Riwayat Sakit Bondan Winarno Sejak 2005

Purba Wirastama, Cecylia Rura    •    29 November 2017 13:44 WIB
bondan winarno
Riwayat Sakit Bondan Winarno Sejak 2005
Bondan Winarno (Foto: MI/Ramdani)

Jakarta: Penulis dan ikon wisata kuliner Bondan Haryo Winarno meninggal dunia pagi ini sekitar pukul 09.05 WIB di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta Barat. Melalui rekan Harry Nazarudin di grup milis Jalansutra, Bondan sempat menuliskan riwayat sakit yang dia hadapi sejak 2005.

Jalansutra adalah grup diskusi di milis Yahoo yang diinisiasi oleh Bondan setelah dia aktif menulis kolom mingguan di dua media massa sejak 2000. Pada 6 Oktober 2017, Harry, salah satu moderator grup, mengirim tulisan terusan dari Bondan.

"Keluarga JS-ku, mohon maaf bila selama beberapa hari ini saya menyembunyikan sebuah rahasia besar dari Anda semua," tulisnya mengawali cerita.

Dalam 16 poin, Bondan merinci riwayat sakit yang belum dia ketahui pasti selama 12 tahun terakhir. Awalnya dari gejala ba'al atau kesemutan saat naik pesawat dari Singapura ke Jakarta pada 2005.

Dia menemui beberapa dokter di rumah sakit berbeda, tetapi menjumpai diagnosa berbeda, antara masalah jantung atau bukan jantung. Karena bimbang, Bondan memutuskan tidak menjalani katerisasi dan hanya meminum pil pengencer darah Plavix untuk menghindari penyumbatan arteri.

Setahun setelah minum Plavix, dia nyaris pingsan di rumah seorang teman setelah minum wine dan makan steak daging. Menurut diagnosa dokter, tekanan darah Bondan terlalu rendah karena terlalu encer. Setelah itu, dia menjalani pemeriksaan rutin tahunan, tetapi juga tidak ada diagonosa penyakit jantung.

Pada 2015, saat cek medis di Malaysia, dr. Soo menemukan ada penggembungan atau dilatasi pada aorta Bondan. Dalam bahasa medis, aorta aneurysm. Penyakit ini disebut seperti bom waktu karena bisa mematikan kapan saja. Operasi dilatasi diperkirakan bisa habis biaya lebih dari Rp600 juta.

Dalam kurun Juli hingga September 2017, atas saran dr. Sindhi, Bondan menjalani pemeriksaan dengan ahli aneurisma dr. Iwan Dakota.

Setelah melihat hasil medis 2015 dari Malaysia dan memeriksa Bondan, dr. Iwan menemukan masalah lain, yaitu katup aorta bocor. Tiga tahap pemeriksaan di RS Siloam Karawaci dan RS PJN Harapan Kita mengonfirmasi hal ini.

Bondan lalu ditangani oleh tim bedah dr. Iwan, dr. Dicky Alighiery Hartono, ahli bedah vaskular lulusan sekolah medis di Korea Selatan. dr. Dicky menyarankan operasi dilakukan segera karena Bondan sedang dalam kondisi bugar.

"Ini adalah pembedahan paling berat, rumit, dan sulit, berlangsung 5-6 jam," tulis Bondan.

Pada Rabu pagi, 27 September 2017, Bondan menjalani dua operasi sekaligus, yaitu penggantian katup aorta dan penggantian aorta yang mengalami dilatasi. Operasi berlangsung lima jam dan dinyatakan berhasil.

Bondan menyebut bahwa operasi besar semacam ini punya dua resiko komplikasi, yaitu pendarahan atau denyut jantung tidak beraturan (aritmia). Dia mengalami yang kedua dengan gejala kejang-kejang saat tidur pada Sabtu dini hari.

Untuk masalah aritmia, Bondan ditangani dr. Dicky Hanafy. Alat bantu Temporary PaceMaker (TPM) dipasang, tetapi tidak ada perkembangan baik setelah 72 jam.

Pada Selasa 3 Oktober, diputuskan untuk memasang TPM lagi di pangkal paha. Bondan mengaku ketakutan. Namun malam kemudian, tiba-tiba denyut jantung Bondan berirama normal kembali.

"Operasi dibatalkan. Saya lega setengah mati," ungkapnya.

Setelah itu dia menuliskan pesan rinci mengenai sakit ini kepada Harry Jalansutra, disertai penjelasan bahwa dia baru dapat dijenguk sedikit orang saja pada Minggu 8 Oktober. Bondan menyiapkan tempat di lobi Wisma Fits PJN Harapan Kita.

Pada 13 November, akun Twitter @PakBondan membalas kicauan @sloppypoppy, yang menyebut bahwa Bondan menggunakan kursi roda saat hendak naik pesawat ke Jakarta. Balasan Bondan, dia memang sedang sakit sejak operasi enam pekan sebelumnya. Dia sempat menulis beberapa kicauan lagi hingga 21 November.

Pagi ini, Rabu 29 November, Bondan meninggal. Lewat grup Jalansutra, Harry memberi kabar bahwa Bondan meninggal saat sedang menjalani operasi kedua karena infeksi.

 Eliseo Raket, anak kedua Bondan, membenarkan kabar ini.

"Betul, jadi dia operasinya dua hal, satu aneurisma, yang satu lagi aorta. Tapi detail ilmiahnya agak sulit buat saya," kata Elisio saat ditemui Metrotvnews.com di PJN Harapan Kita.

"Tapi baik-baik saja. Dia bahkan sudah sempat pulang ke rumahnya di Bali setelah selesai operasi pertama di sini. Keluar (dari RS) ke Bali, pulang lagi ke rumahnya, lalu kali ini (operasi) karena ada infeksi," lanjut Elisio.

Bondan akan disemayamkan di Sentul, Bogor, pada hari ini juga. Jenazahnya akan dikremasi oleh pihak keluarga atas permintaan Bondan sendiri. Bondan meninggal dalam usia 67.



 


(ELG)