Keroncong Campur Jazz, Idealisme dan Industri

Fitra Iskandar    •    11 Desember 2014 10:10 WIB
kultur
Keroncong Campur Jazz,  Idealisme dan Industri
Foto: Metrotvnews.com/ Fitra Iskandar

Metrotvnews.com, Jakarta:  Suara Sundari Sukotjo yang membawakan lagu keroncong “Sapu Tangan” mengalun merdu keluar dari ponsel cerdas Djakawinata.  Intro lagu diawali dengan alunan saxophone, bukan suling,  seperti  di lagu ‘asli’-nya.  Hasilnya, “Sapu Tangan” yang terdengar kali ini terasa lebih modern.

“Ini lho keroncong yang agak nge-jazz,” kata  Direktur PT Gema Nada Pertiwi, Djakawinata Susilo, saat berbincang dengan Metrotvnews.com,  di kantornya di kawasan Kebon Jeruk, Mahpar, Tamansari Jakarta Barat.

Lagu “Sapu Tangan” -- yang kali ini berirama keroncong campur jazz itu -- merupakan salah satu dari 12 lagu yang digarap GNP, bersama sejumlah musisi keroncong.  Rencananya, album tersebut akan dirilis Januari 2015. Sudah sekitar satu tahun,  album ini digarap.  Yan Rusli diajak terlibat menggarap proyek ini, sebagai arranger.



Sedangkan para musisinya direkrut dari musisi-musisi muda di Bandung. Musik keroncong ala jazz ini memang membutuhkan kemampuan eksplorasi yang memadai untuk bisa menyentuh nada-nada di luar pakem keroncong .  Djaka menyebut, meski jago,  para pemusik asli keroncong  kesulitan untuk membelok-belokkan nada.

“Awal-awal ada kesulitannya juga.  Tetapi mereka kan ada dasar sekolah musik, jadi asal ada partitur, jalan juga meski awal-awal mereka bilang tangan jadi keriting, ” cerita Djaka.



Selain Sundari Sukotjo, di album ini, penyanyi  Hendri Rotinsulu juga menyumbangkan dua lagu solo dan dua lagu duet. Lainnya, Intan, anak Sundari, menyanyikan satu lagu.  Di satu lagu lain, Intan juga berduet dengan sang ibu.

“Rencananya rilis Desember. Tetapi ada yang bilang ‘jangan nanti rak-rak tertutup barang-barang natal’, jadi  kami rilis Januari saja,” kata Djaka. “ Penggarapan album ini hampir satu tahun karena kami enggak sembarangan, kami ingin sesuatu yang beda, makanya banyak bongkar-bongkar nada.”

Amanah Ayah

GNP memang memilih untuk tetap bermain-main di  industri musik tradisional, seperti keroncong, lagu daerah, dan musik rakyat lain. Namun, label juga membuka diri dengan tuntutan zaman, di mana musik modern lebih mempunyai tempat. “Memadukan musik tradisional dengan genre modern sebenarnya kaitannya untuk memperluas pasar juga.  Karena kalau generasi sekarang mungkin berat kalau disodorin musik keroncong yang benar-benar sesuai pakemnya,”  imbuh Djaka.

Selain untuk tujuan pasar,  ada idealisme yang kental mempertahankan musik tradisional,  yang mengakar sejak GNP  didirikan ayah Djakawinata, Hendarmin Susilo pada  1970. Djakawinata mengakui melestarikan lagu tradisional memang sebuah amanah dari ayahnya semasa hidup.



Di industri musik Tanah Air, Hendarmin memang terkenal  idealis memperjuangkan musik-musik daerah dan keroncong.  Ia tidak terlalu memikirkan untung-rugi kalau sudah menyangkut musik tradisional.  “Dulu kami karyawannya suka teriak-teriak kalau ada proyek rugi, tapi beliau tidak peduli. Katanya biar keuntungan dicari dari album-album yang lain,” ujar Djaka mengenang ayahnya.

Pada 2009, Hendarmin mewakili Gesang untuk menerima penghargaan The Immortals, Rolling Stones. Kebetulan, GNP  sejak 1980 menggandeng legenda “Bengawan Solo” itu untuk masuk ke dapur rekaman mereka.  Selain Gesang, artis lain yang lekat dengan GNP adalah Mus Mulyadi, Idris Sardi, Toto Salmon.

GNP masih rajin merilis karya-karya tradisional. Selain  keroncong jazz,  ada juga album-album lagu sunda bossa nova, sunda yang bercampur irama salsa dan lain-lain. Begitulah cara GNP menyiasati kondisi pasar yang tidak terlalu ramah terhadap musik tradisional. Meski berat, label rekaman yang bermarkas di Jalan Kebon Jeruk XV,  Tamansari, Jakarta Barat itu belum tertarik untuk masuk ke genre yang komersil.

“Berpaling  total enggak mungkin.  Ya, boleh dibilang ini amanah, tetapi saya juga sudah dicekokin ayah saya musik-musik tradisional sejak belasan tahun, jadi sekarang saya pun bisa menikmati lagu keroncong, lagu batak, minang, sunda,” kata pria lulusan pascasarjana Teknik Industri  ITB  2001 ini.

“Saya juga bergaul dengan seniman-seniman senior dan saya menangkap  bahwa ini  memang bukan sekadar bisnis.  Ada nilai-nilai idealisme  yang ingin dicapai. Bahwa kalau bukan kita yang mendokumentasikan, siapa lagi,” ujarnya.

Artis-artis keroncong pun banyak yang rela dibayar ‘seadanya’ demi kelanggengan musik keroncong.  Djaka bercerita,  asal, ada album baru, mereka sudah senang.   Asal ongkos produksi,  latihan terganti, proyek pun jalan. “Mereka mengerti kondisinya. Mereka bilang jangan sampai berhenti enggak ada karya baru,” ujarnya.

Direktur GNP, Djakawinata Susilo



(FIT)