Pameran 'Lukisan Tanpa Teori' Karya Empat Maestro Pelukis Indonesia

Cecylia Rura    •    08 November 2017 21:20 WIB
pameran lukisan
Pameran 'Lukisan Tanpa Teori' Karya Empat Maestro Pelukis Indonesia
Pameran Lukisan Tanpa Teori (Foto: dok. DKJ)

Metrotvnews.com, Jakarta: "Perlukah teori dalam melukis?" berangkat dari pertanyaan tersebut, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) melalui Komite Seni Rupa mencoba menjawabnya dengan menyelenggarakan pameran yang bertajuk Lukisan Tanpa Teori. Lukisan koleksi Dewan Kesenian Jakarta yang akan dipamerkan merupakan karya empat serangkai maestro pelukis Indonesia di antaranya Nashar, Oesman Effendi, Rusli dan Zaini. Lukisan tersebut merupakan karya mereka di tahun 1970-1978.

Dari beberapa karya keempat maestro tersebut, DKJ memilih 16 lukisan yang dapat menjadi titik tolak untuk dihubungkan dengan gagasan-gagasan mengenai seni lukis yang pernah dikemukakan keempat pelukis itu. Seperti, lukisan yang berdasar pada rasa, irama alam, situasi jiwa dan bayangan kehidupan. Gagasan-gagasan itu merupakan bagian dari perdebatan alot pada era 70-an, soal apa itu seni lukis Indonesia yang hingga kini belum dibakukan.

Pameran resmi dibuka pada 7 November 2017 dan berlangsung mulai pukul 19.00-21.00 WIB. Dalam rangkaian pembukaan pameran juga akan disuguhkan alunan musik jazz oleh Adra Karim yang mencoba menginterpretasikan karya-karya lukisan.

Pameran ini akan berlangsung pada 8-23 November 2017 di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran ini dibingkai secara ketat melalui hasil kurasi dari dua orang kurator, yaitu Leonhard Bartolomeus dan Gesyada Annisa Namora Siregar. Pengunjung diperbolehkan mengunjungi pameran ini mulai pukul 10 pagi hingga pukul 9 malam.


Pameran Lukisan Tanpa Teori (Foto: dok. DKJ)

Di hari terakhir pameran, pada 23 November 2017 pukul 19.00-21.00 WIB akan berlangsung diskusi dan peluncuran buku post-event pameran yang berisikan tulisan dari Theo Frids Hutabarat dan Tyson Tirta.

Melalui pameran ini, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta ingin menawarkan pengelihatan gaya melukis yang dilakukan keempat kalinya sebagai ke-Indonesia-an yang dicari-cari itu, yang tanpa teori, yang berpaling dari seni lukis Narat ataupun motif tradisi Nusantara. Lebih dari itu, pameran ini diharapkan dapat membuka lebar kesempatan masyarakat untuk menikmati koleksi-koleksi seni rupa yang dimiliki oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Membaca ulang sejarah, perkembangan seni rupa dan situasi sosial yang terjadi dalam sejarah seni rupa dan sosial-politik di Indonesia dengan perspektif sekarang dan menjadi sumber referensi sejarah seni rupa Indonesia dan membangun kesadaran pentingnya arsip, dokumentasi, dan distribusi koleksi lembaga publik.


 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA