Kaka 'Slank': Pertambangan di Pulau Bangka Harusnya Tinggal Sejarah

Mulyadi Pontororing    •    04 September 2018 14:44 WIB
kaka slank
Kaka 'Slank': Pertambangan di Pulau Bangka Harusnya Tinggal Sejarah
Kaka 'Slank' saat menghadiri konferensi pers bertema Save Pulau Bangka yang digelar koalisi Save Bangka Island di salah satu hotel di Kota Manado, Sulut, Senin, 3 Agustus 2018.

Manado: Konflik masyarakat Pulau Bangka dengan perusahaan tambang asal Tiongkok PT Mikrgro Metal Perdana (MMP) ternyata belum usai.

Meski Mahkamah Agung telah membatalkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahan tersebut pada Agustus 2016 dan diperkuat oleh tindak lanjut Menteri ESDM dengan surat keputusan pada Maret 2017 tentang pencabutan IUP operasi PT MMP di Pulau Bangka.

Terbaru, beredar isu bahwa persoalan tambang bijih besi di Pulau Bangka adalah "Cerita yang tak pernah berakhir".

Kaka 'Slank' yang merupakan salah satu seniman Indonesia yang getol mengampanyekan pembebasan Pulau Bangka terhadap aktivitas tambang, menyayangkan isu itu bisa kembali dimainkan meski sudah punya keputusan hukum tetap.

"Seharusnya isu 'never ending story' ini tidak pernah ada. Tagline ini seharusnya jangan sampai ada. Ini sangat disayangkan," kata Kaka dalam acara jumpa pers bertema Save Pulau Bangka di salah satu hotel di Manado, Sulawesi Utara, Senin, 3 September 2018 sore.

Harusnya, tegas Kaka, cerita pertambangan di Pulau Bangka hanya dijadikan sejarah yang tidak terulang. Bahwa pernah terjadi 'pemerkosaan' terhadap alam pulau kecil di Sulawesi Utara.

"Buat bangsa kita ini kan tengsin-lah. Masa ada masalah enggak beres-beres. Jadi tagline "never end history" ini seharusnya enggak pernah ada," kata dia.

Kaka mengaku walaupun sudah tak seaktif sewaktu awal-awal dia berjuang untuk penyelamatan Pulau Bangka, namun dirinya masih sering menerima informasi perkembangan masalah di pulau tersebut.

"Setahun lalu aku ada laporan bahwa sekarang adalah momennya recovery. Setelah keputusan (MA) sudah keluar enggak boleh lagi ada pertambangan di situ. Jadi tahap selanjutnya adalah recovery," terang Kaka.

Proses pemulihan, ujar Kaka, juga tak bisa hanya dilakukan terhadap kondisi alam di pulau itu. Namun, juga menyangkut kehidupan sosial masyarakat setempat.

"Masyarakat di situ sempat terpecah. Ada (warga) yang pro (pertambangan), ada yang kontra. Recovery juga harus dilakukan terhadap warga yang berkonflik ini. Luka-luka itu diobati," ujarnya.

Kesungguhan pemerintah daerah dalam menyikapi pemulihan Pulau Bangka sangat dibutuhkan. Aparat hukum juga harus tegas untuk menyingkirkan alat-alat berat perusahan tambang yang masih ada di lokasi.

"Yang aku harapkan kita harusnya bergerak maju bukan jalan di tempat. Apalagi mundur. Kita harus maju," ujarnya.

Kaka kembali menegaskan, proses pemulihan masyarakat harus benar-benar dilakukan dengan serius demi membangun kembali Pulau Bangka.

"Penduduk harus dirangkul, bersatu lagi. Karena bagaimana kita mau membangun ulang sebuah daerah kalau masing-masing kepala masih, yang satu satu ke utara, yang satu ke selatan. Harus menyatu dulu untuk memperbaiki alam," pungkasnya.





 


(ELG)