Waldjinah: Saya Berumur 72 Tahun dan Masih Memikirkan Keroncong

Agustinus Shindu Alpito    •    13 Maret 2018 18:41 WIB
musik keroncong
Waldjinah: Saya Berumur 72 Tahun dan Masih Memikirkan Keroncong
Waldjinah saat ditemui di kawasan Semanggi, Jakarta Pusat, pada Selasa, 13 Maret 2018 (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

Jakarta: Legenda hidup Waldjinah tidak bisa lepas dari keroncong seumur hidupnya. Musisi yang kini mengalami keterbatasan fisik dan duduk di kursi roda itu mengaku terus berjuang agar musik keroncong lestari. Berbagai cara dan dukungan dilakukan Waldjinah, termasuk memantau bagaimana perkembangan dan regenerasi musisi keroncong.

"Sering ada seleksi musik keroncong untuk generasi muda, pelajar SD-SMP-SMA di Surakarta. Peminatnya bagus banget. Saya sampai menangis karena para anak muda bakatnya bagus-bagus tetapi kok tidak ada yang pada mau (menjadi musisi) keroncong (profesional)," kata Waldjinah saat ditemui dalam acara peluncuran keyboard Yamaha PSR-S975 dan PSR-S775, di kawasan Semanggi, Jakarta Pusat, Selasa, 3 Maret 2018.

Menurut Waldjinah ada berbagai faktor mengapa pelestarian musik keroncong tidak maksimal, termasuk tidak ada dukungan yang masif dari stasiun televisi. Waldjinah berharap adanya porsi bagi keroncong di acara-acara televisi sehingga musik ini masih terdengar dan terjaga gaungnya.

"TV penting untuk mengangkat keroncong, paling baru TVRI (yang mempertahankan acara keroncong)_ada juga TV swasta tetapi keroncongnya amburadul. Kendang dan drum masuk. Itu mengurangi (esensi asli keroncong). Seharunsya ciri keroncong yang ditonjolkan," imbuh Waldjinah.

Masalah lain yang terjadi adalah tidak ada lagi label besar yang berminat merilis musik keroncong. Ari, anak Waldjinah yang membantu sang ibu dalam beraktivitas dan turut berkecimpung di dunia musik keroncong menjelaskan hanya ada satu perusahaan rekaman pada saat ini yang membuka diri terhadap musik keroncong.

"Sudah jarang label yang mau merekam keroncong, satu-satunya Gema Nada Pertiwi," kata Ari.

Mulai ditinggalkannya keroncong oleh perusahaan rekaman membuat ekosistem regenerasi terganggu. 

Peliknya persoalan ini tidak membuat Waldjinah patah semangat. Di tengah permasalahan yang ada, Waldjinah sebisa mungkin mengupayakan diri mendorong berbagai aktivitas yang berbau keroncong. 

"Saya berumur 72 tahun keroyo-royo memikirkan bagaimana musik keroncong agar maju," lanjut Waldjinah.

Keroncong bukan satu-satunya kekayaan lokal di bidang musik yang menghadapi berbagai masalah di era kini. Beruntung, beberapa musisi yang kini masih aktif mau untuk fokus melestarikan musik keroncong dengan berbagai cara, di antaranya Sruti Respati, Endah Laras dan Keroncong Tenggara.


 


(ASA)

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

Akhir Perjalanan Raja Festival Rock Log Zhelebour

1 week Ago

Log memastikan bahwa dalam waktu dekat, dia akan pensiun total dari bisnis pagelaran musik, ter…

BERITA LAINNYA