Kiprah Sang Penari Muda

Pelangi Karismakristi    •    02 November 2016 18:54 WIB
galeriindonesiakaya
Kiprah Sang Penari Muda
Yovie Widianto berbincang dengan Rosmala Sari Dewi dan Asmara Abigail. Foto: Dok. Metro TV

Metrotvnews.com, Jakarta: Tidak banyak yang mengetahui sepak terjang dunia seni tari di Indonesia, faktor ini yang membuat seniman tari sedikit dikenal masyarakat Tanah Air. Para penari Indonesia justru banyak terkenal di negeri orang.

Meskipun demikian, dua perempuan muda ini selalu berusaha mempertahankan eksistensi dunia seni tari Indonesia sebagai wujud regenerasi. Mereka adalah Rosmala Sari Dewi dan Asmara Abigail.

Rosmala Sari Dewi atau kerap disapa Mala ini adalah seorang penari tradisional sekaligus koreografer yang telah aktif menari semenjak dirinya masih berusia 6 tahun. Ia mengatakan jika ingin menjadi penari yang baik caranya adalah dengan percaya diri dan terus berlatih dan sebab menurutnya tak ada yang tak mungkin selama seorang penari mau belajar.

"Sebenarnya bisa dilihat dari diri seorang penari, kalau mau berlatih tidak ada yang tidak mungkin, karena dalam menari itu tidak ada patokan, gerakan tidak ada yang salah. Kalau menari itu dari rasa, jangan dari pikiran, itu agar gerakan penari terlihat halus," ujar pemilik sanggar Gandrung Dance Studio yang didirikannya sejak 2008. 

Perempuan berparas ayu ini juga mengajak anak muda untuk belajar menari tradisional. Sebab dari situ lah, seorang penari akan bisa mengenalkan budaya bangsanya.

"Semua tarian selama remaja itu semua sah untuk dicoba, tapi bagiku tetap tradisional. Karena kita bisa mengenal dan pergi untuk misi budaya, jadi kita harus bangga dengan tarian tradisional," kata jebolan dari sekolah tari di International Student Visa Program di Broadway Dance Center New York, Amerika Serikat.

Ke depan dirinya berharap agar pemerintah lebih serius memperhatikan seni tari Indonesia. Lebih dari itu, ia pun ingin pemerintah bisa memberikan wadah besar bagi seniman tari agar bisa menggelar pertunjukan tarian daerahnya.   

"Aku ingin pemerintah untuk segera membuat panggung pertunjukan khusus untuk seniman dari berbagai daerah untuk pertunjukan secara cuma-cuma. Seperti broadway kan sudah tetap panggungnnya ini khusus untuk musikal, dan aku ingin ada panggung khusus untuk tarian. Indonesia harus punya (semacam broadway," tutur Mala.

Berbeda lagi denga Asmara Abigail, perempuan berkulit sawo matang ini justru memilih mendalami tarian Flamenco, Tango dan Pole Dance. Kegemaran menarinya dimulai sejak kecil yang gemar menonton film yang terdapat unsur tariannya, ditambah lagi ibunya adalah seorang penari Bali. 

"Aku sempat tinggal di Bali internship, karena dulu sempat kerja di bagian fashion. Tapi karena merasa bosan sama kerjaan di kantor, terus aku cari tempat komunitas tari tanggo. Kebetulan di Bali ada, jadi sepulang kantor selalu nari," kenang perempuan yang kerap disapa Abi ini.

Berbekal beberapa tarian yang dikuasainya itu lah, dirinya kemudian didapuk untuk memerankan Asih dalam film bisu hitam putih arahan Garin Nugroho yang berjudul Setan Jawa. Film yang dibuat Garin untuk memperingati 35 tahun kariernya di industri film ini mengangkat mitologi Jawa dan menyesuaikannya dalam film tari kontemporer.

Abi di dalam film tersebut berperan sebagai Asih, seorang putri keluarga ningrat yang jatuh hati pada seorang pria miskin bernama Seto. Agar bisa mempersunting Asih, Seto pun membuat perjanjian dengan Pesugihan Kandang Bubrah. Setelah tahu ada perjanjian antara suaminya dengan setan, Asih lalu menemui setan untuk menyelamatkan nasib sang suami.

Menjalani perannya sebagai Asih menjadi tantangan tersendiri untuknya. Bahkan ia harus berlatih bersama maestro tari di Solo selama dua pekan untuk mendalaminya, dan terbukti ia mampu beradu peran dengan baik.

Ke depan, dirinya berharap agar penari Tanah Air lebih dikenal masyarakat. Ia menyayangkan, banyak penari Indonesia yang terkenal di negeri orang, tapi justru di negaranya sendiri malah sedikit yang tahu.

"Seperti di Setan Jawa, saat workshop penari itu ada yang tidak lengkap. Mereka ada di mana-mana, waktu syuting baru ngumpul semua dan mereka itu diundang oleh negara lain. Tapi begitu mereka di sini lebih banyak yang tidak tahu. Dan ini crosscheck juga kalau ada media yang disediakan pemerintah untuk mereka perform, juga akan banyak yang tahu," tutup perempuan yang baru saja menamatkan studinya di Italia ini.

Ingin menyaksikan aksi mereka menari dan mau tahu kelanjutan ceritanya? Simak perbincangan Yovie Widianto bersama Rosmala Sari Dewi dan Asmara Abigail dalam IDEnesia, hanya di Metro TV pada Kamis (3/11/2016), pukul 22.30 WIB. Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya. 


(ROS)