Kisah-Kisah di Balik Lagu Danilla

Agustinus Shindu Alpito    •    06 Agustus 2015 09:00 WIB
Kisah-Kisah di Balik Lagu Danilla
Danilla. (Foto:MTVN/Agustinus Shindu Alpito)

Metrotvnews.com: Banyak hal-hal menarik di balik proses kreatif pembuatan sebuah lagu. Seperti karya-karya seni lainnya, inspirasi dalam menciptakan nada dan lirik bisa datang dari mana saja. Danilla menyusun tiga belas lagu dalam album debutnya, Telisik. Masing-masing dari lagu itu memiliki kisah tersendiri yang menarik diketahui. (Baca: Danilla Melagu dalam Pilu).

1.    Penutupan
“Album ini album mencari jati diri, dulu aku enggak percaya diri, jadi aku ingin menutup semua pemikiran aku yang dulu tentang nyanyi dan segala macam,” jelas Danilla.

2.    Ada di Sana
“Ini lebih ke mengutarakan perasaan, nembak gitu. Sekedar, ‘Gue pengin jadi pacar lo,’ tapi dihias dengan kata-kata yang banyak cakap. Lagu ini awalnya Lafa buat pakai piano, terus aku bilang pianonya berisik, ganti pakai gitar sama organ, biar kayak Fix You (Coldplay).”

3.    Senja di Ambang Pilu
“Ini aku enggak ikut campur apa-apa. Ini Lafa yang bikin dan diminta Pak Richard masukin ke album, dia minta Lafa bikin lagu bossa ada campuran keroncongnya. Ceritanya mengenai kangen di sore hari.”

4.    Buaian
“Ceritanya gini, Lafa kirim BBM (BlackBerry Messenger). DIa bilang sudah ada lagu baru, dia mau kirim asalkan aku kirim lagu juga ke dia. Jadi seperti tukaran. Akhirnya dikasih lagu ini, baru bikin aransemennya. Idenya karena Lafa inget lagu Paul McCartney.”

5.    Reste Avec Moi
“Ini lagu ciptaan mama. Mama mau ada lagunya di album perdana aku. Soalnya dari dulu yang bersikeras aku jadi penyanyi dia. Aransemen pertama enggak seperti itu, aku ubah sama Lafa. Lagu itu diciptain sudah lama, waktu aku SD kelas 6. Lagu itu bercerita tentang mama aku yang ingin kakaknya stay dalam kondisi apapun.”

6.    Wahai Kau (Feat. Lafa)
“Entah apa yang mengispirasi Lafa, aku pengin penulis lagu yang mengangkat (karier) penyanyi ada dalam lagunya. Kehadiran dia ada. Dia (Lafa) awalnya enggak mau nyanyi di lagu ini, aku bilang ke dia, ‘Kalau kau bikin lagu untuk penyanyi kau harus tahu rasanya penyanyi seperti apa.’”

7.    Terpaut Oleh Waktu
“Lafa kewalahan cari penyanyi lagu ini. Banyak penyanyi yang mau bawain lagu ini, penyanyi-penyanyi baru, tapi enggak cocok. Kata Lafa dari semua penyanyi yang cocok suara aku doang.”

8.    Oh No! (Trembling Theory)
“Kita lagi brainstorming perihal nafsu birahi, menurut saya nafsu birahi itu bukan hal tabu, itu anugerah. Akhirnya kita jadikan lagu, menceritakan apa yang kita alami saat nafsu birahi, mulai dari keringetan, gemetaran terus nafas enggak beraturan. Itu hal yang sebenarnya fun.”

9.    Junko Furuta
“Ini berkesan, pembuatannya makan tiga sampai empat bulan. Yang lain cuma sebulan atau dua minggu. Itu ada pesan sosialnya, bukan  sekedar menceritakan kisah cinta. Waktu itu, Jungko itu lagu ke-tiga yang dibuat untuk album. Awalnya brainstorming, zaman kuliah pernah baca tentang cerita Jungko yang sadis. Namanya bagus tapi kisahnya enggak sebagus namanya.”

10.    Berdistraksi
“Lafa kirim lagu ini pakai voice note, dikirim waktu aku lagi pup. Waktu proses aransemen cuma semalam. Lafa main gitar ukulele tanpa main kord. Serba one take.  Lagu ini paling ‘asal-asalan,’ tapi paling fun.”

11.    Bilur
“Ini sebenarnya enggak mau dimasukin ke album ini, karena Bilur ini lagunya terlalu berat. Tapi aku suka banget. Ceritanya tentang suka sama orang tapi enggak bisa bersatu. Alasannya banyak, terserah menafsirkannya. Yang bikin berkesan, ini rekaman di Bandung karena pemain cello ada di bandung. Karena sewa studio mahal akhirnya rekaman di kost Tesla Manaf.”

12.    My Favorite Things
“ Ini ide Pak RIchard Buntario, waktu kita manggung di Jak Jazz bawain lagu ini, Richard suka dan mau beli hak guna lagu ini. Dia beli dalam bentuk fisik dan hak guna pakai dalam beberapa waktu. Aku dulu suka juga filmnya (The Sound of Music), senang tapi prosesnya ribet.”

13.    Pendahuluan
“Ini akan membuka album dua karena porsi 70 persen pembuatan saya dan 30 persen Lafa. Penutupan dan pendahuluan aku switch aja, kalau ini diputar terus, looping, memang seperti satu lagu yang menyambung. Enggak nyangka sih bisa nyambung juga.”
(FIT)