Yockie Suryo Prayogo dan Kritik untuk Generasi Muda

Agustinus Shindu Alpito    •    05 Februari 2018 11:12 WIB
musik indonesia
Yockie Suryo Prayogo dan Kritik untuk Generasi Muda
Yockie Suryo Prayogo dalam konser LCLR di Jakarta, tahun 2015 (Foto: Shindu Alpito/Medcom.id)

Jakarta: Menjadi tua identik dengan memberi ruang kompromi lebih pada apa yang terjadi di sekitar. Letupan amarah berbalut idealisme yang berkobar di kala muda, bisa saja padam seiring usia bertambah. Namun tidak bagi Yockie Suryo Prayogo.

Yockie bukan musisi sembarangan. Dia turut membangun pondasi musik pop dan rock Indonesia. TIdak perlu lagi kita memperdebatkan, apalagi meragukan seberapa penting sosoknya. Salah satu pembeda Yockie, adalah sikapnya yang masih tajam meski dimakan usia.

Saya masih ingat wawancara demi wawancara dengan Yockie, nada bicaranya yang lugas dan keseriusannya melihat industri dan dunia kebudayaan Indonesia dari sudut pandang luas, beradu dengan kecerdasannya, ingatan yang tajam dan idealisme yang teguh.

Ada peristiwa yang menarik dan menjadi catatan bagi saya, ketika Yockie menjadi pembicara dalam Archipelago Festival 2017.  Tema diskusi itu adalah Musik Pop Indonesia. Seorang musisi muda bertanya dan memberikan pernyataan seputar cara pikir global dalam dunia musik. Maksud si musisi muda itu, bagaimana seorang musisi berpandangan bahwa musik sejatinya tidak memiliki identitas layaknya manusia, termasuk bahasa. Sehingga musik bebas dari kekang labelisasi sebuah komunitas masyarakat, negara atau apapun itu yang membatasi.

Dengan tegas Yockie menjawab bahwa gagasan globalisasi dalam musik tidak sejalan kodrat manusia. Yockie berpendapat sejatinya manusia memang memiliki naluri berkelompok dan musik sebagai produk budaya tidak lepas dari hal itu. Tetapi, bukan berarti musik terkotak-kotak secara harfiah. Sebagai seorang musisi, menurut Yockie, harus menyadari kodrat dari mana dia berasal. Dengan menyadari kodrat itu, timbul rasa cinta dan pengabdian terhadap tempat di mana dilahirkan dan tumbuh besar. Bagi Yockie, tidak perlu menyangkal entitas kodrat itu dan berusaha menyingkirkannya atas nama globalisasi.

Membahas musik dan gagasan ideologi di belakangnya bersama Yockie seperti tidak ada habisnya. Dia sangat kritis soal itu. Beberapa gagasan Yockie tentang ideologi budaya sempat dipublikasikan Metrotvnews.com dalam artikel berjudul Yockie Suryo Prayogo: Kita Mulai Krisis Norma.

Dalam artikel itu, Yockie menyorot krisis norma yang tengah melanda masyarakat muda Indonesia dan pernyataan Yockie masih relevan hingga hari ini.

"Saat ini, norma telah terancam. Begitu norma terancam, kehidupan tata kelola bermasyarakat berubah semuanya. Itu bisa berakibat kita kehilangan panduan. Tata krama itu seperti apa. Ketika tata krama sudah tidak tahu lagi, kita pun jadi tidak tahu etika," kata Yockie, seperti dikutip dalam artikel itu.

Apa yang diutarakan Yockie tidak lepas dari situasi negara yang terus bergejolak, terutama soal gesekan antara golongan yang seolah menyangkal bahwa kita adalah negara yang lahir dari keberagaman. Menurut Yockie, jika kita sudah tidak lagi mengedepankan persatuan, kita harus mempertanyakan kembali relevansi sikap kita dengan dasar negara, Pancasila.

"Sama ketika kita saat memahami pancasila, Bhineka Tunggal Ika. (Kita) tidak perlu mempertanyakan mengapa harus cinta Pancasila? Tanyakan pada diri sendiri kita bisa tidak patuh dan menyadari bahwa hidup membutuhkan orang lain.  Kalau patuh, dipatuhi, Tetapi kalau tidak butuh orang lain, tidak usah bikin negara. Saya sampai di titik (pemikiran) itu” terangnya.

"Norma itu lahir dari kesadaran otak kanan, dimensi afektif, totalitas jiwa, rasa cinta kita. Yang terjadi hari ini, seolah demokrasi harus dibakukan, mempertanyakan mengapa harus menghormati orang lain, ada hal-hal yang tidak bisa dicari alasannya,” ungkap Yockie.

Ke depan, Yockie berharap ada kesadaran kolektif dari generasi muda Indonesia tentang apa yang menjadi nilai utama dan bersama-sama berkomitmen untuk mewujudkan nilai itu. Karena tidak bisa dipungkiri, generasi muda memegang peranan penting terhadap beragam sektor penting, baik soal industri maupun identitas dalam berkesenian.

“Kesalahan kita, kita larut dalam globalisasi tetapi tidak siap menghadapi globalisasi. Kita ini produsen, masyarakat Nusantara itu kaum produsen, masyarakat yang produktif. Tetapi kita menafikan keberadaannya dan menjadi masyarakat konsumtif dan terkonversi menjadi pedagang karena kapitalisme,” tegas Yockie.

Yockie Suryo Prayogo meninggal dunia pada Senin, 5 Februari 2018, setelah melewati serangkaian pengobatan dalam beberapa waktu terakhir. 




(ASA)

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

1 week Ago

Meski melaju dengan Regina, Geisha tidak ingin menghapus bayang-bayang Momo. Lantas, ke mana ar…

BERITA LAINNYA