Dewi Irawan Anggap Tuntutan Hukuman untuk Tio Pakusadewo Berlebihan

Purba Wirastama    •    10 Juni 2018 15:50 WIB
selebritas dan narkoba
Dewi Irawan Anggap Tuntutan Hukuman untuk Tio Pakusadewo Berlebihan
Tersangka kasus narkoba yang juga aktor senior Tio Pakusadewo (tengah) dihadirkan saat rilis kasus narkoba, di Polda Metro Jaya, Jakarta. Foto: MI/Mohamad Irfan.

Jakarta: Aktris Dewi Irawan menganggap tuntutan hukuman dari Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap Tio Pakusadewo, terkait kasus penyalahgunaan narkoba, terlalu berlebihan. Tio dituntut enam tahun penjara dan denda Rp800 juta subsider enam bulan.

"(Saya) kecewa banget, secara manusiawi," kata Dewi usai bertemu Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Sulistiandriatmoko di kantor BNN Cawang, Jakarta Timur, Minggu, 10 Juni 2018.

"Semoga hakimnya juga masih punya hati nurani – saya rasa sih, bisa tahu lah apa maksudnya si JPU sampai menuntut segitu tinggi. Gila-gilaan, apa maksudnya?" lanjutnya.

Tio dituntut oleh JPU Yaman dalam sidang tuntutan pada Senin pekan lalu, setelah sidang sempat ditunda dua kali (21 Mei dan 29 Mei) karena berkas tuntutan belum siap. Pada akhir Desember 2017, dia ditangkap di rumahnya di kawasan Ampera dan kedapatan memiliki narkoba jenis sabu seberat total 1,06 gram.

Tuntutan untuk Tio terbilang lebih berat dibanding artis Fachri Albar dan Jennifer Dunn. Fachri dituntut sembilan bulan rehabilitasi atas kepemilikan sabu 0,8 gram, dumolid 13 tablet, calmlet 1 butir, dan alat hisap sabu. Jennifer, yang telah tiga kali terjerat kasus hukum serupa, dituntut delapan bulan penjara karena memiliki sabu 0,6 gram.

Sementara itu, Raditya Argiebie, rekan Jennifer yang turut ditangkap bersamanya, dituntut lima tahun penjara atas kepemilikan sabu 0,016 gram.

Menurut Dewi, penyalahguna narkoba seharusnya diarahkan untuk rehabilitasi. Apalagi, kata Dewi, asesmen dari BNN menyatakan Tio masuk ke kriteria diagnosis F-15, yaitu gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lainnya.

"Kalau gangguan mental dan perilaku, tetapi dimasukkan penjara, bukankah akan semakin hancur? Nah, ini kenapa dioper lagi ke rutan? Kalau dia enggak kompeten sebagai tempat rehabilitasi, mestinya merujuk ke tempat rehab yang lebih bagus lagi. Itu sudah dijalani oleh Tio selama tiga bulan," ungkap Dewi.

Setelah ditangkap, Tio memang sempat menjalani rehabiltasi di RS Selapa Polri, Jakarta Selatan, sejak 28 Desember 2017. Rehabilitasi dilakukan Polda Metro Jaya setelah mendapat persetujuan dari BNN. Namun saat itu, proses hukum terhadap Tio tetap berjalan.
 


(DEV)