Roro Fitria, Ritual Mistis dan Kariernya di Luar Seni Peran

Cecylia Rura    •    15 Februari 2018 12:51 WIB
roro fitria
Roro Fitria, Ritual Mistis dan Kariernya di Luar Seni Peran
Roro Fitria (Foto: instagram)

Jakarta: Berselang satu hari dengan Fachri Albar, artis Roro Fitria diciduk pihak kepolisian atas kepemilikan narkoba jenis sabu seberat dua gram. Roro dibekuk di kediamannya di Patio Regency, Ragunan, Jakarta Selatan.

Sebelum menangkap Roro, pihak kepolisian lebih dulu membekuk fotografer Wawan Hartawan di samping showroom Suzuki di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat pada Rabu, 14 Februari 2018. Kabar yang beredar menyebutkan artis bernama lengkap Raden Roro Fitria Nur Utami tersebut memesan sabu kepada Wawan sehari sebelum ditangkap pada Selasa, 13 Februari 2018.

Peristiwa penangkapan Roro mengingatkan publik akan pertanyaan Roro Fitria yang sempat dilontarkan kepada pihak kepala BNN Budi Waseso terkait hukuman terhadap figur publik yang tersandung kasus narkoba dua tahun lalu. Tak dinyana, artis yang juga merambah dunia politik tersebut kini ditangkap atas kasus serupa.

Roro yang mengawali karier di industri hiburan sebagai aktris, model, pembawa acara, sekaligus disjoki ini lebih dikenal lewat pemberitaan kabar sensasional dengan ritual mistis dan kehidupannya yang mendadak melejit bak sosialita.

Catatan filmografi Roro Fitria terbilang tak terlalu cemerlang. Sepanjang karier di industri perfilman, Roro telah membintangi dua judul film yakni Bangkitnya Suster Gepeng dan Street Society.

Pada 2012, Roro mengawali debut akting di layar lebar lewat film bergenre horor Bangkitnya Suster Gepeng. Artis kelahiran Yogyakarta itu berperan sebagai suster di sebuah rumah sakit zaman penjajahan Jepang yang kemudian tewas karena kepalanya terjepit lift.

Dua tahun berselang pada 2014 Roro bermain dalam Street Society di bawah arahan sutradara Awi Suryadi, film yang didistribusi Erwis Pictures. Ia tak mendapat porsi banyak seperti film terdahulunya dan hanya menjadi cameo dalam film yang mendapuk Marcel Chandrawinata dan Chelsea Islan sebagai pemeran utama tersebut.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Roro sempat bermain di beberapa judul Film Televisi Indonesia (FTV) seperti Sang Dewi, Cintamu, Cintaku & Dia dan Pacarku Tukang Supir.

Wajahnya pun tampak sering berseliweran di antara beberapa judul sinetron, sebut saja Lupa-Lupa Lali (2009), Betawi Hills (2010), Sketsa Tawa (2010), Islam KTP (2010-2011) dan Anugerah (2011).

Di luar dunia seni peran, Roro juga sempat menelurkan beberapa singel berjudul Bawa Aku Melayang, Jedag Jedug dan Culik Aku. Ia pun sempat berprofesi sebagai presenter untuk beberapa acara televisi.

Gaung Roro dalam dunia seni peran memang tak terlalu kencang lantaran lebih banyak kasus sensasional yang banjir di pemberitaan media. Hal yang paling ikonik dari sosok artis berusia 30 tahun tersebut adalah ritual mistis dan kehidupannya yang berubah bak sosialita.


 


(ELG)