Lika-Liku Dipha Barus hingga Menjadi DJ

Agustinus Shindu Alpito    •    23 Maret 2016 17:00 WIB
dipha barus
Lika-Liku Dipha Barus hingga Menjadi DJ
Dipha Barus (Foto: Metrotvnews.com/Shindu Alpito)

Metrotvnews.com, Jakarta: Invasi Electronic Dance Music (EDM) merambah ke seluruh dunia, termasuk negara dunia ketiga macam Indonesia. Di negeri ini, EDM bukan hal baru. Salah satu festival musik EDM terbesar di Asia Tenggara, Djakarta Warehouse Project, digelar di sini.

Selain memiliki festival musik EDM skala internasional, Indonesia juga memiliki sederet DJ kelas internasional. Salah satunya, Dipha Barus.

Karier Dipha saat ini sedang tinggi-tingginya. Dia banyak digandeng penyanyi-penyanyi pop papan atas untuk kolaborasi, antara lain Andien, Titi DJ, dan Rinni Wulandari. Nama Dipha juga malang-melintang di berbagai pesta musik dance, baik di dalam maupun luar negeri.

Perjalanan Dipha sampai ke titik ini penuh liku. Seperti kisah menggapai mimpi pada umumnya, dia juga harus bergulat dengan konsistensi.

Dalam sebuah kesempatan, Metrotvnews.com menemui Dipha di sebuah restoran di bilangan SCBD, Jakarta Selatan. Dalam perbincangan santai itu, Dipha menceritakan sepak terjangnya hingga menjadi DJ yang sangat diperhitungkan saat ini.

"Gue main musik sudah dari SD, dulu main band crust punk. Pertama bawain NOFX sama Bad Religion, terus gue les musik di Farabi, dan jadi lebih chill lagi mainin brit pop kayak The Stone Roses, Oasis, sama teman-teman komplek," kenang Dipha.

Awalnya, Dipha memainkan instrumen bass. Dia banyak mendapat referensi musik dari sepupunya yang juga penggagas Irama Nusantara, David Tarigan. Wawasan musik Dipha semakin luas ketika duduk di bangku SMP dengan menggali lebih banyak lagi referensi musik.

"Waktu SMP pertama dengar Jamiroquai, musik yang rada joget. Terus gue buat band kayak Jamiroquai. Dari situ gue belajar musik dance, drum & bass. Kebetulan bokap gue hobi beli CD sama plat (piringan hitam). Dari dulu, gue sudah koleksi plat, tetapi bukan untuk di-DJ-in," katanya.

Perkenalan pertama Dipha dengan dunia DJ terjadi secara natural, ketika Dipha menemani ayahnya berobat ke Singapura. Momen itu disebut Dipha sebagai salah satu momen yang mengubah hidupnya.

"Turning point gue waktu ke Singapura menemani bokap berobat. Gue ke toko musik, ada orang yang tanya umur gue berapa dan suka ngumpulin plat apa. Gue bilang, gue sukanya Primal Scream. Gue dikasih tahu ada musik drum & bass gitu dan dia ajak gue ke party. Dia kasih invitation. Gue datang sama sepupu yang lebih tua. Dari situ gue kemudian beli Aphex Twin dan musik-musik elektronik,” jelasnya.

Sekembalinya ke Jakarta, Dipha terus menggali musik elektronika sembari belajar menjadi DJ. Lagi-lagi, Dipha menemukan "kebetulan" lain yang kelak membawanya semakin dalam ke dunia musik elektronik.

"Sewaktu SMA kelas 1, gue beli plat-plat drum & bass belajar mix musik drum & bass sendiri pakai turntable. Gue di situ saja, ngumpulin plat main kamar. Waktu kelas 2 SMA, ada satu party underground rave yang main DJ Anton, dan lagu terakhir Primal Scream. Akhirnya gue datangi DJ Anton dan bilang, 'Sorry, nama gue Dipha dan gue masih SMA. Kok bisa ya mainin Primal Scream. Terus dia cuma bilang, kalau DJ mainin semua musik bisa, gue langsung hari Senin keesokannya ke rumah DJ Anton dan diajari house music. Natural. Semua proses kejadian di hidup gue organik," tuturnya.


Dipha Barus (Foto: Dok. manajemen Dipha Barus)

Dengan antusiasme terhadap musik yang tinggi, Dipha awalnya ingin memperdalam musikalitas dengan mengambil studi musik di universitas. Tetapi, harapan Dipha untuk studi musik di perguruan tinggi harus dia kubur dalam-dalam.

Sang ayah, menyarankan pada Dipha bahwa musik cukup dijadikan hobi. Akhirnya, Dipha mengambil studi desain grafis di Limkokwing University, Malaysia.

"Dulu gue ingin ambil beasiswa di Berklee, belajar upright bass. Gue sempat belajar bass sama Om Jeffrey Tahalele dan akhirnya coba ambil beasiswa. Waktu ujian isinya di ruangan bersama tiga orang teman gue dari Farabi. Soalnya teori, dan kita contek-contekan. Dua teman gue diterima beasiswa, gue mikir kok gue enggak  diterima. Ternyata surat pengumuman gue dapat beasiswa diumpetin almarhum bokap gue karena dia enggak setuju. Gue gondok banget. Gue tahu pas kuliah di Malaysia semester dua, waktu pindahan rumah. Tapi ya sudah, gue pikir memang itu jalannya," tuturnya.

Dipha sempat menjalani profesi sebagai desainer grafis di Malaysia. Namun pada akhirnya dia merasa tidak cocok dengan pekerjaan itu, dan memilih kembali ke Jakarta untuk menekuni pekerjaan yang berkaitan dengan musik. Di Jakarta, Dipha sempat bekerja sebagai customer service toko buku dan musik Aksara.

Meramu Musik Tradisional dengan Musik Elektronika

Singel terbaru Dipha, No One Can Stop Us telah dirilis. Menggandeng Kallula sebagai vokalis, singel itu disebut Dipha sebagai cetak biru musiknya yang meleburkan unsur tradisional musik dengan musik yang modern.

No One Can Stop Us memang terdengar sangat modern, tetapi jika disimak lebih dalam, terselip notasi pentatonik dari bebunyian instrumen gamelan yang direkam Dipha.

"Tadinya gue mikir hal yang super klise soal elektronik musik digabung dengan musik Indonesia. Dulu waktu kecil gue lihat ada semacam kolaborasi seperti itu (modern dan tradisional), seperti yang pernah dibuat Krakatau. Gue dulu mikir itu seru, tapi enggak crossover. Waktu kelas 5 SD, gue sudah mikir seperti itu, mikir bagaimana gue suatu saat bakal bikin yang baru, yang lebih blend-in," kata dia.



"Awalnya, gue kumpulin plat Indonesia seperti yang dilakukan saudara gue David Tarigan. Awalnya band Indonesia yang psychedelic seperti Rythm Kings, Kelelawar dari Koes Plus, Rhoma Irama album pertama, Bimbo yang cover The Doors. Terus waktu dengar Black Brothers yang Saman Doye, enak gali musik tradisional Indonesia secara gila. Sejak saat itu gue gali terus sampai sekarang," ujar Dipha, menjelaskan.

Eksplorasi musik tradisional dilakukan Dipha dengan mengumpulkan notasi dari berbagai instrumen. Mulai dari gamelan Jawa dan Bali, gong, trumpet reog, dan sasando.

Menurut Dipha, sudah saatnya musisi Indonesia mulai kembali menggali musik tradisional dan dikemas dengan pendekatan yang modern. Hal itu dipercaya Dipha akan membuat musisi-musisi Indonesia semakin dilirik karena memiliki sesuatu yang unik.

"Gue percaya, bisa. Gue punya faith yang besar musik Indonesia bisa dihargai di internasional. Yang sudah ada, sekarang kita berusaha ikuti luar. Contoh sederhana ketika gue kirim ke orang mastering di London, dia sampai bingung ini nada apa," katanya.

Di tangan Dipha, instrumen-instrumen itu terdengar kontemporer. Sam John, seorang teknisi audio yang dimaksud Dipha di atas terheran-heran dengan notasi yang digunakan Dipha dalam lagu No One Can Stop Us.

John adalah teknisi audio yang berbasis di London. Sejumlah musisi top pernah menjadi klien John, antara lain James Blake, Primal Scream, The Chemical Brothers, dan Aphex Twin.

"Gue bilang saja ke John kalau notasi itu adalah notasi pentatonik Indonesia. Gue kirim musik-musik tradisional Indonesia referensi gue,” kata Dipha.

Pengalaman Dipha tampil di panggung-panggung internasional semakin membuatnya yakin akan kualitas para musisi Indonesia, terutama para DJ.

"Gue beberapa kali main di New York, Jepang, dan gue merasa DJ Indonesia itu keren-keren. Bukan gue membanggakan teman-teman sendiri, tetapi DJ dari Indonesia itu bisa main di segala suasana. Mereka bisa main suasana restoran, bisa di rave party. Di luar tidak ada seperti itu. Di Indonesia bisa main di restoran yang agak sepi, tetapi juga bisa rocking ten thousand crowd," ucapnya memuji.


Semangat Punk dan Gaya Hidup Sehat

Konsisten akan satu hal selama bertahun-tahun tentu bukan hal mudah. Dipha melakukan itu, meski cobaan seringkali datang tanpa dapat diantisipasi. Jelang akhir tahun lalu, Dipha mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Momen itu justru membuat Dipha semakin yakin dengan jalannya di dunia musik.

"Gue habis kecelakaan bulan Oktober 2015. Ditabrak truk, remnya blong. Gue dengerin Alright (Kendrick Lamar). Dari situ gue beneran balik mengandalkan Tuhan doang. Ada saraf otak gue yang kena. Dari Januari sampai awal Maret, gue terapi terus," ungkapnya.

Pernyataan Dipha memang terdengar religius, tapi memang seperti itu sosok Dipha. Bak paradoks. Profesi DJ dinilai dekat dengan gaya hidup 'malam.' Tapi kenyataannya, Dipha bisa dibilang jauh dari hal itu. Dalam riders penampilannya, Dipha tidak meminta minuman beralkohol. Sebaliknya, dia hanya minta disediakan air mineral dan buah pisang.

Dalam beberapa kesempatan Dipha mengaku sebagai anak rumahan. Dia memilih langsung pulang ketika pekerjaannya menghibur penggila pesta di klub, selesai. Beberapa media dan penggila pesta bahkan melabeli Dipha sebagai "DJ Syariah."

"Gue sudah mulai olahraga lari secara rutin dari 2011. Setiap hari, gue lari. Lalu, meditasi intensif dan kemudian berdoa,” kata dia.

Gaya hidup sehat itu selaras dengan attitude Dipha yang positif. Hal itu terlihat ketika Metrotvnews.com meminta komentar Dipha akan fenomena para model panas yang berbondong-bondong terjun ke profesi female DJ.

"Gue dulu sempat ditanya banyak media dengan hadirnya female DJ. Gue no comment. Gue cuma bilang, kualitas enggak bohong. Gue enggak mau bilang ini-itu. Gue enggak mau energi positif ini ada hate-nya yang bisa merusak," ujarnya.


Dipha Barus (Foto: Dok. manajemen Dipha Barus)

DJ yang menyimpan keinginan kolaborasi dengan GAC dan Fariz RM itu juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan para female DJ.

"Mereka sebatas tanya-tanya ke gue. Kalau belajar sama gue biaya berapa. Tetapi gue jawab, gue enggak pakai biaya-biayaan. Kalau mau belajar, ayo sama-sama. Tetapi yang datang ke gue justru anak-anak muda 17 tahun, 18 tahun, yang memang punya passion. Gue sharing ke mereka soal teknik, cara produce. Gue terbuka," tukasnya.

Kembali ke soal punk, tampaknya jiwa “punk” dalam diri Dipha masih terus membara hingga saat ini. Dipha menceritakan sempat melakukan ritual konser punk dalam sebuah party.

"Gue pernah bikin wall of death di acara pensi (pentas seni) pakai lagu Trap. Energinya sama. Kalau gue ke konser punk sama hardcore, bukan influence distorsi yang gue cari, tetapi ambience-nya," jelasnya.

Semangat punk pula yang membuat Dipha terus melaju hingga saat ini dengan memberdayakan kemampuan diri tanpa melulu bergantung dengan industri atau pihak lain.

"Semua karya gue dikerjakan secara indie dan gerilya. Itu spirit yang gue dapat dari punk yang enggak akan gue tinggalkan, do it yourself. Spirit yang enggak akan gue tinggalin sampai mati," tutup Dipha mengakhiri wawancara.


(ELG)