktif dalam perfilman menjadi hal yang sangat personal.

Meskipun dia akui bahwa kehadiran negara saat itu menjadi sesuatu yang resisten. Negara terlambat mengapresiasi sementara para aktivis film sudah berjuang sekuat tenaga untuk masuk ke festival film internasional dengan usaha sendiri.

"Misalnya ketika mendapat hasil kemudian ada klaim itu yang kadang-kadang jadi problem. Bicara soal film, sebenarnya dukungan pemerintah bagi orang-orang film itu sangat besar, Saya enggak bilang bahwa (kontribusi) pemerintah enggak ada sama sekali ya," katanya.

Reza mengatakan insan perfilman butuh regulasi, Undang-undang tentang Perfilman agar direvisi. Alasannya, banyak pasal-pasal yang dirasakan oleh insan perfilman sudah mulai tak relevan dan sedikit double standar. Misalnya dicoret dari salah satu daftar yang bisa dimasuki investasi.

"Tapi yang sekarang kita butuhkan adalah kira-kira arah perfilman ini mau dibawa kemana. Itu sih yang menurutku penting," lanjut Reza.

Tentang regulasi, kata Reza, yang menjadi perhatian insan perfilman saat ini adalah pembagian layar atau jumlah penayangan film di tiap bioskop. Saat ini pemerintah memberlakukan 60 persen layar untuk film nasional sementara sisanya untuk film asing.

Namun, dari pembagian layar itu tidak semua film mendapatkan jumlah layar yang sama, ada yang hanya mendapat 10 layar, sementara film lain diberikan 110 layar. 

Menurut pemeran Ale dalam film Critical Eleven ini pemerintah perlu turun taangan agar semua film nasional mendapatkan jumlah layar yang sama tanpa melihat apakah film yang akan ditayangkan lebih kepada produksi art house, komersil, atau alternatif.

"Kayanya sekarang sudah saatnya melihat pasar dengan memberi porsi yang sama dulu. Kalau memang tidak berhasil karena promonya enggak ada atau apa itu bisa dikembalikan lagi ke pembuat film dan masyarakatnya. Kalau berhasil berarti bener dong regulasinya," kata Reza.

Reza mencontohkan film jenis art house misalnya sering mendapatkan layar yang sedikit di dalam negeri padahal jumlah penontonnya termasuk yang paling banyak. Dia mengatakan ketika film seperti Banda, Ziarah, atau Istirahatlah Kata-kata tak mendapat porsi yang sama dengan film lainnya, film ini justru meraih banyak apresiasi dunia internasional. 

"Mungkin balik lagi mungkin memang strategi marketingnya, strategi promosi yang tidak segencar film yang box office material yang punya strategi promo yang besar tapi mungkin kalau dikasih kesempatan yang baik bisa ada perubahan," jelasnya.




(MEL)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA