PARFI dan Kepemimpinan Senyap Gatot Brajamusti

Surya Perkasa    •    06 September 2016 19:22 WIB
parfi
PARFI  dan Kepemimpinan Senyap Gatot Brajamusti
Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Gatot Brajamusti menjalani pemeriksaan di Subdit Resmob Dit Reskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (5/9). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

 Metrotvnews.com, Jakarta: Kabar itu datang tengah malam. Gatot Brajamusti bersama istrinya Dewi Aminah diciduk di sebuah hotel di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dari kamar 1100 tempat mereka menginap, polisi menyita sabu, seperangkat alat hisap, serta alat kontrasepsi.
 
Gatot datang ke Mataram untuk memperebutkan kursi Ketua Umum PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) di Hotel Hotel Golden Tulip sejak 26 sampai 28 Agustus 2016. Ia menang pemlihan. Tapi belum sampai sehari menjabat sebagai Ketua PARFI untuk periode kedua, ia keburu diambil polisi. Baca: Polisi Bekuk Gatot Brajamusti Terkait Kasus Narkoba


 
Gatot bukan orang baru di kalangan selebritas, meski ia bukan pekerja seni. Sejatinya ia adalah guru spiritual sejumlah artis. Antara lain Reza Artamevia, Elma Theana, dan Irianti Erningpraja.
 
Gerak Gatot di kancah seni berawal dari dunia tarik suara. Album Kekasih (2005) dan Tunjukkan Jalan yang Lurus (2008) menjadi karya Gatot. Tak puas, perlahan Gatot mencoba ke dunia perfilman.
 
Bukan meniti karir seperti artis lain, Gatot justru berusaha masuk ke organisasi PARFI. Namun kedatangan Gatot justru menciptakan skandal tersendiri.
 
Masuknya Gatot ke lingkaran dunia perfilman hingga akhirnya terpilih memimpin PARFI di periode 2006-2011 penuh kontroversi. Jenny menyetujui Gatot menjadi ketua pelaksana karena janji-janji membiayai Kongres dan desakan dari artis-artis sendiri. Namun akhir kongres berkata lain.
 
“Saya mengeluarkan SK untuk dia (Gatot) sebagai Ketua Pelaksana. Tapi entah bagaimana menjelang kongres, dia mau maju menjadi Ketua Umum PARFI dengan memanipulasi data,” beber Jenny Rachman, Ketua PARFI periode 2006-2011. Baca: Jenny Rachman: Ketua Parfi Seharusnya Miliki Integritas
 
Secara kapasitas sebagai artis maupun peran di dunia seni, sumbangsih Gatot di PARFI agaknya lebih senyap dibanding para pendahulunya.  Antara lain Suryo Sumanto sebagai Ketua Umum pertama PARFI di periode 1956-1971 memiliki peran besar dalam membentuk dunia perfilman. Suryo merupakan pekerja seni yang perannya tidak kalah dengan Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional.
 
Ratno Timoer yang memimpin PARFI selama tiga periode (1984-1998) dengan penuh kritikan, tetap diakui sebagai sosok dunia perfilman yang sangat produktif. Ratno pernah memerankan, menulis dan memproduseri lebih dari 80 film nasional.
 
Sys NS, pemimpin PARFI perioder 1999-2001 yang deras dengan hawa reformasi juga memiliki portofolio yang tidak sedikit. Begitu terus pola Ketua PARFI dari awal sampai kepemimpinan Jenny Rachman di periode 2006-2011.
 
Gatot Brajamusti dapat dikatakan sebagai Ketua PARFI pertama yang tidak memiliki portofolio di dunia perfilman saat terpilih. Gatot baru bermain film di tahun 2012. Aktingnya baru dikenal pada film Ummi Aminah (2012), Melawan Sindikat Perdangangan Wanita (2013), Sayap Kecil Garuda (2014), dan D.O.P yang baru akan dirilis 15 September ini.
 
Kongres PARFI ke-15 di Mataram, NTB pada 26-28 Agustus lalu juga banyak ditolak artis-artis senior berpengaruh. Diciduknya Gatot juga membuat prahara dunia perfilman Indonesia semakin kencang. Baca: Prahara Persatuan Artis Film Indonesia


 


(ADM)