Peradaban Indonesia di Kapsul Waktu

Iwan Jaconiah Kurniawan    •    16 November 2018 17:59 WIB
kebudayaankultur
Peradaban Indonesia di Kapsul Waktu
Monumen kapsul waktu di Merauke (Foto: Dok. Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

Hubungan erat seni dan moralitas ada dalam wilayah kebudayaan. Nilai-nilai kesukuan telah ditanamkan dan diajarkan melalui sastra lisan, yaitu berupa pantun dan peribahasa. Dan sastra tulisan, yaitu melalui puisi, nyanyian rakyat, tari, dan seni rupa.

Ada sebuah visi kebudayaan telah Presiden Joko Widodo semat. Sebuah amanat demi tercapainya masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab. Semua lewat Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional.

Dampak dari RPJP Nasional di ranah kebudayaan adalah tercapainya Indonesia sebagai pusat peradaban dan kebudayaan dunia pada 2085. Visi yang akan dirasakan generasi-generasi berikutnya.

"Kebijakan Jokowi tidak sebatas kekayaan alam, namun juga ada strategi kebudayaan untuk mengikat erat visi," ujar Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid kepada Metrotvnews.com di ruangan kerjanya di Gedung Kemendikbud, Jakarta, awal pekan ini.


Hilmar Farid (Foto: MI/Susanto)

Strategi kebudayaan sendiri akan dibahas dan dikukuhkan pada Kongres Kebudayaan Indonesia di Jakarta, pada 7-9 Desember mendatang. Perumusan strategi kebudayaan nantinya akan bermuara pada peraturan presiden (perpres) kebudayaan.

Hilmar menjelaskan visi Indonesia sebagai pusat peradaban dan kebudayaan dunia memang tidaklah mudah. Namun, jauh sebelumnya saat zaman Hindia-Belanda, para peneliti asing telah meneliti secara komprehensif budaya Nusantara, terutama di ranah etnomusikologi.

Tokoh utamanya adalah Jaap Kunst (1891-1960), etnomusikologis berkebangsaan Belanda. “Selama 100 tahun, arus gamelan sangat kuat terasa di luar negeri. Sekarang sudah ada 150 kelompok gamelan di Inggris, 200 di Amerika, dan 50-an di Jepang. Ini menandakan bahwa gamelan memberikan pengaruh besar dalam etnomusikologi,” jelas Hilmar.


Mahasiswa asing belajar bermain gamelan (FOTO ANTARA/Arif Firmansyah)


Ada kelogisan ucapan Hilmar, memang. Bila ditelusuri maka sudah ada sanggar-sanggar gamelan yang tersebar di Eropa. Mulai dari Inggris, Belanda, Finlandia, sampai Rusia. Di Moskow, ibu kota Rusia, misalnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia di sana memiliki sanggar gamelan.

Kelompok yang digawangi Tri Koyo itu acap kali menggelar konser di berbagai tempat. Terakhir di Moscow Tchaikovsky Conservatory dan Suzdal Museum, belum lama ini. Penonton pun antusias. Mereka kian mengenal Indonesia lewat gamelan.

Tak dinyana, untuk merumuskan langkah-langkah kebudayaan, pemerintah telah mengesahkan Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Di sini, ada upaya nyata tuk menjadikan kebudayaan sebagai investasi kultural. Itu demi membangun masa depan peradaban bangsa.

Melalui undang-undang Pemajuan Kebudayaan, maka para seniman, peneliti, budayawan, dan pemerintah akan mudah untuk merumuskan strategi-strategi kebudayaan. Hal ini penting sebab akan menjadi batu pijakan Jokowi dalam mengeluarkan perpres nantinya. “Perpres akan menjadi akomodasi dan aspirasi. Ini juga sebagai rencana induk pemajuan kebudayaan,” jelas Hilmar.



Kini, ada sepuluh objek pemajuan kebudayaan meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Pusat kebudayaan Asia Tenggara

Terlepas dari isu kebudayaan yang sedang hangat diperbincangkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga ikut memberi sinyal kuat di dalam menjadikan Jakarta sebagai pusat kebudayaan Asia.

Ini sangat penting. Apalagi, Jakarta memiliki Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai barometer perkembangan kebudayaan di zaman sekarang. Untuk itulah, TIM sendiri sedang dalam proses revitalisasi. Mulai dari rencana penataan ruang terbuka hijau hingga pembangunan bangunan modern.

“Ada narasi bahwa kesenian memperkuat simpul kesatuan Indonesia. Jakarta sebagai tempat untuk menunjukkan ciri bansa. Jakarta harus ada dalam radar pusat kebudayaan dunia,” ujarnya saat memberi pidato pada perayaan HUT ke-50 tahun TIM.

Anies mengatakan bahwa sebagai langkah nyata maka pihaknya serius melakukan revitalisasi TIM. Hal itu penting agar semua lini dapat terintegrasi dan terkontrol. “Seniman memiliki daya kreasi tinggi. Di sini, kita budayakan seniman kelas dunia. Kita membangun untuk 50 tahun ke depan lagi agar TIM lebih jaya,” tegas Anies.


Taman Ismail Marzuki (Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Lokasi TIM yang berada di pusat Ibu Kota memang strategis. Setiap seniman, sastrawan, dan ilmuwan bisa berkumpul untuk memperbincangkan berbagai hal. Pidato Anies memang menarik sebab ada benang merah antara niat pemerintah provinsi dan pusat untuk membawa Indonesia sebagai pusat kebudayaan dunia.

Sebuah peradaban tinggal menunggu waktu. Apalagi, Jokowi sendiri telah meresmikan sebuah Kapsul Waktu di Merauke, Papua. Kapsul itu berisi tentang mimpi-mimpi anak-anak muda Indonesia 2015-2085. Semua keinginan anak-anak itu akan dibuka pada 2085.

Artinya, Indonesia sebagai pusat peradaban dan kebudayaan dunia akan bisa dilihat secara nyata pada 67 tahun lagi. Itu jika dihitung dari sekarang. Visi kebudayaan inilah yang akan tercermin lewat Kongres Kebudayaan Indonesia.

Terlepas dari Kongres Kebudayaan Indonesia yang digelar Kemendikbud, ada sebuah acara kebudayaan besar lainnya yang diinisiasi budayawan Radhar Panca Dahana bersama sejumlah akademisi, sastrawan dan peneliti budaya. Acara itu bernama Mufakat Kebudayaan Indonesia. Ada keresahan dan kegamangan seniman akan nilai-nilai budaya yang mulai luntur oleh terpaan arus zaman.


(ELG)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA