Karya Langka Seniman Bali Digelar Selama Sebulan

K. Yudha Wirakusuma    •    15 September 2018 10:06 WIB
pameran lukisan
Karya Langka Seniman Bali Digelar Selama Sebulan
Karya Langka Seniman Bali Digelar Selama Sebulan (Foto: dok. pribadi)

Jakarta: Pembukaan pameran dwitunggal seniman Bali I Ketut Budiana dan Ida Bagus Putu Sena resmi dibuka, Kamis 6 September 2018 di Museum Puri Lukisan Ubud, Bali. Pameran Budiana yang bertema "Whirling" dan Sena yang bertajuk "Muter Tattwa" dipamerkan hingga 1 Oktober 2018.

Masyarakat, termasuk wisatawan dalam dan luar negeri antusias melihat karya dua seniman tersebut. Pengunjung harus rela masuk bergantian.

Dalam pameran tersebut, Budiana memamerkan tiga lukisan yang masing-masing berukuran sekitar 2 x 3 meter. Lukisan tersebut saling terkait dan menjadi satu kesatuan.

Karakter lukisan Budiana sangat kuat dan berkarisma. Di lukisan pertama, kelahiran, Budiana banyak menggunakan warna merah dan paduan oranye kuning. Dikemas demikian karena menurutnya, kelahiran melahirkan sejumlah emosi. Sedih dan bahagia.

Lalu di lukisan kedua, seniman kelahiran Padang Tegal, Ubud, Bali itu, ingin bercerita kehidupan. Ada energi untuk mempertahankan hidup. Di sini manusia berlomba-lomba mencapai apa yang dia inginkan dalam hidup.

Tanpa disadari, bahwa selalu ada bahaya yang mengintai dalam setiap langkah mereka. Diwujudkan dalam bentuk naga yang siap menerkam.

"Tapi tidak lupa saya gambarkan wanita di lukisan ini, sebagai sosok bumi. Ibu pertiwi. Sedangkan sosok pria merupakan simbol air. Air dan bumi bersatu menjadi kehidupan," papar seniman yang ramah dan murah senyum itu.



Dia kemudian menekankan, bahwa sebenarnya bumi ini sudah memberikan lebih kepada manusia. Hanya kadang manusia yang kurang bersyukur.

Sedangkan di lukisan ketiganya, hanya ada warna hitam, putih, dan abu-abu.

Siapapun yang melihat bisa merasakan kedamaian dan dunia tanpa riak. Seniman yang karya seninya "Kekuatan Ibu" menjadi salah satu dari 100 karya terbaik di Museum Fukuoka, Jepang itu di lukisan ketiga ingin menggambarkan kehidupan setelah kematian.

"Sosok manusia (bukan wanita, bukan juga pria). Berjalan ditemani seekor anjing berwarna hitam," ujarnya.

Anjing atau asu menjadi perlambang dosa dan darma. Menurutnya, pada akhirnya saat kematian yang ditimbang adalah kebaikan dan keburukan semasa hidup.

Dia menilai, orang yang sudah meninggal tidak bisa lagi merasa. Dia hanya tinggal menerima takdir. Apakah menuju nirwana atau neraka.

Sedangkan Ida Bagus Putu Sena konsisten memadukan karakter perwayangan dengan nuansa kekinian. Dia mengganggap tokoh wayang dapat mewakili keadaan dan karakter saat ini.

Seniman yang konsisten mempertahankan gaya lukis tradisional Bali itu enggan beranjak mengikuti arus. Dia lebih suka bermain dengan pemikiran dan belajar menyelami hidup.

"Kalau saya ingin mempertahankan warisan budaya sendiri,” imbuh Sena.



Tidak banyak bicara, Sena banyak bermain dengan pikiran-pikirannya. Menurutnya, di saat orang-orang lebih suka menghakimi, dia memilih sebagai penengah. Seperti dalam karyanya berjudul "Sinar dalam Kegelapan".
Bagaimana wanita pekerja seks komersil (PSK) seringkali dianggap hina. Mereka diperlakukan sewenang-wenang, seperti mereka bukan manusia.

"Tanpa orang menyadari bahwa mereka juga seorang ibu. Bagaimana mereka melakukan itu bukanlah keinginan mereka. Daripada kita menghakimi, lebih baik berkaca apakah kita sudah lebih baik daripada wanita itu," ungkap seniman kelahiran Banjar Tebesaya, Ubud itu.

Di setiap karya lukisnya, Sena selalu menampilkan sosok karakter wayang. Dia mengganggap tokoh wayang dapat mewakili keadaan dan karakter saat ini.

Karya seni Sena bak sebuah kelir (wayang). Dia adalah dalangnya. Audiens seakan mendapatkan pertunjukkan wayang diatas kanvasnya.

Wajar saja, karena inspirasinya adalah Kitab Ithiasa, yang berisi kisah Ramayana dan Mahabarata. Dikemas dengan kekuatan sastra yang tinggi.

"Nilai-nilai agama sangat menginspirasi karya saya," akunya. Menggunakan teknik abur (sigar mangsi) diterapkan berlapis-lapis dan digarap dengan sangat telaten.

"Melukis bukan sekedar menggurat bentuk dan menyapu kuas. Tapi merupakan proses renungan yang dalam. Karena saya harus paham dulu tentang apa yang dilukis. Agar karya saya bisa tersampaikan dengan baik kepada masyarakat," ungkap seniman yang memiliki kekuatan hiperdetail dalam lukisannya itu.

Sementara itu, Kurator Seni Jean Couteau mengatakan kedua seniman. Menurutnya secara kebetulan tema yang serupa. “Whirling memiliki arti berputar,” sebutnya.

Kedua seniman ini, kata dia, sama-sama bertanya tentang posisi manusia dialam semesta ini.

Dirinya sangat optimistis, kedua seniman ini bisa mengembangkan jati diri seni lukis Bali di Indonesia dan dunia. Hadir dalam kegiatan itu Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dan Sultan dari Kesultanan Cirebon.

Daniel Jusuf selaku penyelenggara pameran tersebut mengaku bangga. Apalagi, pameran tersebut mendapat respon positif dari tamu dan masyarakat Bali.

"Luar biasa ramai. Mereka rata-rata mengakui kehebatan dua seniman ini. Sangat kuat dalam penggambaran objek, unik, khas. Dan lebih penting lagi, sarat makna filosofis," pujinya, saat pembukaan pameran dwitunggal painting bertema "Whirling" dan "Muter Tattwa" itu.

Dia mengaku bersyukur, bisa menghadirkan dua seniman itu dalam pameran kali ini. Menurutnya, sudah saatnya seniman Bali bangkit.

Daniel yang kolektor yang juga sahabat Budiana dan Sena merasa bangga bisa membantu menyelenggarakan acara ini.

“Tidak menyangka animo masyarakat bisa sebesar ini untuk melihat kedua karya sahabat saya ini. Buat saya ini luar biasa. Memang harus diakui, karya mereka unik, tidak biasa, dan sarat makna. Seniman seperti mereka memang langka,” paparnya.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengaku salut setelah melihat karya kedua seniman itu. "Mereka bisa melukis tanpa melihat objek. Apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka dituangkan menjadi sebuah karya seni. Hanya dengan memejamkan mata lahir sebuah karya," pujinya.

Sejumlah tamu penting juga hadir. Diantaranya Kurator Seni Jean Couteau, Maestro Lukis Indonesia Sidik W Martawidjojo, sampai Sultan Cirebon dan Permaisurinya, hadir dalam pameran tersebut.

Papan bunga memberi ucapan selamat dari dalam dan luar negeri menyemarakkan acara pembukaan.


 


(ELG)

Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen

Kaca Benggala Polemik Jerinx SID dan Via Vallen

1 day Ago

Dapat disimpulkan, Jerinx adalah korban dari sikap 'lancang' Via Vallen dan beberapa pe…

BERITA LAINNYA