Senggigi Sunset Jazz 2017 Sukses Memadukan Alam, Musik, dan Budaya Lokal

Agustinus Shindu Alpito    •    25 September 2017 11:31 WIB
senggigi sunset jazz 2017
Senggigi Sunset Jazz 2017 Sukses Memadukan Alam, Musik, dan Budaya Lokal
(Foto: IST)

Metrotvnews.com, Lombok: Di tengah polemik festival musik jazz yang justru didominasi musik di luar jazz, Senggigi Sunset Jazz 2017 bisa dibilang mampu mempertahankan benang merah dari festival jazz itu sendiri dengan menghadirkan festival musik yang sebagian besar penampilnya memang berasal dari ranah jazz.

Senggigi Sunset Jazz 2017 digelar pada Jumat dan Sabtu, 22 dan 23 September lalu. Berlangsung di kawasan Pantai Senggigi, dekat Dermaga Senggigi.

Dua panggung, Rinjani Stage dan Tambora Stage dibangun di pantai untuk mengakomodasi penampilan puluhan musisi.



Panggung Rinjani dibuka oleh penampilan 5 Kancing Baju, sebuah grup yang memang berasal dari Nusa Tenggara Barat. Kemudian Sura Dipa and Friends, Norma Jean dari Amerika Serikat dan Just One (pemenang MLDJazz Wanted) yang berkolaborasi dengan Enda “Ungu.”

Bonita & the hus Band dipilih sebagai penutup panggung Rinjani. Dalam aksi panggungnya, Bonita & the hus Band membawakan Satu Hari Sebelum Esok  sebagai lagu penutup.

Di panggung Tambora, Toni Moersaid Keroncong didaulat sebagai pembuka. DIlanjutkan dengan penampilan Sumbava, sebuah grup asal Pulau Sumbawa. Panggung ini juga menampilkan Syaharani & Queenfireworks sebagai suguhan penutup. Lagu Morning Coffee  dipilih Syaharani & Queenfireworks sebagai lagu penutup, sekaligus mengakhiri Senggigi Sunset Jazz 2017.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M. Zainul Majdi pun membaur di tengah ribuan penonton Senggigi Sunset Jazz 2017. Dia mengapresiasi pagelaran musik yang diproyeksikan untuk mengangkat pariwisata di daerah Lombok Barat itu.

“Ini sangat menarik sekali. Bisa dikatakan satu-satunya festival jazz yang diadakan di pinggir pantai. Lebih-lebih ini di Senggigi, destinasi klasik yang kita punya, yang pemandangannya sangat indah,” kata M. Zainul Majdi, seperti tertulis dalam keterangan pers.

Gubernur NTB juga berharap festival musik jazz ini nantinya dikenal secara global dan menjadi salah satu acara jazz rujukan bagi penggemar jazz dunia.

Dari pihak penyelenggara, Imam Sofian (Jazz and World Music Festival) mengatakan bahwa ke depannya, Senggigi Sunset Jazz akan mempertahankan komposisi penampil yang memang didominasi oleh insan musik jazz. Hal itu sangat penting untuk menjaga benang merah dari titel festival ini yang memang mengusung musik jazz.

"Teman-teman world musik di Pulau Lombok dan Sumbawa telah memberikan warna tersendiri di Senggigi Sunset Jazz. Karakteristik bahwa ini adalah pertunjukan seni yang mengutamakan sub genre Jazz harus tetap kita pertahankan," tukas Imam.

 
(DEV)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

1 day Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA