Album A Deep Sleep Montecristo, Kontemplasi Hidup dan Kematangan Berkarya

Agustinus Shindu Alpito    •    09 Desember 2016 11:57 WIB
musik indonesia
Album A Deep Sleep Montecristo, Kontemplasi Hidup dan Kematangan Berkarya
Montecristo (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Metrotvnews.com, Jakarta: Mengambil ranah progresif rock, Montecristo kembali membuat pembuktian berani lewat album A Deep Sleep. Ditenagai oleh para pria "berdasi," album ini membuktikan bahwa Montecristo tidak semata proyek senang-senang, tetapi keseriusan dalam menekuni apa yang disebut passion.

Mengapa disebut "berdasi"? Tidak lain karena beberapa personel Montecristo adalah para pekerja mapan. Vokalis Eric Martoyo, adalah direktur di PT Sumbermitra Agungjaya, juga gitaris Rustam Effendy yang juga menjabat posisi direktur di PT Indoaustra Utama. Soal musik, mereka mencoba menanggalkan embel-embel jabatan itu, dan lebur dalam nama musik.

A Deep Sleep adalah album kedua Montecristo, setelah album debut  Celebration Of Birth yang dirilis pada 2010.

Secara garis besar, A Deep Sleep adalah potret kemapanan para personel Montecristo secara musikalitas, juga dalam kehidupan secara luas. Mengapa disebut mapan? Tidak lain karena ada pengendapan nilai kehidupan yang tumbuh seiring waktu. Hal itu tampak dari tema-tema yang diangkat pada tiap lagu.

Album A Deep Sleep dibuka dengan Alexander, sebuah penghormatan terhadap Alexander The Great. Lirik lagu Alexander lahir dari refleksi perjalanan Eric Martoyo (vokalis) dari Kairo menuju Alexandria.

Di track dua, kita disuguhi buah kenangan Eric terhadap kota Ketapang yang terletak di Kalimantan Barat. Mengusung judul Mother Nature, kita dihadapkan pada perenungan seputar keseimbangan alam yang perlahan tergerus keserakahan manusia.


Album Montecristo (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Sebagai grup progresif rock, Montecristo memegang teguh pakem melodi keyboard yang cepat, rumit, dan megah. Melodi itu diperkuat dengan pengawalan distorsi gitar yang tak henti meraung-raung di sepanjang lagu.

Kedewasaan Montecristo tampak dari pemilihan tema yang cukup unik. Tak melulu mengisahkan ego seputar kehidupan pribadi para personel. Pada lagu The Man In A Wheelchair misal, Montecristo mengangkat tema tentang salah satu ilmuwan paling berpengaruh abad ini, Stephen Hawking.

Seperti kita ketahui bersama, Hawking adalah “the man in a whellchair.” Montecristo menghormati kegigihan Hawking yang menderita Amyotropic Lateral Sclerosis (ALS), namun tetap memberi kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan.

Seperti sebuah drama, tentu ada kisah pembuka, puncak cerita, dan penutup. Dalam album ini, puncak cerita itu bisa dibilang ada pada lagu A Deep Sleep. Berada di urutan ke-enam dari 10 track, A Deep Sleep merupakan puncak kontemplasi dari Eric sebagai penulis lirik. Lagu itu lahir dari perbincangan Eric dengan temannya, Alex, yang dalam masa sakratul maut. Alex yang sedang terbaring di rumah sakit bertanya pada Eric soal kematian. Pertanyaan itu dijawab Eric dengan perumpamaan kematian seperti tidur nyenyak. Tidak lama setelah dialog itu, Alex meninggal dunia.

Eric juga menyerap inspirasi dari berbagai tempat ikonik di muka bumi. Penulisan lirik The Man in A Whellchair dilakukan di Budapest dan Wina. Lirik Simple Truth ditulis di Narita dan Chicago. Kemudian lirik A Blessing Or A Curse? ditulis di Chicago dan Las Vegas. Juga lirik Ballerina yang ditulis di Bangkok dan Pattaya.

Saat jumpa pers perilisan album A Deep Sleep, Eric mengaku dirinya menemukan momen tepat dalam menulis lirik dan lagu ketika berada di dalam pesawat saat berpergian ke kota-kota jauh di luar negeri.

Album A Deep Sleep ditutup oleh lagu Nanggroe. Satu-satunya lagu berbahasa Indonesia dalam album itu. Nanggroe merupakan lagu yang didedikasikan untuk para korban tsunami di Aceh, pada Desember 2004. Secara kebetulan, saat A Deep Sleep resmi dirilis pada Rabu (7/12/2016), di hari yang sama gempa bumi kembali mengguncang Aceh.

Menyimak A Deep Sleep seperti menelusuri perjalanan panjang. Montecristo bukan saja menyuguhkan musik progresif rock yang saat ini terdengar langka di jajaran grup musik lokal, namun juga lewat lirik yang dalam.

Dihuni oleh Eric Martoyo (vokalis utama), Rustam Effendy (gitaris), Fadhil Indra (keyboardist, pianis, vokalis), Haposan Pangaribuan (bassist), Alvin Anggakusuma (gitaris, vokal latar), dan Keda Panjaitan (drummer), semoga A Deep Sleep bukan sebagai album yang menidurkan Montecristo dengan nyenyak.


(ELG)