Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993

Berlima Menghalau Ribuan Perusuh Konser Metallica 1993

Purba Wirastama    •    10 April 2018 10:00 WIB
Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993
Berlima Menghalau Ribuan Perusuh Konser Metallica 1993
Adang Rismanto, Kapolres Jakarta Selatan kala itu, turut mengamankan kerusuhan Konser Metallica di kawasan Pondok Indah, pada 1993 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Jakarta: Kisruh di luar arena konser Metallica Jakarta 1993 meluas mendekati pemukiman Pondok Indah pada Sabtu malam, 10 April. Kapolres Jakarta Selatan kala itu, Kol Pol Adang Rismanto bertindak cepat. Menghalau pecahan ribuan massa, Adang menggunakan strategi tipu daya hanya bersama tiga polisi jaga dan satu ajudan.

Saat massa mulai mengamuk di luar Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Adang dalam perjalanan pulang. Dia sebelumnya tidak menyangka bahwa pagelaran musik metal punya potensi kerusuhan massal yang meluas hingga luar arena. Lagipula, konser pertama Metallica di Indonesia tersebut juga disokong oleh institusi, yang disebut Adang berada di bawah Angkatan Darat.

"Sehingga untuk pengamanan pun, saya pribadi yakin, karena mereka yang selenggarakan, mereka memiliki personel yang cukup. Sehingga saya sebagai Kapolres hanya perbantuan, terutama untuk kelancaran lalu lintas," tutur Adang kepada Medcom.id di kawasan Gandaria, Jumat, 6 April 2018.

Begitu mendapat laporan kerusuhan, Adang dan ajudannya putar balik ke arah Lebak Bulus. Namun dia menyerahkan penanganan massa di sekitar stadion kepada Wakapolres Jaksel, Kapolsek Cilandak dan para perwira Polres Jaksel. Dia juga yakin personel Angkatan Darat telah turun untuk menangani pusat kerusuhan.

Sementara itu, Adang menuju Pos Polisi Jalan Metro Pondok Indah untuk menghalau pecahan massa perusuh yang telah mendekati pemukiman mewah Pondok Indah, dua kilometer dari stadion. Beberapa mobil telah dicegat dan penumpangnya ditodong. Beberapa rumah juga telah didatangi.

"Saya cegat di bundaran Pondok Indah agar mereka tidak ke Pondok Indah, tetapi saya buang untuk mengalir ke tempat lain. Saya ditelepon, ada beberapa orang yang dicegat, termasuk mobil Menteri Kehakiman (Oetoyo Oesman). Supirnya hampir kena tusuk," ujar Adang.

Adang bertemu tiga petugas di pos polisi. Ajudannya bergabung sehingga kekuatan mereka menjadi lima orang.

Sebagai langkah pertama, Adang meminta jalanan menuju wilayah tersebut ditutup supaya tidak ada penambahan massa. Beberapa warga dari rumah sekitar merapat meminta perlindungan. Kendaraan yang baru datang juga merapat. Mereka diarahkan berlindung di lapangan belakang pos polisi.


Aparat melakukan pengecekan tubuh para penonton konser Metallica di Jakarta, 1993 (Foto: Media Indonesia/Gino Franki Hadi)

Adang juga menghubungi pusat kendali PLN dan meminta seluruh aliran listrik area ini dipadamkan, termasuk lampu jalan dan bangunan. Jadilah kawasan tersebut gelap gulita. Situasi semakin genting saat terdengar teriakan dari massa untuk membakar stasiun pompa bensin.

Taktik arahan Adang siap dijalankan. Dia memerintahkan empat anggotanya meniupkan peluit sembari berlari bersama dan meneriakkan instruksi mundur. Penggunaan senjata api dilarang. Mereka yakin massa perusuh tak akan tahu dengan pasti berapa jumlah aparat dalam gelap. Dengan gertakan suara, kumpulan massa dipecah supaya keluar dari kawasan tersebut.

"Massa pikir ini pasukan datang, padahal cuma berlima. Akhirnya mereka mundur dari pompa bensin, terus digiring. Bahkan ada rumah satu perwira AURI (TNI AU) di situ, dia sudah menembak-nembak (ke atas) karena rumahnya sudah digedor-gedor," ungkap Adang.

Amukan massa kawasan tersebut berhasil diredam. Sementara itu, bantuan aparat dari Polda Metro Jaya dan unit Polres lain berdatangan. Beberapa perusuh ditangkap dan diperiksa bersama perusuh yang ditangkap di kawasan lain. Menurut Adang, setelah identitas dicatat, mereka dilepaskan.

"Betapa dengan kekuatan sederhana kami waktu itu. Anggota saya sudah terlatih karena memang sering terjadi kerusuhan anak sekolah di Bulungan (Kebayoran Baru). Dulu, tidak ada sekolah yang sesering Bulungan kalau sudah berkelahi. Anggota saya sudah terlatih. Mereka selalu berkelompok, berkumpul, baru bergerak," kenang Adang.

Setelah insiden kerusuhan yang melebar, Adang dan pihak aparat menyadari bahwa mereka telah salah persepsi mengenai aspek keamanan pertunjukan musik sejenis. Biasanya jika ada pertunjukan musik dengan massa besar seperti Iwan Fals, kerusuhan hanya lingkup lokal dalam arena.

"Tidak sampai bakar-bakaran. Paling (jauh) mereka hanya berkelahi saja," jelas Adang.

Sejak kerusuhan Lebak Bulus 1993, izin keamanan sulit didapat oleh pertunjukan musik dengan massa besar. Pertunjukan musik massal dilarang digelar di Jakarta.

"Tadinya kami lihat pertunjukan yang berat itu sepakbola, seperti (pertandingan) Persib, Persija, PSM. Selalu yang kami waspadai yang demikian, sehingga pada waktu ada pertunjukan, ada kecenderungan bahwa selain panitia  menyiapkan (keamanan) mereka sendiri, kami tidak memperhitungkan sampai terjadi ledakan massa.

"Setelah (insiden) itu, baru kita menghitung betul. Panitia tidak boleh mengatur sendiri, tetapi kami yang mengatur dan menentukan," tukas Adang.





 


(ASA)