Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993

Kenangan Lars Ulrich Metallica tentang Kerusuhan Lebak Bulus 1993

Purba Wirastama    •    10 April 2018 17:11 WIB
Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993
Kenangan Lars Ulrich Metallica tentang Kerusuhan Lebak Bulus 1993
Lars Ulrich (Foto: rollingstone)

Jakarta: Kerusuhan massal di luar arena konser Metallica Jakarta 1993 masih dikenang oleh drummer Lars Ulrich 14 tahun kemudian. Dalam sebuah film dokumenter, Lars menyebut kekacauan tersebut tidak lepas dari gelora kalangan anak muda usia akil balik yang penuh kemarahan.

"Aku ingat saat berada di kendaraan menuju arena, ada begitu banyak orang di luar," kata Lars dalam dokumenter Global Metal garapan Sam Dunn dan Scot McFadyen, yang diputar perdana pada Oktober 2007.

Global Metal adalah dokumenter kedua Scot dan Sam yang berbicara soal musik metal, menyusul film dokumenter pertama mereka, Metal: A Headbanger's Journey (2005). Lewat Global Metal (2007), Scot dan Sam menyorot dampak dari globalisasi musik heavy metal underground dan bagaimana orang dari kultur berbeda mengembangkan sub-genre musik cadas ini.

Huru-Hara Konser Metallica di Lebak Bulus 1993

Indonesia adalah satu dari tujuh negara yang didatangi Scot dan Sam. Subyek yang mereka angkat, selain empat grup musik metal lokal, adalah tiga grup yang pernah bermain di Indonesia. Ada Napalm Death (Inggris), Sepultura (Brazil), dan Metallica (AS).

Dalam sesi Metallica, kisah yang diangkat tak lain adalah kedatangan pertama di Indonesia pada 1993. Penampilan mereka selama 10-11 April telah menarik puluhan ribu massa ke Stadion Lebak Bulus, yang berdekatan dengan kawasan pemukiman Pondok Indah.

"Stadion berada di bagian Jakarta yang kaya raya, di mana banyak politisi dan keluarga turunan kaya raya tinggal. Lalu di sini (luar stadion), ada ribuan dan ribuan anak muda dengan gelora akil balik (Lars menggeram) dan Metallica ada di balik dinding stadion," tutur Lars.

Berlima Menghalau Ribuan Perusuh Konser Metallica 1993

"Kami bermain, banyak orang tak bisa masuk, dan jelas semua kekisruhan terjadi di luar sana. Kami ada di atas panggung, bermain dan beraksi, dan kalian bisa lihat ada kobaran api, asap, suara sirine polisi, dan semuanya. Pokoknya mereka menghancurkan seluruh pemukiman tetangga," lanjutnya.

Dokumenter ini juga memuat cerita singkat dari Arian 13 (Seringai), Andre Tiranda (Siksakubur) Wendi Putranto (pengamat musik). Mereka bertiga ikut jadi saksi penampilan konser Metallica 1993, sekaligus kerusuhan yang menyertai. Andre dan Arian termasuk calon penonton yang memiliki tiket. Namun toh mereka tetap dipukuli dengan rotan oleh aparat keamanan di luar arena.

Saat kisruh meletup, Arian masih berada di luar dan ikut dihalau aparat. Kendati sudah menunjukkan tiket, dia tetap diusir, bahkan diteriaki sebagai komunis.

"Aparat militer mengejar kami dan saya berteriak: Pak, saya punya tiket, saya mau masuk, saya tak bisa masuk. Dia menatap kami dan bilang, 'Kalian yang berkaos hitam semuanya komunis', dan mereka mengayunkan tongkat ke segala arah. Kami lari kabur," ungkap Arian.

Jimi Multhazam Abadikan Konser Rusuh Metallica 1993

Wendi bercerita bahwa setelah insiden kisruh tersebut, pihak otoritas melarang semua bentuk konser musik cadas dari luar negeri.

"Mereka melarang semua konser metal, semua konser rock, penampil luar negeri. Karena itu seperti membawa pengaruh buruk bagi anak muda Indonesia. Karena itu seperti demonstrasi massal, sama seperti yang kami punya tahun 1998, saat (Presiden) Soeharto turun," tukas Wendi.

 


(ELG)