Anak-anak Wiji Thukul Rilis Video Musik dan Buku Puisi

Purba Wirastama    •    26 September 2018 17:04 WIB
musik indonesiapuisi
Anak-anak Wiji Thukul Rilis Video Musik dan Buku Puisi
Fajar Merah dan Fitri Nganthi Wani (dok. KawanKawan Media)

Jakarta: Dua dekade berselang, sastrawan-aktivis Wiji Thukul masih belum terlacak rimbanya sejak hilang misterius pada 1998. Kedua anaknya, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, berupaya menghadirkan kembali memori atas sosok Wiji lewat karya terbaru.

Fajar merilis video musik untuk lagu puisi Bunga dan Tembok. Video ini, yang digarap sutradara Eden Junjung bersama KawanKawan Media dan Partisipasi Film, menampilkan berbagai ilustrasi simbolik atas bunga, pembakaran hutan, perampasan tanah, pemerintah orde baru dan aparat militer, pendudukan gedung DPR, serta manusia tanpa wajah.

Bunga dan Tembok adalah lagu yang liriknya diambil dari puisi berjudul sama karya Wiji. Lagu ini telah dirilis sebagai bagian dari album mini Merah Bercerita, grup musik asal Surakarta bentukan Fajar. Bunga dan Tembok juga menjadi lagu penutup dalam film Istirahatlah Kata-kata (2016) garapan sutradara Yosep Anggi Noen.

Wani merilis buku kumpulan puisi bertajuk Kau Berhasil Jadi Peluru. Menurut keterangan pers yang kami terima, buku ini memuat 52 puisi tulisan Fitri selama 2010 hingga 2018. Kebanyakan bercerita tentang kerinduan, kemarahan, pertanyaan, hingga kecintaannya terhadap Wiji Thukul ayahnya dan Sipon ibunya.

Wani dan Fajar juga berkolaborasi mengerjakan lagu puisi dengan judul sama, Kau Berhasil Jadi Peluru. Lagu ini dibawakan untuk pertama kali dalam acara perilisan buku puisi dan video musik di Ruang Selatan Jakarta, Selasa, 25 September 2018.

Bagi Wani, karya puisi dan musik adalah bentuk terapi personal bagi dirinya serta Fajar adiknya.

"Puisi dan musik yang kami buat mengantarkan kami kepada pemahaman memaafkan tanpa melupakan," ungkap Wani.

Menurut Yulia Evina Bhara, produser dari KawanKawan Media, buku puisi dan video musik ini adalah kolaborasi lanjutan atas film Istirahatlah Kata-kata. Dia menyebut karya ini sebagai hasil refleksi Fajar dan Wani atas pergulatan hidup keluarga mereka.

"Perjuangan mereka untuk terus berusaha mencari bapaknya. Pada saat yang sama, karya mereka adalah refleksi pergulatan dan daya juang mereka, yang harus berjuang hidup tanpa bapak dan setiap hari melihat penderitaan ibunya setelah bapaknya hilang," ungkap Yulia.

Selain penampilan Fajar dan Wani, acara perilisan juga diramaikan dengan pembacaan puisi oleh Mian Tiara, Melanie Subono, Dhyta Caturani, Rachel Amanda, Putri Ayudya, Eduwart Manalu, serta Jati "Westjam Nation".
 




 


(ELG)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

5 days Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA