Bondan Winarno Tak Sekadar Populer dengan 'Maknyuss'

Cecylia Rura    •    29 November 2017 22:11 WIB
bondan winarno
Bondan Winarno Tak Sekadar Populer dengan 'Maknyuss'
Bondan Winarno (Foto: MI)

Jakarta: Kota Pahlawan, Surabaya tak hanya melahirkan figur pembela Tanah Air, melainkan sosok pakar kuliner Nusantara, Bondan Haryo Winarno.

Pria yang akrab disapa Pak Bondan ini mulai didedungkan namanya sejak membawakan acara Wisata Kuliner di stasiun Trans TV, sesaat setelah menuntaskan kerjasamanya dengan PT Unilever, melahirkan program Bango Cita Rasa pada 2005.

Dalam acara tersebut, Pak Bondan menyuarakan jargon "Maknyuss" yang terinspirasi dari Umar Karyam, sosiolog sekaligus guru besar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, usai menyantap sajian lezat.

Sejak saat itu, Bondan dikenal dengan ciri khasnya yang kerap kali melontarkan kata "Maknyuss" sebelum dan sesudah menyantap hidangan dalam acara Wisata Kuliner.

Rupanya, di balik popularitas Pak Bondan di bidang kuliner, pria yang berpulang pada usia 67 tahun tersebut sempat menjajal dunia literasi dan jurnalistik.

Bondan Winarno sempat menulis beberapa judul buku di antaranya Satu abad Kartini, 1879-1979: bunga rampai karangan mengenai Kartini (editor) (1979), Neraca tanah air: rekaman lingkungan hidup (1984), Cafe Opera: kumpulan cerita pendek (1986), Seratus kiat, jurus sukses kaum bisnis (1986), Tantangan jadi peluang: kegagalan dan sukses Pembangunan Jaya selama 25 tahun (1987), Kiat menjadi konglomerat: Pengalaman Grup Jaya (1996).

Manajemen transformasi BUMN: pengalaman PT Indosat (1996), BreX: sebungkah emas di kaki pelangi (1997), Kiat Bondan di Kontan: berpikir strategis di saat krisis (1998), Jalansutra: kumpulan kolom tentang jalan-jalan dan makan-makan di Suara Pembaruan Minggu dan Kompas Cyber Media (2003), Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (2003), Belajar tiada henti: biografi Cacuk Sudarijanto ditulis bersama Bondan Winarno (2004), Pada sebuah beranda: 25 cerpen (2005), Puing: sebuah novel kolaborasi (2005), Rumah Iklan (2008), 100 Maknyus! Makanan Tradisional Indonesia (2013) dan Petang Panjang di Central Park (2016).

Memilih bidang Arsitektur rupanya tak menjadikan sosok Ayah beranak tiga ini meneruskan profesinya di bidang terkait. Sejak kecil Pak Bondan sudah menyukai dunia literasi. Dia rajin menulis di beberapa rubrik media seperti Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Tempo, Mutiara, hingga Asian Wall Street Journal.

Selain itu, Pak Bondan juga rajin menulis di beberapa platform media, seperti blog catatanjalansutra.blogspot.co.id, tempat sang pakar membagikan pengalamannya dalam menjelajahi dunia perkulineran Nusantara. Dia juga sempat aktif di media Twitter, ketika detik-detik terakhir sebelum hari ini, akun Twitter resmi Pak Bondan dengan jumlah pengikut kurang lebih mencapai satu juta followers masih aktif berinteraksi dengan kawan sejawat pada 21 November 2017.

Catatan riwayat Pak Bondan juga tersusun rapi di situs Wikipedia. Yang menarik, Pak Bondan sempat mencicipi dapur media Tempo sebagai pengasuh rubrik Kiat Tempo di tahun 1984. Kemudian, setahun setelahnya dia menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Swa. Pak Bondan juga dikenal sebagai wartawan senior di media Suara Pembaruan.

Kepergian Pak Bondan meninggalkan sang istri, Yvonne Winarno, dan ketiga anaknya, Marisol Winarno, Eliseo Raket Winarno dan Gwendolin Amalia Winarno. Sosok pak Bondan akan selalu dikenang lewat karya, ilmu yang dibagikannya, serta sikapnya yang selalu membuat orang sekitar terkesan.


(ELG)