Dongeng Jazirah Si Teluk Bayur, Buku Biografi Ernie Djohan Karya Tamara Geraldine

Cecylia Rura    •    23 November 2017 20:28 WIB
ernie djohan
Dongeng Jazirah Si Teluk Bayur, Buku Biografi Ernie Djohan Karya Tamara Geraldine
Ernie Djohan dan Tamara Geraldine (Foto: Metrotvnews/Cecylia)

Jakarta: Tak hanya konser tunggal, tahun ini Ernie Djohan mendapatkan bonus buku biografi dari seorang sahabat, Tamara Geraldine.

Mengambil gaya penulisan cerita pendek berdiksi ringan, lebih dari tiga kisah dikemas dalam sebuah buku hadir sebagai bacaan baru di Indonesia.

Melalui keterangan resmi yang diterima Metrotvnews.com, Kamis, 23 November 2017, karya ini bukan hanya cerita milik Ernie Djohan, melainkan orang banyak. Cerita dan masalah hidup manusia yang hampir sama. Tentang bagaimana reaksi pelakunya dalam bertindak, itulah yang di ujung nanti akan menjadi pembeda hasil akhirnya.

Dalam penulisan buku biografinya ini, Ernie Djohan menggandeng Tamara Geraldine untuk menata cerita 66 tahun perjalanan hidup dan 55 tahun berkarya bagi bangsa dalam kiprahnya di dunia musik.

Meskipun ketika dijalani, tak ada kesulitan yang berarti hingga akhir proses kreatif kepenulisan buku ini. Istilah “dongeng” menjadi salah satu diksi yang digunakan untuk judul biografi Ernie Djohan.

Dongeng adalah bentuk sastra lama yang bercerita tentang kejadian luar biasa yang penuh khayalan atau imajinatif, mengutip dari laman Wikipedia.

Segala sesuatu yang tidak terlihat, termasuk Tuhan tentu adalah soal cerita yang dasarnya hanyalah keimanan. Dasar dari berharap dan bukti dari yang tak terlihat. Jika dongeng dianggap tidak benar-benar terjadi karena tidak semua mengimani, tentu sekali lagi itu berpulang kepada keyakinan masing-masing.

"Saya mengambil kata 'dongeng' karena semua cerita di dalam buku ini adalah bagaimana seorang Ernie Djohan meyakini, yang terjadi hari ini adalah dari serpihan supra natural Sang Pencipta yang mungkin buat orang lain sulit untuk bisa dipercaya," ungkap Tamara.

Sementara jazirah atau semenanjung dan teluk, merupakan bagian dari daratan atau perairan yang menjorok dari posisi asalnya.

"Teluk Bayur di sini tentu sudah sangat jelas adalah bagaimana saya membuat perumpamaan seorang Ernie Djohan yang hingga saat ini masih memiliki 'password' 'Teluk Bayur' demikian pula sebaliknya, yang membedakan adalah arah. Teluk menjorok ke daratan, semenanjung atau jazirah menjorok ke arah laut."

“Cerita-cerita Ernie Djohan, untuk semua yang membaca, adalah seperti jembatan yang menjorok ke arah teluk yang 'dipatah' oleh luasnya air laut. Banyak tips juga gelisah, sudah saatnya semua sektor terbang 'go international' termasuk juga penyanyi-penyanyi muda yang saat ini, 'riders'-nya untuk ukuran negara berkembang seperti Indonesia, sudah tak kalah dengan bintang-bintang manca negara,” tambah Tamara.

Dongeng biasanya terbagi menjadi tiga. Dongeng pendahuluan, peristiwa dan penutup. Maka buku ini juga terbagi atas tiga bagian, “Dongeng Pembuka”, Dongeng Penggembira” dan “Dongeng Penutup.”

“Ini adalah bagaimana saya melihat seorang Ernie Djohan sebagai artis yang juga diperkenankan melewati tiga zaman. Dongeng penggembira adalah bagian di mana pembaca bisa menemukan begitu banyak hal berguna dan memutuskan untuk tidak pernah membuang atau bahkan meminjamkan buku ini kepada siapa-siapa,” sambung Tamara.

Jika harus diberi kategori, mungkin ini jenis dongeng cerita jenaka. Bahkan Tamara sebagai penulisnya kadang tersenyum lebar membaca setiap kalimat yang harus ditulis Ernie. Yang keluar dari bibir Mama’ Nie, demikian Tamara memanggil seorang Ernie Djohan, yang kerap dipakainya menghibur di entah berapa banyak panggung.

Jika kalimat penutup yang paling sering digunakan dalam dongeng, adalah "Dan mereka hidup bahagia selamanya” di buku ini akan terbaca: "Jika semua khayalan, mengapa hari ini ada? Maka biarlah semua yang memiliki napas, bernyanyi!"

“Buku biografi bertajuk Ernie Djohan Dongeng Jazirah Si Teluk Bayur dengan cetakan pertama sebanyak 300 kopi edisi terbatas telah disiapkan untuk menyambut gelaran istimewa Konser Ernie Djohan 55 Tahun Berkarya Bagi Bangsa, dari total 2000 kopi,” kata Yakob Arfin dari penerbit Diksi Tee.

"Teluk Bayur sebagai pelabuhan era Belanda memang sangat lekat dengan sosok Ernie Djohan. Sebuah judul lagu yang sebelumnya hanya sebagai pelengkap dari sebuah album lagu ternyata justru melejit dan tetap eksis hingga hari ini," kata Yakob Arfin lagi ketika ditanya apa alasan judul buku biografi yang diterbitkan oleh Diksi Tee.



 
(ELG)