Awal Konsolidasi Manis Demi Musik Indonesia

Agustinus Shindu Alpito    •    17 Agustus 2017 10:23 WIB
musik indonesiakerja bersama
Awal Konsolidasi Manis Demi Musik Indonesia
Kerjasama Bekraf dan Irama Nusantara (Foto: dok. Bekraf)

Metrotvnews.com, Jakarta: Lahirnya Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo seperti oase di tengah padang gurun. Meski terkesan terlambat hadir, namun banyak hal baik yang dapat disinergikan dengan adanya BEKraf. Dalam bidang musik salah satunya.

Harus diakui, mengurus tiap mata rantai dalam ekosistem industri musik bukan perkara mudah. Mulai dari urusan mendasar seperti hak cipta, pembajakan, hingga masalah edukasi dan pengarsipan. Rasanya, semua itu tidak mungkin terselesaikan tanpa kolaborasi yang baik antara berbagai pihak, termasuk pemerintah tentunya.

Ada beberapa hal menarik yang terjadi dalam kurun dua tahun kehadiran BEKraf, dari kacamata bidang musik. Pertama, soal dukungan BEKraf kepada lembaga pengarsipan musik swadaya, Irama Nusantara, yang diresmikan pada pertengahan 2016. Selama ini, pemerintah abai soal pengarsipan musik, hingga kita semua tidak tahu harus ke mana untuk mencari jejak-jejak perjalanan musik Indonesia.

Irama Nusantara, dan sejumlah lembaga swadaya lain yang mengarsipkan musik sebenarnya cukup mandiri dan tidak tergantung pada pemerintah. Tetapi, bukan berarti pemerintah sepenuhnya lepas tangan terhadap bidang pengarsipan musik.

Baca juga: Titik Cerah Pengarsipan Musik Indonesia

Kerjasama antara BEKraf dan Irama Nusantara meliputi digitalisasi dan pengarsipan materi musik Indonesia era 1920-an hingga 1950-an, yang direkam dalam piringan hitam shellac 78 RPM. Kerjasama ini hadir dalam program Gerakan 78 (diambil dari karakteristik shellac yang harus diputar dalam kecepatan 78 RPM).

Pengarsipan musik adalah urgensi yang harus mendapat perhatian lebih, khususnya dari pemerintah. Beruntung, beberapa komunitas musik di Indonesia sadar akan hal itu, dan tidak serta-merta berpangku tangan dan mengharapkan kinerja pemerintah. Upaya kolektif yang digalakan secara swadaya untuk mengarsipkan musik, seperti yang dilakukan Irama Nusantara dan Arsip Jazz Indonesia, adalah kunci penting. Bahwa kekuatan gotong royong akan lebih banyak membawa manfaat, ketimbang berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Bayangkan saja bila di negara ini tidak ada arsip soal musik, bisa-bisa musisi legendaris seperti Koes Plus, Panbers, atau Sam Saimun, hanya tinggal cerita tanpa ada bukti autentik dari karya-karya mereka. Tetapi pemerintah tidak bisa tutup mata dan lepas tangan, hanya mengandalkan semangat swadaya masyarakat tanpa memberikan dukungan atau ikut turut tangan.

Ricky Joseph Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, saat ditemui Metrotvnews.com di kawasan Senayan, beberapa waktu lalu, menjelaskan bahwa BEKraf tidak hanya memberikan dukungan kepada lembaga pengarsipan bidang musik, namun juga bidang seni lainnya.

"Ada beberapa lembaga perngarsipan (yang bekerjasama dengan BEKraf), bukan saja soal musik tetapi juga bidang kreatif lain, salah satunya performing arts,” ujar Ricky.

Baca: Bekraf Siap Fasilitasi Kerjasama Produksi Film Indonesia dengan Luar Negeri

Hal menarik lain yang jadi fokus BEKraf di bidang musik adalah menjadikan Ambon sebagai Kota Musik berstandar internasional. Lagi-lagi, ini adalah proyek gotong-royong yang hanya bisa terwujud dengan kolaborasi antar semua pihak terkait.

“(Saat ini) banyak yang dilakukan adalah riset, salah satunya kami mendukung Ambon menjadi kota musik dunia. BEKraf mendukung sepenuhnya. Saat ini sedang berjalan karena BEKraf membantu kota Ambon untuk memenuhi syarat-syarat UNESCO. Di antaranya, harus punya lembaga pendidikan tinggi tentang musik, harus punya sejumlah lagu, infrastruktur, manajemen, festival, konser. Biasanya butuh waktu empat tahun untuk mencapai itu,” kata RIcky.

Dukungan BEKraf untuk menjadikan Ambon sebagai Kota Musik Dunia sudah digaungkan pada tahun lalu. Namun, ini bukan pekerjaan mudah. BEKraf sudah menetapkan 25 Action Plan yang terbagi dalam lima pilar, yaitu Infrastruktur, Musisi dan Komunitas, Proses Belajar, Pengembangan Industri, dan Nilai Sosial Budaya.

Ambon memang memiliki latar sejarah yang kuat, juga panjang, terkait urusan musik. Salah satunya adalah musik irama lautan teduh, atau biasa juga disebut musik hawaiian Ambon.

Dalam program diskusi Kata Pahlawan yang rutin digelar lewat acara bulanan, Musik Bagus Day, di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, musisi berdarah Maluku, Glenn Fredly, mengatakan bahwa Ambon memang punya keunikan tersendiri, termasuk perihal gaya musik yang tumbuh berkembang di sana.

"Hawaiian ini bisa dibilang sangat dekat dengan orang-orang di wilayah Timur Indonesia. Musik ini disebut (Jenderal) Hoegeng sebagai Irama Lautan Teduh. Secara geografi dan kultural sangat dekat dengan Indonesia bagian Timur terutama Maluku. Malah jadi budaya di sana," lanjut Glenn.

Sementara itu, musisi hawaiian asal Ambon lain yang turut hadir dalam diskusi itu, Bing Leiwakabessy, juga mengatakan hal serupa. Bahkan menurut Bing, para musisi Ambon berhasil menemukan karakteristik tersendiri soal gaya bermusik, juga menemukan instrumen musik yang khas.

"Musik Hawaiian itu berasal dari Maluku, itu musik dari Maluku. Waktu dulu, zaman orang Eropa mencari cengkeh dan pala (rempah-rempah), orang Eropa datang ke Ambon. Orang-orang Ambon lihat orang Eropa bermain musik, tetapi tidak mengikuti (jenis musik dan cara orang Eropa bermain musik), tetapi kami bikin instrumen musik sendiri, dari bambu dengan senar dari pohon aren," kata Bing yang sudah menginjak usia 94 tahun.

Soal pengarsipan dan dukungan kepada Ambon untuk menjadi Kota Musik Dunia adalah awal dari sebuah pencapaian yang lebih besar dalam bidang musik. Juga sebagian kecil dari urusan industri musik yang harus mendapat perhatian. Masih banyak mata rantai dalam ekosistem industri musik Indonesia yang juga perlu perhatian lebih dari pemerintah. Namun, anggaplah ini sebagai awal dari konsolidasi manis antara pelaku kreatif dan pemerintah, yang kita semua harap juga menular ke bidang kreatif dan misi-misi lain.

“Semua saya rasa paralel harus dikerjakan bersama, yang terkait dengan ekosistem. Kalau dari kacamata BEKraf ada enam unsur terpenting, yang tercermin dari deputi kita, yaitu riset, edukasi, akses permodalan, infrastruktur fisik dan digital, pemasaran dalam dan luar negeri, HAKI, dan hubungan antar lembaga,” tutup Ricky.



 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA