Wajah Seni Teater Indonesia

Pelangi Karismakristi    •    19 Oktober 2016 17:49 WIB
galeriindonesiakaya
Wajah Seni Teater Indonesia
Inayah Wahid pada pementasan monolog #3Perempuanku Bukan Bunga Bukan Lelaki, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 25 September 2015 (Foto:Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Metrotvnews.com, Jakarta: Teater merupakan salah satu kesenian yang telah lama hadir di Tanah Air. Meskipun belum dilirik banyak orang, di balik wajah teater Indonesia terdapat orang-orang yang melakoni dengan penuh cinta dan mengibaratkannya seperti jodoh.

Seperti halnya putri mantan Presiden RI Gus Dur, Inayah Wahid. Dia mengaku, sudah sejak lama menyukai teater. Bahkan, ketika lulus SMA, Inayah bertekad meneruskan kuliah di jurusan teater.

Tapi sayang, kala itu ibunda tak mengizinkan melanjutkan pendidikan teater. Pada akhirnya, Inayah memilih jurusan Sastra Bahasa Indonesia, yang notabene juga mempelajari seni teater. Dari situ, ia aktif ikut pertunjukan seni peran.

"Sempat bertahun-tahun tak bermain teater, kayaknya ada sesuatu yang salah, hilang. Sampai kemudian balik lagi ke teater dan sekarang akhirnya, yang dulu saya dilarang, ujung-ujungnya di sini juga di teater. Kayaknya, ya sudah jodoh, walaupun dulu tidak dibolehkan. Mungkin karena hatinya sudah di situ juga dari awal," kata Inayah, di Galeri Indonesia Kaya, Lantai 8 West Mall Grand Indonesia, Jakarta.

Lain lagi dengan aktris sinetron era 90-an Ine Febriyanti. Sebagai aktris yang aktif di dunia sinetron, ia wajib membekali diri dengan kemampuan akting yang baik. Kala itu, Ine malah merasa kemampuannya mengolah peran sangat buruk.

Hingga akhirnya, Ine memutuskan belajar teater. Ine mengisahkan, awalnya melihat Bengkel Teater yang sedang melakukan sesi latihan. Ine kemudian pelan-pelan mulai menyerap ilmu teater di sana. Mendalami teater, bagi Ine, bukan hanya sekadar berakting. Lebih dari itu, ia mempelajari banyak hal.

"Awalnya, saya merasa bodoh sekali pada waktu tahun 94 main sinetron. Akting saya jelek banget dan merasa harus upgrade akting. Saat melihat Bengkel Teater latihan, tiba-tiba saya merasa seperti asyik. Dari teater selain akting, saya juga belajar tentang kehidupan, menghargai waktu, berempati bukan hanya dengan orang saja, dan banyak yang bisa saya dapatkan," kata Ine.

Lain halnya dengan mantan pentolan grup vokal Rida Sita Dewi (RSD) yang naik daun pada tahun 90-an, Sita Nursanti. Walau berlatar belakang penyanyi, Sita akhirnya tertarik menyelami teater.

Awal kecintaan terhadap dunia teater terjadi ketika ia terlibat pentas drama musikal bertajuk "Madam Dasima" pada 2001. Di situ, untuk pertama kalinya Sita mencoba panggung selain menyanyi.

Merasa ketagihan, tujuh tahun kemudian, Sita berkesempatan unjuk gigi dalam pentas "Nyai Ontosoroh." Pada pementasan itu tak ada unsur nyanyian sama sekali.

"Saya benar-benar banyak belajar dari dunia panggung teater. Selain belajar tentang kehidupan, saya juga belajar bagaimana bisa berempati dan sebagainya, tapi yang paling penting adalah saya belajar tentang diri saya sendiri," ungkap Sita.

Baik Inayah, Ine, maupun Sita sama-sama berharap seni teater di Indonesia semakin dikenal dan mendapat tempat di hati masyarakat.

"Semakin banyak orang yang bisa menghargai pekerjaan para aktor. Karena kerja kami itu luar bisa berbulan-bulan, kemudian kami tinggalkan kehidupan kami yang biasanya untuk berada di situ. Jadi Semoga bisa lebih banyak penonton yang lebih banyak orang mengerti tentang itu mengapresiasi," harap Sita.

"Saya berharap teater itu semakin menemukan ruang yang lebih banyak di Indonesia, makin muncul dimana-mana. Dan dia jadi kayak wadah untuk belajar masyarakat Indonesia untuk lebih kritis, lebih paham tentang dirinya sendiri, paham tentang Indonesia dan tentang lingkungannya. Dan jadi makin membantu kita mengasah diri kita untuk menjadi manusia," tegas Inayah.

Sementara, Ine berharap masyarakat Indonesia bisa memberikan apresiasi. Seperti halnya pengalamannya ketika berkolaborasi dengan teater di Jepang, ia menuturkan bahwa warga Jepang rela merogoh kocek dalam untuk menonton teater.

Dia juga menyaksikan sendiri pada setiap pertunjukan teater di banyak auditorium Tokyo selalu sesak penonton. Bahkan, para penikmat teater selalu memberikan standing applause.

"Harapan saya, mungkin di Indoneia walaupun kita lihat teater sudah membaik, meskipun kesejahteraannya tak sebaik pekerja film atau disiplin seni yang lain, mudah-mudahan arahnya akan ke sana. Karena semakin masyarakat kita menghargai seni, semakin banyak orang yang mengapresiasi seni mudah-mudahan Indonesia akan jauh lebih baik," ujar Ine.

Simak perbincangan Yovie Widianto bersama Ine Febriyanti, Inayah Wahid, dan Sita Nursanti dalam IDEnesia di Metro TV yang tayang pada Kamis, 20 Oktober 2016, pukul 22.30 WIB.

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.


(ROS)