Para Pejuang Seni Sumatera

Pelangi Karismakristi    •    10 Mei 2017 16:51 WIB
galeriindonesiakaya
Para Pejuang Seni Sumatera
Yovie Widianto bersama Rio Silaen, Marzuki Ali dan Syofyani dalam program IDEnesia. Foto: Dok. Metro TV

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia terkenal dengan budayanya yang beraneka ragam. Di tengah gempuran zaman modern, ternyata masih ada orang-orang yang peduli untuk melestarikan budayanya dan mengajak menularkannya kepada para generasi bangsa.

Seperti halnya yang dilakukan oleh tiga tokoh berdarah Sumatera ini. Mereka adalah Rio Silaen yang merupakan pegiat seni batak, Marzuki Ali yang mengajar tari Aceh di Walet Dance Company dan juga Syofyani yang segaligus pemilik Syofyani Foundation.

Ketiga tokoh ini begitu getol melestarikan budayanya masing-masing. Tujuannya adalah untuk mengenalkan budayanya kepada masyarakat di Indonesia dan juga mancanegara.

Tak heran juga mereka seringkali diundang untuk pentas membawakan seni tari asli Indonesia di berbagai negara dunia dan mendapatkan sambutan yang baik dari warga.

"Saya mengembangkan seni budaya Sumatera Barat untuk dikenal masyarakat Indonesia. Sebelumnya bapak saya juga pimpinan silat, kakek juga. Sejak itu saya tertarik, dulu penarinya laki-laki dan mereka didandani seperti perempuan. Kemudian saya ingin mencoba supaya perempuan juga bisa ikut menari," tutur Syofyani di Galeri Indonesia Kaya, Lantai 8 West Mal Grand Indonesia Shopping Town.

Sama halnya dengan pendiri sanggar tari Aceh, Marzuki Ali. Meskipun usianya sudah tak muda lagi, namun ia masih memiliki suara emas yang pas untuk mengiringi tari Saman khas kota Serambi Mekah itu.

"Saya semangat sekali untuk mengembangkan seni Aceh dari kecil, mungkin itu sudah bakat alam. Saya ingin bagaimana caranya seni budaya Aceh tidak hanya dicintai masyarakat lokal, tapi juga nasional dan internasional. Di bagian dunia mana pun saya sudah menari, mereka kagum dan saya bangga sebagai anak Indonesia," ujar Marzuki.

Ada juga Rio Silaen yang juga pendiri sekaligus pimpinan sekolah musik Voice of Indonesia ini. Rio awalnya tak ada misi untuk akhirnya mengembangkan budaya khas tanah nenek moyangnya, batak.

Rio bercerita saat tampil bersama Voice of Indonesia 2012 silam di Australia, dia membawakan lagu Butet. Penampilannya ini menuai pujian dari seorang warga Negeri Kangguru, namun orang tersebut malah mengira lagu Butet adalah tembang dari Mandarin.

"Dia tanya, kenapa dari Indonesia tapi menyanyi lagu Mandarin? Padahal saya bawakan lagu Butet. Ini kaya wake up call buat saya, karena waktu itu masih banyak orang mengira budaya kiya dikenal sebagai budaya bangsa lain. Saat itu punya visi balik ke Indonesia dan menyerukan ke Voice of Indonesia, sata serukan ke bangsa sendiri. Dan kebetulan saya saya seorang batak, saya harus kembali punya visi untuk menyuarakan budaya batak," papar pria kelahiran 24 Januari 1979 ini.

Apakah Anda juga peduli dengan budaya daerah Anda sendiri? Yuk, simak perbincangan Yovie Widianto bersama ketiga tokoh tersebut dalam IDEnesia Metro TV, Kamis 11 Mei 2017, pukul 21.05 WIB. Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan mem-follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya. 


(ROS)

Agnez Mo dan Jalan Menuju Grammy

Agnez Mo dan Jalan Menuju Grammy

3 days Ago

Impian meraih Grammy merasuk ke nadi musisi dari seluruh dunia, tidak terkecuali Agnez Mo. Bint…

BERITA LAINNYA