Cerita di Balik Lagu-Lagu Barasuara di Album Taifun

Agustinus Shindu Alpito    •    13 Januari 2016 18:27 WIB
barasuara band
Cerita di Balik Lagu-Lagu Barasuara di Album Taifun
Barasuara (Foto: MI/Permana)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kehadiran Barasuara dengan album perdana Taifun, bukan saja menarik dari segi musikalitas. Konten yang mereka bawakan menjadi magnet tersendiri. 

Barasuara menyuguhkan konten beragam yang memiliki makna berlapis. Misal, Lagu Hagia. Dengan lirik repetitif, lagu itu membawa pesan soal keberagaman umat beragama. Isu yang selalu menjadi persoalan di Indonesia.

Penggunaan bahasa Indonesia yang baik, Barasuara mampu menghadirkan lirik lugas, puitis, tanpa memberi kesan melankolis. 

Beberapa waktu lalu, Metrotvnews.com bertemu Iga Massardi, penulis seluruh lagu Barasuara di album Taifun. 

Secara gamblang Iga menuturkan proses kreatif di balik lagu-lagu dalam album Taifun.

1. Nyala Suara

"Ketika elo memendam suatu keinginan, elo pendam terus sampai akhirnya apa yang elo pendam itu menyeruak. Ketika elo punya suatu tujuan, pemikiran, ide, itu harus dikeluarkan. Kalau tidak, itu hanya akan jadi bara di dalam sekam doang. Lama-lama akan meredup. Jadi, elo harus keluarkan. Itu ide awalnya."


2. Sendu Melagu

"Ini lagu cinta, semua terasa lebih berharga ketika sudah tidak ada."


3. Bahas Bahasa

"Ini potret cara berkomunikasi orang yang saat ini sudah bermetamorfosis. Kalau dulu bisa ketemu langsung, sekarang bahkan kita bisa bikin pesan teks untuk berapa puluh orang dalam waktu bersamaan. Lagu ini mengenai cara berkomunikasi."


4. Hagia

"Diambil dari nama Hagia Sofia. Intinya, bagaimana kita masing-masing punya kepercayaan dan tujuan berdasar kepercayaan itu. Bagaimana kita menghormati orang lain dan hidup berdampingan dengan damai. Walaupun tradisinya berbeda, semua ajaran agama mengajarkan kebaikan. Kita bebas untuk percaya. Kenapa terakhir ada lirik dari kitab Injil, gue merasa doa Bapa Kami sangat kuat untuk menutup lagu ini."


5. Api dan Lentera

"Elo keluar dari belenggu. Jangan biarkan bara yang elo punya padam dan jangan takut. Lepas semua keraguan dan lakukan apa yang elo yakini."


6. Menunggang Badai

"Dari musiknya banyak part yang intens dan seru. Dari liriknya soal orang yang kesulitan dengan kebenciannya sendiri. Bagaimana orang yang dalam hidupnya penuh kebencian."

"Kayak elo melihat orang, 'Kok ini hidupnya negatif ya? Penuh kebencian.' Itu dari apa yang gue lihat, gue rasakan. Semua lagu di album ini dari yang gue amati, gue observasi."



7. Tarintih

"Tentang bagaimana sosok ibu, dari mulai hamil hingga melahirkan anak. Kalau dalam sudut pandang Islam, surga ada di telapak kaki ibu. Tetapi dalam hal ini, dari sudut pandang si anak, perasaan sudah banyak berbuat salah dan masih pantaskah mendapatkan surga itu? 

Ada pikiran ketika nanti sang ibu pergi, kita sudah tidak bisa minta maaf lagi. Itu sebetulnya hal pribadi, kita semua punya salah sama orang tua. Terkadang kita terlalu lalai meminta maaf dan kesempatan sudah tidak ada. Ketika terlambat meminta maaf pada ibu, itu jadi hal menyakitkan dalam hidup.

"Tarintih adalah kata yang gue buat sendiri, dari kata 'tarian' dan 'rintihan.' Dalam perkembangan hidup, elo akan bersenang-senang yang gue gambarkan sebagai tarian, dan ada saat menyadari kesalahan yang gue gambarkan dengan rintihan."



8. Mengunci Ingatan

"Ini lagu cinta. Awalnya saat melihat suatu berita soal alzheimer. Ketika ingatan elo mulai hilang. Ada seorang pelukis alzheimer, dia mencoba melukis wajahnya sendiri terus menerus. Awal dia divonis alzheimer, dia bisa melukis wajahnya sendiri secara detail. Ketika mau meninggal, lukisan dia hanya coret-coretan. Itu sangat memilukan, kita tidak bisa mengingat kita siapa."

"Dalam lagu ini, konteksnya gue balik. Bagaimana kita ingin melupakan apa yang menyakitkan. Intinya jadi lagu cinta. Pada awalnya gue pengin nulis tentang proses melupakan, tetapi pada praktiknya gue menulis ingin melupakan kenangan buruk."



9. Taifun

"Ini lagu berisi pesan yang gue sampaikan ke anak gue. Terkadang dalam hidup harus berhenti berlari, mulai berjalan. Intinya itu, menerima diri sendiri, berdamai dengan kesalahan."



(ELG)