Kisah Eddy Silitonga dan Pasar Mede

Agustinus Shindu Alpito    •    25 Agustus 2016 15:41 WIB
obituari
Kisah Eddy Silitonga dan Pasar Mede
Eddy Silitonga (Foto: Antara/M. Adimaja)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyanyi legendaris Eddy Silitonga tutup usia pada Kamis, 25 Agustus 2016. Bagi mereka penggemar musik pop era 1980-an, tentu nama Eddy sangat melekat. Dia membawakan lagu-lagu cinta dengan karakter vokal yang khas.

“Eddy salah satu penyanyi yang lengkap kemampuan menyanyinya, beliau pernah memenangkan penghargaan seriosa di Medan, pernah mendapat penghargaan sekitar pada tahun 1985 untuk lagu-lagu Melayu. Menjadi juara dalam lagu pop nasional. Lagu hit dia pernah ada yang berbahasa Jawa, berjudul Romo Ono Maling. Kehilangan Eddy adalah kehilangan besar di industri musik nasional,” kata pengamat musik Bens Leo, saat dihubungi Metrotvnews.com, Kamis (25/8/2016).

Lepas dari soal Eddy dan musik, pria kelahiran 17 November 1960 itu dikenal sebagai pribadi yang rendah hati.

Bens Leo mengenang Eddy sebagai sosok yang bersahaja dalam kesehariannya.

"Saya bertemu dia dua kali di Pasar Mede, Jakarta Selatan. Dia tinggal di daerah Fatmawati. Saya bertemu dia di pasar dalam posisi dia seperti orang biasa yang belanja di pasar umum. Kejadian itu belum lama, tahun lalu pun sempat bertemu Eddy di pasar itu. Di pasar itu pun para pedagang tahu bahwa Eddy memang sering ke situ," kisah Bens Leo.

Sepengetahuan Bens Leo, Eddy jarang menceritakan masalah pribadinya, termasuk kesehatannya kepada rekan-rekan sesama musisi. Hal itu membuat teman-teman Eddy kaget ketika mendengar kabar sang penyanyi bertalenta itu dirawat di rumah sakit.

“Satu yang kawan-kawannya sayangkan, Eddy orang yang tertutup. Dia tidak menceritakan penyakitnya karena tidak ingin menyusahkan orang lain. Sebetulnya kalangan artis kompak, sebenarnya jika Eddy bercerita teman-temannya tentu akan saling membantu. Jika ditanya kesehatannya, dia mengaku baik-baik saja, sampai suatu saat ada kabar dari anaknya dia sakit dan dirawat," ujarnya.

Eddy memang sempat dirawat di Rumah Sakit Fatmawati dan mengalami fase kritis. Meski sempat menunjukkan kemajuan, sayangnya nyawa Eddy tak mampu diselamatkan.

“Satu minggu lalu saya besuk Eddy di RS Fatmawati, kebetulan istri saya dokter di sana. Saya ajak Eddy bercanda, saya bilang, ‘Bang Eddy, saya Bens Leo, kapan-kapan bertemu lagi ya di Pasar Mede.’ Dia mengeluarkan air mata. Dokter spesialis menganggap Bang Eddy sudah melewati masa kritisnya karena bisa merespons. Sebelumnya, dia kritis dan tidak bisa merespons. Begitu saya membisikan itu dia nangis, dokter semakin yakin dia sudah membaik,” kenang Bens Leo.

Selain dikenal menyanyikan tembang cinta, Eddy juga pernah membawakan lagu pop Jawa. Salah satunya dalam lagu berjudul Romo Ono Maling. Kepiawaian Eddy membawakan beberapa jenis lagu membuat dia semakin dikenal sebagai musisi yang spesial.

Jenazah Eddy akan dimakamkan di TPU Kampung Kandang, pada hari Sabtu (27/8/2016). Saat ini jenazah disemayamkan di Rumah Duka Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.
 


(ELG)