Devil Electric, Invasi Empat "Begundal" Melbourne

Agustinus Shindu Alpito    •    21 Desember 2017 15:44 WIB
musik internasional
Devil Electric, Invasi Empat
Devil Electric (Foto: Dokumentasi Devil Electric)

Jakarta: Tidak bisa dipungkiri, musik yang kerap dicap arus pinggir dapat tumbuh berkembang dan hidup atas dukungan komunitas yang kuat. Termasuk di zaman serba internet ini. 

Desember 2017, kuartet asal Melbourne berjubah Devil Electric menggelar tur di Indonesia. Kehadiran mereka bukan karena permintaan yang tinggi dari para penggemar di sini, namun lebih kepada kekuatan arus pinggir yang disebutkan pada kalimat pembuka di atas, yaitu komunitas.

Saling memberdayakan dan membentuk ekosistem mutualisme adalah kunci bertahan bagi grup musik berbasis komunitas. Persahabatan Devil Electric dengan grup asal Bandung, The SIGIT dan Kelompok Penerbang Roket beberapa tahun terakhir adalah contohnya. Pertemanan itu membuat Devil Electric memiliki koneksi dengan ranah musik rock Indonesia. Pertemanan sehat itu pula yang akhirnya membawa grup asal Australia itu membuat tur dua pekan di Indonesia.

“Saya pikir semua band Indonesia adalah keluarga besar yang bahagia. Mereka berteman, mereka tahu satu sama lain, dan saat kami bermain di Australia. Di Melbourne, di Sydney, di Adelaide, saat kembali kami selalu mengingat bahwa mereka semua adalah band-band yang seru untuk bermain musik bersama. Mereka juga akan menjamu saat kita berkunjung ke kota mereka, atau hanya sekedar untuk minum bersama. Dan pastinya ada kesamaan dalam hal itu (dalam kultur musik arus pinggir di Indonesia). Kreativitas dan kegembiraan bersama,” ujar bassist Tom Hulse saat bertandang ke kantor Medcom.id bersama tiga rekannya dari grup Devil Electric, pada pertengahan Desember 2017.

Menyebut musik sebagai bahasa universal adalah tepat. Buktinya, Devil Electric juga mampu berkoneksi dengan grup rock Indonesia yang juga mengusung musik berbahasa Indonesia. Hal itu mereka rasakan ketika melihat aksi Kelompok Penerbang Roket yang seluruh lagu dari album debutnya berbahasa Indonesia.

“Saat saya melihat mereka live, saya memiliki pikiran bahwa mereka sangat bagus. Tidak masalah saya tidak tau apa yang mereka ucapkan,” ungkap vokalis Pierina O’Brien.

Hal itu lantas disepakati gitaris Christos Athanasias, “Musik menerjemahkan ke siapa saja. Itu merupakan bahasa juga. Untuk saya pribadi, saya tumbuh di Yunani, sebelum saya belajar bahasa Inggris saya mencoba bernyanyi dengan bahasa Inggris dengan aturan bahasa-bahasa yang salah, tetapi saya tetap mengerti bahasa Inggris.”

“Ketika Kelompok Penerbang Roket ke Melbourne untuk bermain dan menyanyikan dalam bahasa Indonesia, penonton tetap menyukainya dan tidak memengaruhi bahwa band ini bagus. Saya pikir penonton tetap bisa merasakan energinya.”

Devil Electric terbilang masih sangat belia. Band ini baru berusia dua tahun. Mereka punya karakter musik yang jelas, bermain pada area doom dengan sentuhan-sentuhan sound psychedelic yang berpusat pada efek gitar, juga melodi yang berakar kuat pada pakem blues. Jika mendengar musik mereka sekilas, grup ini seperti  berasal dari era 1970-an.

Mereka tidak menampik bahwa tren musik memang berputar. Termasuk dengan apa yang mereka lakukan, mengolah kembali gaya rock lama dengan sentuhan musik yang lebih segar.

“(Dunia musik) ini seperti fashion. Seperti lingkaran. Karena saya percaya, ‘What you listen is what you look like,’  apa yang kamu kenakan lebih sepsifiknya lagi. Jadi kamu lihat anak-anak rap menggunakan baju yang kebesaran, jeans gombrong. Selain itu ada anak rock & roll lebih memilih mengenakan baju-baju yang ketat, hitam. Ini seperti fashion. apa yang mereka gunakan, mereka terlihat seperti apa. Juga dalam musik, entah itu psychedelic, rock, akan kembali lagi. Saya secara personal menyukainya karena selalu ada limit mengenai apa yang bisa kamu lakukan, dalam hal orisinalitas. Selain itu ya hanya remix dan hal-hal kecil yang kamu tambahkan dari apa yang sudah ada,” jelas Tom.

Bukan tidak mungkin dengan segala karakter yang dimiliki, Devil Electric meneruskan tradisi band-band Australia yang memiliki tempat tersendiri di kalangan penikmat rock Indonesia. Seperti kita ketahui, Australia belakangan menyuplai band-band rock yang mampu bersaing di sirkuit rock dunia dan cukup diminati di Indonesia. Wolfmother dan Airbourne contohnya. Atau grup psychedelic yang telah dua kali tampil di Indonesia, Tame Impala.

Devil Electric saat tampil di sebuah acara musik di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada 14 Desember 2017 (Foto: Decky Arrizal)
Devil Electric saat tampil dalam sebuah acara musik di Kemang, Jakarta Selatan, 14 Desember 2017 (Foto: Decky Arrizal).

Devil Electric sendiri melihat Indonesia sebagai pasar potensial dalam memasarkan musik mereka. Tidak lain karena basis penggemar musik rock dan heavy metal cukup besar di sini. Ditambah Devil Electric telah memiliki koneksi dengan beberapa pelaku musik di Indonesia, sehingga membuat mereka lebih mudah untuk - setidaknya - tampil di sini.

“Kami sangat beruntung memiliki teman seperti Decky (manajemen Kelompok Penerbang Roket) dan Rekti dari The SIGIT, mereka memberikan kami masukan mengenai  bagaimana caranya untuk mendekati sesuatu atau dimana baiknya untuk bermain dan show, sangat membantu untuk kami mendekati sesuatu yang diinginkan.”

“Dengan adanya Rekti memudahkan kami untuk mendapatkan koneksi dengan band Indonesia. menurut saya ini merupakan market yang bagus karena banyak penggemar heavy metal dan rock & roll di Indonesia dan itu membuat kami mudah untuk connect. Kami juga tinggal tidak terlalu jauh, kami berada di negara tetangga, jadi kami juga bisa menikmatinya walaupun ada perbedaan kebudayaan, tapi itu membuat travelling  menyenangkan. Jadi, (menjadikan Indonesia sebagai pasar musik Devil Electric) kenapa enggak?” ungkap Tom.

Di Indonesia, Devil Electric akan tampil di Jakarta, Bandung, Denpasar dan Canggu (Bali). Mereka tampil bersama beberapa grup yang berbeda-beda dalam tiap gig, antara lain Mooner, Seringai, Kelompok Penerbang Roket dan The SIGIT. Informasi terkait aktivitas panggung grup ini dapat dijangkau lewat media sosial mereka, termasuk Instagram.

Selama dua tahun, Devil Electric merilis satu album mini dan satu album penuh. Album penuh debut mereka yang bertajuk Devil Electric  rilis pada tahun ini dan mendapat pujian oleh sejumlah media.




(ASA)

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

4 days Ago

Yon dan Koes Plus meninggalkan segudang warisan bagi generasi setelah mereka. Semasa jayanya, K…

BERITA LAINNYA