Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993

Apa Penyebab Konser Metallica di Lebak Bulus Rusuh?

Cecylia Rura    •    10 April 2018 11:20 WIB
Rusuh Konser Metallica di Jakarta 1993
Apa Penyebab Konser Metallica di Lebak Bulus Rusuh?
Aparat berjaga-jaga di tengah kerumunan penonton Metallica, Lebak Bulus, Jakarta, April 1993 (Foto: MAJALAH HAI)

Jakarta: Kenangan pahit dalam kerusuhan konser musik cadas band Metallica di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, memasuki usia perak. Perhelatan yang menghadirkan grup cadas kelas dunia itu diselenggarakan oleh promotor  AIRO yang dipimpin Setiawan Djody. Setidaknya AIRO berani menggelontorkan Rp1,5 miliar untuk pertunjukan yang digelar selama dua hari itu.

Perhelatan konser Metallica itu diadakan selama dua hari di akhir pekan pada Sabtu, 10 April 1993 dan Minggu, 11 April 1993 di Stadion Lebak Bulus yang berkapasitas 40.000 penonton. Sayang, banyaknya massa dan fasilitas keamanan lokasi konser membuat stadion mudah ditembus dari berbagai sudut. Selanjutnya bisa ditebak, suasana kacau dan terjadi keributan.

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang saat itu mengamankan acara tidak berdiam diri. Berbekal rotan dan tongkat aparat berusaha membubarkan keributan, namun yang terjadi justru sebaliknya, suasana kian tak terkendali.

Berbagai spekulasi terkait kerusuhan tumpah dalam pemberitaan media cetak saat itu. Ada yang berpendapat aksi itu diboncengi oleh satu pihak tertentu, disebabkan masalah kesenjangan sosial karena harga tiket yang terlampau mahal, sampai kritik terhadap jenis musik metal yang dianggap sebagai pemantik agresivitas anak muda.

"(Masalah) ini penting karena kita sedang berada dalam masa transisi dari tahun 1993 ke 1998 yang bisa menciptakan suasana bingung, vacuum, kacau, dan chaos. Kita butuh kebijaksanaan tegas dari pemerintah untuk masalah ini," ungkap Pangkopkamtib Jenderal (Pur) Soemitro kepada Harian Kompas yang terbit Rabu, 14 April 1993 dengan judul Insiden Metallica Jangan Dijadikan Bahan Polemik.

Para pengamat banyak berpandangan kerusuhan ini akibat kesenjangan atau perbedaan strata sosial. Dengan kondisi ekonomi era itu, calon penonton ditawarkan harga tiket Rp30 ribu hingga Rp150 ribu per orang untuk satu hari pertunjukan. Harga yang tidak murah, mengingat para penggemar Metallica didominasi mahasiswa dan pelajar era itu.


Aksi Metallica di Lebak Bulus, April 1993 (Foto: MAJALAH HAI)

"Pelajaran paling berharga dari kejadian ini justru bukan untuk mencari ikhtiar baru dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi untuk konser-konser selanjutnya, tetapi lebih dari itu, bagaimana menajamkan cara pandang terhadap konteks sosial yang melatarbelakangi peristiwa ini," tulis Mantan Kepala Divisi Khusus YLBHI/Mantan Ketua Dema ITB Hendardi di kolom berita Harian Media Indonesia, terbitan Selasa, 14 April 1993, dengan judul Kesenjangan Sosial dalam Kerusuhan Konser Metallica.

Sekitar 5.000 remaja dari luar stadion dilaporkan melempari 2.500 petugas keamanan yang saat itu bertugas di hari pertama. Aksi kerusuhan diawali dengan pembakaran dua buah mobil di area stadion. Sebanyak 13 orang dilaporkan luka berat dan 38 orang mengalami luka ringan dibawa ke tiga rumah sakit berbeda, RS Fatmawati, RS Pondok Indah dan RS Pusat Pertamina di Jakarta Selatan. Di hari kedua sebanyak lebih kurang 6.000 petugas dikerahkan. Penonton tetap membludak di hari kedua. Pada laporan terakhir 118 orang luka-luka, 50 mobil rusak dan sejumlah bangunan beserta warung di sekitar stadion ikut hancur diamuk massa.

Mulyana W. Kususmah yang kala itu menjabat sebagai Dosen Kriminologi & Pembangunan FISIP Universitas Indonesia memaparkan, faktor lain yang melatarbelakangi kondisi ini adalah adanya endapan emosi dan rasa kekecewaan karena tidak mampu membeli karcis. Kelompok perusuh bertambah ketika yang sudah membeli karcis tidak menerima fasilitas yang diharapkan. Ia juga menyebutkan "budaya tandingan" dengan kekerasan sebagai acuan dan cara untuk menyelesaikan masalah digunakan saat itu.

"Budaya tandingan ini hidup dan mempunyai banyak penganut oleh karena dipandang bukan saja memenuhi pemuasan kebutuhan emosional, akan tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menegaskan kehadiran dan jati diri, bahkan untuk meraih semacam reuptasi dan kekuasaan," tulis Mulyana dalam kolom opini di Harian Media Indonesia terbitan Selasa, 14 April 1993 dengan judul Metallica dan Pagelaran Kekerasan.

Untuk alasan musik cadas yang memantik sikap beringas, vokalis sekaligus gitaris Metallica James Hetfield tidak sependapat. Dia menilai musik jenis metal justru bisa mengajak pendengar ke arah yang lebih positif.

"Para pendengar musik metal bisa menyalurkan energinya. Mereka tidak perlu menyalurkan kelebihan energi itu untuk hal-hal yang destruktif," kata James, dikutip dari Harian Kompas, yang terbit pada Senin, 12 April 1993, dengan judul James Hetfield: Saya Tidak Tahu Kenapa Jadi Rusuh.

Pendapat tersebut juga senada dengan paparan ahli psikologi sosial yang menanggapi kerusuhan di konser Metallica. Jenis musik Metallica bukan sebagai faktor penyebab kerusuhan Lebak Bulus 1993.

"Pelajar kita tanpa musik rock juga sudah saling berkelahi. Jadi jangan salahkan musik rock dulu," kata Ahli Psikologi Sosial dari UGM Yogyakarta Dr. Djamaludin Ancok dikutip dari Harian Kompas yang terbit Senin, 12 April 1993, dengan judul Kerusuhan Warnai Pergelaran Metallica.

Menurut James yang kala itu hadir bersama ketiga penggawa Metallica lain, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan Jason Newsted mengaku tahu ada keributan terjadi di luar stadion, tetapi tak tahu apa penyebabnya. Ia bahkan mengatakan kerusuhan serupa tak mungkin terjadi di Los Angeles, sebab penduduk tidak diperkenankan melawan petugas keamanan.

Dari pihak promotor AIRO, Setiawan Djody saat itu bertanggung jawab atas insiden yang terjadi di dalam stadion, bukan di luar stadion. Sebab, menurutnya kerusuhan itu terjadi karena faktor ketimpangan sosial, bukan masalah musiknya.



Situasi dari dalam area konser Metallica, Lebak Bulus (kiri) dan mobil yang menjadi sasaran pengrusakan massa (kanan) (Foto: Harian Kompas, 12 April 1993)


Konser Metallica 2013: Khidmat, Tuai Prestasi

20 tahun berlalu Metallica kembali mengadakan konser di Gedung Olahraga Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta pada Minggu, 25 Agustus 2013. Gedung berkapasitas 80.000 penonton dengan dinding kokoh itu dirasa cukup memberikan ruang bagi para penggemar Metallica.

Seperti belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh promotor sebelumnya, promotor Blackrock Entertainment yang menghadirkan Metallica banyak melakukan perubahan mulai dari venue acara dan tingkat keamanan. Blackrock Entertainment diganjar banyak pujian termasuk beberapa penghargaan dari Indonesia Book of Records dalam bentuk Best Security, Best Sound, Best Lighting, Best Metal Show, dan Best Promotor of the Year.

Grup musik Metallica yang telah diganjar penghargaan Grammy itu memainkan setidaknya 18 nomor lagu andalan saat pentas di GBK. Digelar sukses, jejak kerusuhan di tahun 1993 seolah terkikis dengan aksi panggung Metallica dan jalannya konser yang kondusif

Sebagai perbandingan, Tubagus Dedi Suwendi Gumelar atau dikenal dengan nama panggung Mi'ing Bagito yang pada saat pentas Metallica tahun 1993 didapuk sebagai Master of Ceremony (MC) acara, mengaku puas dan cukup bangga sempat berada satu panggung bersama Metallica. Saat kembali menghadiri konser Metallica di tahun 2013, menurutnya konser berjalan lebih kondusif, sangat baik serta tertib.

"Lebak Bulus itu tidak cukup menampung. Areanya terlalu kecil untuk sekelas Metallica. Harusnya stadion (besar), lebih aman di stadion. Lebih aman. Jadi, di GBK kemarin enggak ada undangan enggak ada tiket ya no entry. Udah enggak bisa masuk pokoknya (tanpa tiket)," kata Mi'ing ketika dihubungi Medcom.id, Rabu, 4 April 2018.

"Kalau di sana (Lebak Bulus) mereka agak terbuka pagar itu, dan itu open air betul, itu agak sulit. Jadi, kalau menembus tembok GBK enggak gampang kan, lebih besar. Di sana (Lebak Bulus) lebih rapuh," imbuhnya.

Saat menjadi MC di pentas Metallica, Mi'ing mengaku cukup sulit menggiring massa yang membludak dengan emosi meledak-ledak.

"Saya tidak punya diksi atau kalimat yang paling bijaksana untuk menenangkan mereka, kecuali, 'Tenang, anak Jakarta tertib, kita gembira'. Bahasa-bahasa yang tidak provokatif, otomatis. Harus menyejukkan."

Pada gelaran konser Metallica di GBK tahun 2013, empat penggawa band asal California yang hadir saat itu di antaranya James Hetfeld, Lars Ulrich, Kirk Hammet, dan pemain bas Robert Trujillo menggantikan Jason Newsted yang hengkang dari Metallica pada 2001.





 


(ASA)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

3 days Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA