Layanan Streaming Dianggap Kurang Untungkan Pelaku Musik

Purba Wirastama    •    19 Februari 2018 10:16 WIB
streaming musik
Layanan Streaming Dianggap Kurang Untungkan Pelaku Musik
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Jakarta: Produser musik Seno M Hardja menyebut layanan streaming musik digital, baik beli maupun sewa, belum cukup menguntungkan para pelaku industri musik. Kondisi ini berbeda jauh dibanding saat rilisan fisik seperti cakram padat atau kaset pita masih berjaya.

"Dunia distribusi bergerak terus. Dulu (rilisan) fisik itu dari piringan hitam dan kaset luar biasa (penjualan) bagus banget. CD masih bagus," kata Seno di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Minggu, 18 Februari 2018.

"Pada saat CD diserang digital, satu streaming seperti iTunes, yang satu lagi peminjaman per bulan seperti Spotify dan Joox, maaf itu enggak banyak menolong kami, enggak menolong pelaku industri musik. Akhirnya harapan kami seperti KFC, CFC, Texas, Alfamidi karena lakunya bisa banyak. Kalau kita berharap ke outlet konvensional, sudah tutup sekarang," lanjutnya.

Seno mencontohkan toko musik Duta Suara yang berdiri sejak era 1970-an dan kini bertahan dengan satu gerai di kawasan Sabang atau Jalan H Agus Salim, Jakarta Pusat.

"Duta Suara itu dulu sudah punya sekitar 20 (cabang), sekarang balik ke Sabang," ucap Seno.

Menurut Seno, sejumlah label besar dunia yang pernah bercabang di Indonesia telah beralih fokus ke rilisan digital dan mengandalkan katalog era lama untuk bertahan. Strategi pemasaran juga melibatkan segala macam medium dan konten digital untuk menyasar generasi baru.

"Semua label besar dunia yang ada di Indonesia, seperti Warner, EMI, Sony, Universal, sudah enggak cetak CD lagi. Mereka ke digital. Tapi karena produksi mereka sudah banyak sekali, mereka mundur ke 20-40 tahun lalu, seperti The Beatles, The Rolling Stones. Mereka punya semua katalognya, mereka bisa hidup dari situ," ujar Seno.

Dari pengalaman Seno, pemasukan dari layanan digital sangat kecil kendati jaringan distribusi bisa meluas lintas negara. Keuntungan dari penjualan fisik yang mencapai 200 ribu keping jauh lebih besar dibanding total pemasukan dari rilis digital selama setahun. Salah satu contohnya album Fariz RM & Dian PP In Collaboration With (2014).

"Saya produksi album Fariz RM, yang nyanyi anak muda, ada Glenn, Sammy, Sandy Sandoro, dan sebagainya, itu penjualan di sini bisa 200 ribu keping dan nilainya miliaran (rupiah). Kami dapat dari Believe Digital, agregator kami yang mengurus semua penjualan digital seluruh dunia, cuma dapat Rp30 juta setahun," tutur Seno.

"Diputar, lagu-lagunya hits, tapi (pemasukan) kecil. Seperti album BCL (Bunga Citra Lestari), itu dijual di seluruh dunia, tapi duitnya kecil," tukasnya.

Selain produser musik, Seno aktif sebagai salah satu direktur Anugerah Musik Indonesia. Pada 2015, bersama label Target Pop, dia merilis album Momentum Seno M Hardjo 17th Years of Musical Journey untuk menandai 17 tahun berkarya di industri musik.


(DEV)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA