Joko Anwar Komentari Pemecatan Direktur Pengembangan Industri Film

Nia Deviyana    •    07 Februari 2015 14:41 WIB
joko anwar
Joko Anwar Komentari Pemecatan Direktur Pengembangan Industri Film
Joko Anwar (Foto:Metrotvnews.com/Dwi Ayu R)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kisruh pengiriman delegasi Indonesia ke Berlin International Film Festival (Berlinale) ke-65 berujung pada pemecatan Direktur Pengembangan Industri Perfilman Kementerian Pariwisata, Armein Firmansyah.

Kendati demikian, hal itu belum cukup melegakan Joko Anwar. Via Twitter, Joko pernah mengkritisi rencana pengiriman delegasi Indonesia ke Berlinale.

Kontroversi pengiriman delegasi Indonesia ke Berlinale ini diawali dari tweet Joko berisi bocoran dokumen rencana pemberangkatan delegasi.

Dari 10 orang delegasi yang didaftarkan, Joko dan para sineas mempertanyakan kredibilitas mereka sebagai wakil dari Indonesia karena tak memiliki kaitan dengan bidang film.

Pencopotan Armein belum membuat Joko puas. Menurut dia, sekjen Kementerian Pariwisata juga harus ikut diberhentikan atau mengundurkan diri.

"Seharusnya sekjennya juga dicopot atau mundur," cuit Joko melalui akun Twitter @jokoanwar.

Sutradara film "Janji Joni" ini mengajak rekan-rekan pekerja film untuk menyampaikan surat pernyataan tentang penanganan film oleh pemerintah ke Gedung Kementerian Pariwisata yang terletak di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, pukul 15.00 WIB, Sabtu (7/2/2015).

"Mari kita tunjukkan bahwa kita bersatu. Satu suara menginginkan perubahan. Agar penanganan perfilman nasional tidak lagi dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi para pejabat," ujarnya dalam sebuah pesan singkat.

Armein adalah ketua rombongan delegasi yang semula akan mempromosikan film Indonesia di European Film Market di Berlinale, 5-15 Februari.

Armein dinilai menyalahi prosedur dalam proses pengiriman delegasi ke Berlin sehingga menyebabkan dirinya dicopot dari jabatan sejak Jumat, 6 Februari.

Pencopotan ini merupakan tindak lanjut dari audit yang dilakukan Kemenpar terkait prosedur pengiriman delegasi ke Berlin, Jerman.

Armein dianggap lalai karena memaksakan delegasi berangkat. Walau anggaran Rp1,5 miliar yang diajukan belum cair, dia nekat mencari dana lewat pihak ketiga.


(ROS)