Cerita Sandhy Sondoro Jadi Minoritas Selama di Jerman

Cecylia Rura    •    24 Februari 2018 11:11 WIB
sandhy sondoro
Cerita Sandhy Sondoro Jadi Minoritas Selama di Jerman
Sandhy Sondoro (Foto: MI/Rommy)

Tangerang: Cukup lama seorang Sandhy Sondoro bermukim di Jerman. Selama 25 tahun meniti karier di Jerman, Sandhy merasakan betul bagaimana menjadi bagian dari kaum minoritas di Jerman. Seperti diketahui Negeri Hitler itu tak banyak diduduki oleh kaum Muslim.

"Dari tahun 90-an sampai tahun 2000, sampai sekarang sih sebenarnya gua masih tinggal di Jerman dan merasakan banget kalau gua minoritas di Jerman. Sebagai Muslim, kita minoritas di sana," kata Sandhy kepada Medcom.id belum lama ini.

"Di pemerintahan juga emang enggak ada orang yang beragama Muslim. Maksudnya ada, cuma gua juga enggak terlalu ikuti politik di Jerman, ya, tapi di sana sih cukup oke dan liberal banget," lanjutnya.

Sandhy merasa cukup bebas dan menikmati hidupnya di sana meski menjadi bagian dari kaum minoritas.

"Orang mau mau ngapain terserah, yang penting intinya adalah kebaikan hati dan kasih sayang," katanya lagi.

Indonesia sendiri dengan keberagaman dan kemajemukan yang tinggi dirasa masih kurang memiliki toleransi. Jika dibandingkan dengan Jerman, Sandhy mengaku sangat merasakan bagaimana perbedaan toleransi antara di Jerman dan Indonesia.

Contohnya, saat terjadi penyerangan di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta, Sandhy berpendapat tindakan tersebut bisa saja melibatkan motivasi lain di samping aksi lonewolf terorism yang dilakukan oleh sang pelaku, Suliyono.

"Rasa dong, kayak misalnya kok tiba-tiba ada yang menyerang gereja. Saya sebagai Muslim malu, dong. Maksudnya ini apa-apaan, sih. Ini ngapain, sih? Yang jelas saya yakin banget ini pasti ada sesuatu di belakangnya," kata Sandhy setengah menahan emosi.

"Plus, di sini kebanyakan kita mudah diadu domba. Dipanas-panasin. Sudah hobi sih kayaknya. Saya enggak banding-bandingin ya. Tapi ini apa yang terjadi dan fakta di Jerman. Orang enggak bisa diadu domba lagi di Jerman."

Lebih lanjut, ia memaparkan bagaimana sebenarnya Indonesia bisa menjadi lebih keren seperti di Jerman ketika bersatu.

"Intinya gini, Indonesia kalau bersatu kayak orang-orang di Jerman, Indonesia keren banget," lanjut Sandhy.

Pelantun Malam Biru ini kembali mencontohkan bagaimana orang-orang Jerman sebagai masyarakat negara maju tidak mudah tersulut dengan hal-hal remeh yang membuat mereka terpecah belah. Semisal seorang warga dari Berlin berkunjung ke Munich dan mengatakan sesuatu hal yang menyudutkan seorang yang lain. Situasi tersebut jarang terjadi. Sementara di Indonesia, hal remeh seperti itu masih menjadi sebab perkara yang kemudian meluas.

"Kalau mau maju makanya jangan kampungan, itu saja," tegas Sandhy.

Oleh sebab itu, Sandhy pun sepaham dengan Monita Tahalea yang mengatakan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu mempersatukan keberagaman.

"Enggak jauh beda sama yang Monita katakan tadi. Enggak ada hal lain kecuali musik yang bisa menyatukan semuanya. Musik adalah bahasa yang paling universal," pungkas Sandhy.


 


(ELG)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA