Inspirasi Kehilangan dan Doa Lintas Agama dalam Lagu Bonita and the hus BAND

Agustinus Shindu Alpito    •    29 November 2017 19:00 WIB
bonita & the hus band
Inspirasi Kehilangan dan Doa Lintas Agama dalam Lagu Bonita and the hus BAND
Artwork Sisters On The Moon (Foto: dok. Bonita and the hus band)

Jakarta: Bonita and the hus BAND berbagi kisah proses kreatif dalam karya musik mereka yang berjudul Sisters on the Moon.

Karya itu disebut-sebut lahir dari pengalaman kehilangan Bonita dan Adoy pada momen yang tak jauh berbeda. Bonita kehilangan sepupu yang berusia 40 tahun, sementara Adoy kehilangan keponakan yang berusia 13 tahun. Semua itu terjadi pada semester kedua 2016.

"Salah satu yang sulit dalam penulisan-pembuatan lagu ini adalah mendengarkan suara/bunyi di kepala ini yang berontak untuk dinyatakan. Kalau pakai moda otomatis dan spontan saja, seperti kecenderungan biasanya saya menulis lagu, ini enggak akan jadi begini," kata bassist Adoy.

Lagu ini juga menyertakan doa dari beberapa agama yang menambah kesan "sakral." Pada bagian interlude, suara chant gaya Gregorian disematkan. Chant itu menyanyikan ayat Kitab Kebijaksanaan Salomo 4:13 yang berbunyi, "Karena sempurna dalam waktu yang pendek, makan orang benar memenuhi waktu yang panjang."

"Masih dalam bagian ini juga kami masukkan lantunan Surat Al Fatihah dalam gaya langgam Jawa. Penentuan langgam Jawa sebagai gaya lantunan dalam lagu ini berasal dari usulan sang pelantun, yaitu Gus Syahril, guru agama Islam yang menjadi teman diskusi saya," ungkap Adoy.

Doa lintas agama dalam lagu ini semakin mengukuhkan visi dari Bonita and the hus BAND untuk merayakan perbedaan dan merawat keberagaman.

Sisters On The Moon‎ dirilis pada November 2017 untuk merayakan International Day for Tolerance (16 November) dan International Day for the Elimination of Violence Against Women (25 November).


 
(ELG)