Hakim Sarmin, Lakon Kocak dan Satire dalam Teater Gandrik

Agustinus Shindu Alpito    •    31 Maret 2017 14:52 WIB
pementasan teater
Hakim Sarmin, Lakon Kocak dan Satire dalam Teater Gandrik
Teater Gandrik (Foto: dok. bakti budaya djarum foundation)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Teater Gandrik menggelar pentas berjudul Hakim Sarmin di Taman Budaya Yogyakarta, pada 29-30 Maret 2017.

Naskah itu ditulis oleh Agus Noor, diproduseri oleh Butet Kartaredjasa, dan disutradarai oleh G. Djaduk Ferianto

Lakon Hakim Sarmin dipentaskan dengan latar belakang suasana yang ganjil, ketika semua hakim memilih masuk rumah sakit jiwa yang disebut Pusat Rehabilitasi. Para hakim yang menolak masuk Pusat Rehabilitasi, dikabarkan mati terbunuh dan mayatnya dibuang ke lubang buaya. Isu pembersihan hakim-hakim pun menebarkan kecemasan.

Pimpinan Pusat Rehabilitasi, Dokter Menawi Diparani (diperankan oleh Susilo Nugroho) mengatakan, telah terjadi wabah kegilaan yang berbahaya karena sulit dikenali gejala- gejalanya. "Kegilaan dengan cepat menjalar, lebih menakutkan dari wabah sampar," ujarnya.

Lakon ini mengisahkan sebuah zaman, ketika keadilan dan kegilaan tak lagi bisa dibedakan.



“Kegilaan dimulai dari pikiran. Revolusi selalu diawali oleh mereka yang gila. Inilah zaman ketika kegilaan sudah menjadi trend. Kalau tidak gila malah dianggap jadul, kurang gaul,” begitu kata Hakim Sarmin (diperankan oleh Butet Kartaredjasa) dengan gayanya yang khas.

Kepentingan politik, ambisi kekuasaan, siasat licik untuk saling menjatuhkan, semakin membuat ketegangan di antara para tokoh dalam lakon ini. Di satu sisi, proyek rehabilitasi ini dianggap sebagai jalan keluar untuk mengatasi wabah kegilaan, tapi pada sisi lain dianggap pemborosan anggaran.

Dokter Menawi Diparani dianggap tak lagi bisa mengendalikan para hakim yang menjadi pasien di Rumah Sakit Jiwa yang dipimpinnya, ketika para hakim itu mulai menggerakkan



“Revolusi Keadilan”. Pemberontakan hakim ini melibatkan Komandan Keamanan, Pak Kunjaran Manuke (diperankan oleh Fery Ludiyanto), seorang politisi muda yang ambisius,

Bung Kusane Mareki (diperankan oleh M. Arif “Broto” Wijayanto); dan seorang pengacara yang menjadi penasehat Pimpinan Kota, Sudilah Prangin-angin (Citra Pratiwi). Sementara Pimpinan Kota Mangkane Laliyan (G. Djaduk Ferianto) sendiri makin terlihat lelah karen penyakitnya yang tak kunjung sembuh.

“Lakon yang membongkar kegilaan masyarakat di tengah carut-marut hukum ini akan menjadi lakon yang kocak dan penuh satir ketika dimainkan di atas pentas. Guyonan dan adegan demi adegan yang ditampilkan dengan gaya Teater Gandrik akan membuat lakon Hakim Sarmin ini menjadi tak sekadar penuh tawa, tetapi juga ironi yang membuat kita harus memikirkan kembali kewarasan kita,” ujar Agus Noor, seperti tertulis dalam keterangan pers yang diterima Metrotvnews.com.

 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA