300 Perempuan Hollywood Membuat Aksi Anti Pelecehan Seksual

Purba Wirastama    •    02 Januari 2018 15:11 WIB
selebritas
300 Perempuan Hollywood Membuat Aksi Anti Pelecehan Seksual
Eva Longoria, producer Shonda Rhimes dan Reese Witherspoon ikut aksi Time's Up (Foto: via cbc)

Jakarta: 300 figur perempuan Hollywood, mulai dari aktris hingga eksekutif, membentuk gerakan kolektif untuk melawan pelecehan seksual sistemik di Hollywood dan tempat kerja non kantoran di AS. Aksi ini mereka beri nama Time's Up.

Seperti dilaporkan New York Times, gerakan Time's Up diumumkan ke publik pada Senin 1 Januari 2018. Ada surat terbuka berisi ikrar dukungan penuh semangat bagi para perempuan kelas pekerja. Surat ini juga terbit sebagai iklan satu halaman di New York Times dan harian Spanyol La Opinion.

Ratusan perempuan dalam bisnis pertunjukan ikut memberi tanda tangan. Sebagian besar bintang top seperti America Ferrera, Eva Longoria, dan Reese Witherspoon.

"Perjuangan perempuan untuk mendobrak, meningkatkan martabat, serta didengar dan dikenali dalam lingkungan kerja yang didominasi lelaki, harus berakhir. Waktu bagi monopoli ketat ini sudah habis," tulis surat tersebut.

Time's Up menempuh sejumlah langkah dukungan. Beberapa langkah antara lain sokongan dana pembelaan hukum bagi perempuan pekerja 'kerah biru' yang pernah dilecehkan, upaya pembuatan aturan untuk menghukum perusahaan yang toleran terhadap pelecehan seksual, serta dorongan mencapai keseimbangan gender di studio dan agen bakat.

Mereka juga mengusahakan aturan yang mendorong pemakaian perjanjian tertutup dalam kasus pelecehan yang korbannya memilih bungkam karena takut. Time's Up juga meminta supaya dalam ajang Golden Globes nanti, para perempuan bersuara dan meningkatkan kesadaran publik dengna mengenakan pakaian hitam.

Gerakan ini merupakan salah satu jawaban bagaimana para perempuan Hollywood menyikapi dugaan pelecehan seksual yang mewarnai perjalanan industri ini selama beberapa dekade. Salah satunya adalah masalah klise 'sofa audisi', yaitu lolos audisi asalkan mau berhubungan seks.

Time's Up juga merespons kritik terhadap gerakan #MeToo yang muncul menyusul penyingkapan sejumlah kasus pelecehan yang melibatkan nama besar di Hollywood. #MeToo dianggap hanya fokus pada orang-orang yang populer dikenal publik.

Sementara kalangan pekerja wanita sektor lain juga menghadapi masalah serupa tetapi kerap terabaikan. Mereka tak punya banyak kuasa dan dukungan saat ingin bersuara. Kritik ini bermunculan setelah organisasi petani AS menulis surat terbuka berisi dukungan bagi korban pelecehan seksual Hollywood. Surat ini mewakili 700 ribu buruh tani perempuan di AS.

 


(ELG)