Impian Besar Barasuara

Agustinus Shindu Alpito    •    04 November 2015 06:57 WIB
barasuara band
Impian Besar Barasuara
Barasuara (Foto:Dok.Barasuara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Barasuara memiliki impian tampil di seluruh Indonesia hingga ke benua lain.

"Kami berenam ingin membawa Barasuara ke tempat yang lebih luas. Kami kalau bisa, ingin tampil ke seluruh Indonesia. Kami juga ingin tampil di benua-benua lain," ucap Iga Massardi, pencetus band Barasuara, dalam perbincangan dengan Metrotvnews.com di Jakarta, baru-baru ini.

Mimpi Iga membawa Barasuara ke panggung dunia bukan hal mustahil jika melihat kualitas musik yang mereka usung.

Tidak butuh waktu lama bagi Barasuara untuk menjadi fenomena. Terdiri atas para musisi berpengalaman, Barasuara dengan lantang bersuara, menyuarakan musik yang tegas dengan lirik berbahasa Indonesia yang lugas.

Tak salah mereka memberi nama album debutnya, Taifun.

"Sebetulnya yang ingin saya sampaikan dengan Barasuara sangat sederhana. Saya membentuk Barasuara dengan motivasi bisa bikin musik apapun bersama teman-teman saya. Saya ingin bikin musik yang relevan, yang bisa dinikmati oleh orang Indonesia. Begitu juga motivasi saya membuat semua liriknya berbahasa Indonesia. Saya ingin bikin Barasuara sebagai karya yang akrab dan membumi untuk orang-orang Indonesia," ujar Iga.



Selain Iga, Barasuara beranggotakan Gerald Situmorang (bassist), Marco Steffiano (drummer), TJ Kusuma (gitaris), Puti Chitara (vokalis), dan Asteriska (vokalis).

Grup musik ini lebih mirip supergrup, tiap personelnya memiliki karakter yang kuat.

Sosok Gerald, misalnya. Pria berambut gondrong itu kerap terlihat di berbagai pentas jazz, baik sebagai Gerald Situmorang Trio, sebagai bagian dari grup Sketsa, atau tampil mengiringi Monita.

Juga Marco yang menjadi drummer sekaligus music director Raisa. Hal serupa juga terjadi pada nama-nama lain penghuni Barasuara.

Tanpa embel-embel nasionalisme, Barasuara berhasil menerjemahkan istilah "ke-Indonesiaan" dengan baik.
Mereka menghadirkan lirik Bahasa Indonesia yang cakap, tanpa kesan terlalu memaksakan. Juga musik yang padu, yang sesekali membuat ingatan berkelana pada magisnya harmoni musik-musik etnik nusantara.

'Saya pribadi rindu banget ingin lihat band Indonesia yang representatif terhadap Indonesia itu sendiri. Sejujurnya, saya tidak banyak melihat band Indonesia yang seperi itu. Saya bisa melihat itu salah satunya, Efek Rumah Kaca. Mereka bisa membawa relevansi itu di karyanya. Sebetulnya tidak ada misi nasionalisme di band ini. Saya hanya ingin bikin musik yang relevan dan akrab untuk orang Indonesia," papar Iga.

Kecakapan Iga dalam menulis lirik Bahasa Indonesia diakuinya tidak lepas dari latar belakang dirinya yang merupakan anak sastrawan, Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi.

"Kebetulan, ayah saya penulis novel sastra dan puisi. Saya sudah dari kecil dengar orang tua di pagelaran puisi dan mendengar beliau membaca puisi. Tapi kalau saya pribadi, bukan tipe yang seperti itu. Saya lebih suka baca majalah, majalah musik, majalah gitar. Tapi ketika menulis lirik, entah kenapa, saya tidak asing dengan bahasa puisi, bahasa sastra, itu muncul sendiri," urai Iga.

Banyak anggapan bahwa jika band ingin sukses secara global, lirik bahasa Inggris jadi kuncinya. Hal itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar.
Lirik bahasa Indonesia tentu bukan halangan bagi Barasuara untuk mewujudkan mimpinya menjadi besar. Tanpa menjual istilah klise "go internasional," apa yang sedang dilakukan Barasuara adalah upaya pembuktian bahwa mereka memang pantas untuk tampil secara global dengan segala ke-Indonesiaannya.

"Kami berenam ingin membawa Barasuara ke tempat yang lebih luas. Kami kalau bisa ingin tampil ke seluruh Indonesia, kami ingin tampil di benua-benua lain. Kami merasa bahwa  akan indah bila karya-karya Barasuara bisa didengarkan di seluruh penjuru. Salah satu impian terbesar kami bila Barasuara akan ke tempat-tempat yang belum pernah kami jamah," harap Iga.


(ROS)

Menantang Gitar Kelas Dunia

Menantang Gitar Kelas Dunia

16 hours Ago

Tiba-tiba Buddy Blaze kunjungi Sidoarjo, Jawa Timur. Bukan ingin melihat 'lumpur lapindo…

BERITA LAINNYA