Jeremy Thomas Mengaku Tak Tahan dengan Sistem Kerja Sinetron

Purba Wirastama    •    06 Mei 2018 18:34 WIB
selebritas
Jeremy Thomas Mengaku Tak Tahan dengan Sistem Kerja Sinetron
(Foto: Purba Wirastama)

Jakarta: Sebelum fokus ke film layar lebar, Jeremy Thomas adalah aktor kelahiran 1970 yang tumbuh lewat sinetron sejak 1990-an, seperti Tersanjung atau Montir-montir Cantik. Namun belakangan, dia memilih berhenti dari panggung layar kaca karena merasa sistem kerja sinetron sekarang begitu instan dan minim persiapan.

"Fondasi akting yang saya bangun puluhan tahun di sinetron, membuat saya percaya bahwa kesuksesan saya menjadi aktor layar kaca itu didukung oleh proses persiapan dan produksi yang baik," kata Jeremy kepada Medcom.id saat ditemui di kawasan Kembangan, Jakarta Barat belum lama ini.

Menurut Jeremy, produksi sinetron terdahulu punya persiapan lebih matang dibanding sekarang, mulai dari praproduksi hingga pascaproduksi. Untuk satu peran misalnya, dia telah menerima naskah tiga bulan sebelum syuting. Dia melihat alur kerja rapi di balik layar semacam itu masih ada di perfilman layar lebar.

Hingga 2010-an, suami model Ina Indayanti ini masih terlibat sebagai aktor dalam sejumlah sinetron. Ritme kerja dirasa berubah sangat drastis. Jeremy bercerita bahwa dia pernah dikirimi pesan teks yang meminta supaya bergabung ke proyek sinetron, tetapi dengan agenda syuting dua hari berikutnya.

"Itu tidak sesuai dengan cara saya bekerja karena saya tidak bisa akting seadanya. Semua harus diresapi. Bukan mencoba sok idealis atau apa, tetapi memang faktanya enggak begitu. Karena saya sukses dengan rumus, bekerja itu harus betul-betul dipahami dulu," ungkapnya.

"Sinetron sekarang, bahasa slangnya, fastfood. Cepat dibikin, cepat dijual, cepat berubah. Saya merasa itu sudah tidak cocok lagi dengan gaya akting atau ritme kerja saya. Mungkin buat anak-anak muda cocok," imbuhnya.

Pria usia 47 ini menyebut bahwa perubahan ini berakar dari cara televisi menggunakan sistem rating untuk mengevaluasi suatu tayangan atau pertunjukan. Sistem rating ini membuat kanal-kanal televisi mengatur pakem yang membatasi kreativitas dan pengembangan cerita.

"(Sinetron) sangat tidak bisa diprediksi, sangat tidak pasti. Tidak ada satu alur cerita yang kokoh, semua bisa berubah di episode berapa, menit berapa, detik berapa. Kenapa?"

"Rating jadi 'Tuhan' di situ. Kita tidak tahu apakah rating itu akurat atau tidak, sah atau tidak. Untuk bioskop, kuantifikasi sukses adalah penonton. Kalau penonton suka dan ramai, nanti akan terlihat dan tercermin. Gampang sekali melakukan kuantifikasi. Dengan ritme kerja di film, saya rasa sekarang lebih cocok buat saya di film," tuturnya.

Jeremy telah bermain di sedikitnya dua film sejak 2015, yaitu Tiger Boy dan Ten: The Secret Mission. Dua film terbarunya adalah 13 The Haunted dari produser Raffi Ahmad dan sutradara Rudi Soedjarwo serta Sabrina garapan Rocky Soraya.


 


(DEV)