Teater tanpa Kata

Anggitondi Martaon    •    24 Agustus 2016 22:10 WIB
galeriindonesiakaya
Teater tanpa Kata
Seniman Pantomim (Foto:Antara/Suwandy)

Metrotvnews.com, Jakarta: ‎Pantomim merupakan suatu pertunjukan seni gerak yang sudah mendunia. Pantomim bukan hanya seni pertunjukan tanpa kata-kata. Lebih dari itu, pantomim mempunyai makna kreativitas serta kritikan terhadap suatu fenomena sosial.

"Pantomim sesungguhnya bukan drama bisu. Dia harus punya visi, misi. Pantomim harus punya moral. Tidak hanya sekadar gerak, bergerak. Harus punya tujuan," kata sutradara pantomim Yayu Unru, dalam program Idenesia bertema Teater tanpa Kata.

Di Indonesia, seni pantomim sebenarnya sudah lama ada. Hal itu bisa dilihat dalam berbagai teater tradisi Indonesia.

Namun, seni pantomim pertama kali baru dikenal oleh publik Indonesia, khususnya Jakarta, ketika diperkenalkan oleh tokoh seni tari Profesor Sardono W Kusumo dari Amerika.

"Makin jelas ketika mas Don pulang dari Amerika, terus ada beberapa tokoh-tokoh lain pulang dari Amerika, kita mulai main di tempat-tempat tertentu. Di situ awal mulanya," ungkap dia.

Hal senada juga dikatakan oleh pelatih pantomim Sena Didi Mime, Gendis Utoyo. Pantomim Indonesia berbeda dengan apa yang ditampilkan di Barat (Eropa).

Bahkan, hal itu diakui oleh dosen Gendis saat menuntut ilmu di Prancis. Saat itu, Gendis menunjukan salah satu karya kelompok pantomim kenamaan Indonesia Sena Didi Mime.

"Lalu mereka bilang, 'Oh ya, Indonesia punya teater seperti ini?' Maksudnya, pantomim itu asalnya bukan dari Indonesia, asalnya dari luar, tapi memang seperti yang telah dijelaskan om Yayu pantomim itu di teater tradisi Indonesia sudah ada," kata Gendis.

Tidak hanya itu, pujian pun diberikan terhadap karya seni pantomim Indonesia. Pantomim Indonesia sangat kontemporer. Sehingga membuat Gendis lebih yakin menekuni seni gerak bisu tersebut.

"Nah, dari situ timbul kebanggaan tersendiri bahwa Indonesia itu punya bentuk. Orang bule sendiri bilang, sangat masa kini, sangat kontemporer," ungkap Gendis.

Gendis menyebutkan, darah seni pantomim bisa dikatakan sudah dimilikinya sejak kecil. Sebab, sang ayah, (alm) Sena A. Utoyo merupakan satu dari dua pendiri kelompok pantomim ternama di Indonesia, yaitu Sena Didi Mime.

Kelompok tersebut didirikan oleh (alm) Sena A. Utoyo bersama temannya (alm) Didi Widiatmoko atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Didi Petet pada tahun 1986.

"Cita-cita aku ingin tampil di panggung. Aku ingin bisa membuat sesuatu seperti bapakku," ucap Gendis.

Bicara mengenai Sena Didi Mime, grup ini tak hanya dikenal di Tanah Air. Grup tersebut juga pernah tampil di berbagai festival kancah internasional seperti Gaukler Festival di Koeln dan Total Pantomime Festival di Braunschweig pada 1990.

Selanjutnya, pada 1993-1994, Sena Didi Mime berkesempatan menghibur pecinta pantomim di Prancis dalam Mimos Festival. Tidak hanya itu, grup ini juga pernah tampil dalam Project Istopolitana Theater International Festival di Slovakia tahun 2010, dan setahun setelahnya mengisi acara dalam Jakarta Berlin Art Festival di Berlin.

Sebagai salah satu penerus nama besar Sena Didi Mime, Gendis menyebutkan begitu beratnya menjaga nama baik dan membuat grup yang didirikan oleh ayahnya tersebut tetap bisa berkarya hingga saat ini. Sebab, mempertahankan sesuatu yang telah mempunyai aturan atau pakem sebuah seni, tidak mudah.

"Menurut saya, lebih mudah bikin start up bisnis. Ketika kita membuat sesuatu yang baru, itu mudah. Tapi ini, kita mempertahankan sesuatu yang sudah ada, memiliki pakem sistem, budaya sendiri," kata Gendis.

Namun, hal itu tetap akan dilalui oleh Gendis bersama rekan-rekan dalam grup Sena Didi Mime. Hal itu dibuktikan dengan berbagai pentas yang akan digelar oleh kelompoknya hingga akhir tahun.

"Paling dekat bulan depan di Galeri Indonesia Kaya, kita akan kolaborasi dengan pemain musik Saka Pambudi. Akan tampil dengan lakon pintu laut, 10 September," ucapnya.

Selain itu, kelompoknya juga tengah merancang sebuah grand program pertunjukan pada akhir tahun nanti. Hal itu direncanakan untuk memberikan penghormatan kepada dua pendiri Sena Didi Mime, Didi Petet dan Sena Utoyo.

"Itu adalah program rutin kita setiap tahun. Kita selalu tribute mengenang guru-guru kita," ujar Gendis.


(ROS)