Dunia Semosimesta di Dalam Pikiran Maia

   •    28 Mei 2016 18:04 WIB
drama musikal
Dunia Semosimesta di Dalam Pikiran Maia
Dunia Maia (Foto: Instagram)

Metrotvnews.com, Jakarta: Art Division Universitas Pelita Harapan (UPH) mengadakan event kolaboratif antar semua Unit Kegiatan Mahasiswa Seni UPH melalui sebuah drama musikal yang mengusung tema anti Seks Bebas, Alkohol, dan Drugs. Pertunjukan ini merupakan bentuk kelanjutan kerja sama UPH bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional. Acara ini diadakan Sabtu, 28 Mei 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Drama musikal berjudul Dunia Maia tersebut menceritakan seorang remaja bernama Maia yang terus dihantui oleh kesedihan dan rasa bersalah atas kematian adiknya. Akibatnya, terciptalah sebuah dunia dalam pikiran Maia yang bernama Dunia Semosimesta.

Dalam dunia imajinasinya tersebut, ia bertemu dengan sosok Maha Ratu yang misterius, serta lima klan yang merepresentasikan emosinya yaitu Klan Der (Red; Klan Kemarahan), Klan Hsub (Bush; Klan Kegundahan), Klan Enots (Stone; Klan Keras Kepala), Klan Sgurd (Drugs; Klan Narkoba), dan Klan Ecarg (Grace; Klan Hati Nurani).

Musikal kolosal ini diproduseri, ditulis, dan disutradarai oleh Boy Marpaung yang telah berpengalaman menggarap lebih dari 800 pertunjukan di Art Division UPH.

Menurutnya, drama musikal yang digarapnya kali ini memiliki cerita dan konsep berbeda dari yang lain.

"Yang menarik dari Dunia Maia itu adalah ceritanya, di mana kita menciptakan emosi Maia menjadi klan-klan, dan kita tampilkan dengan konsep yang lebih menarik lagi yaitu digital mapping," ungkapnya.

Dari segi musik, Music Director dalam drama musikal ini adalah Andreas Arianto, seorang composer, arranger, orchestra conductor yang telah banyak memproduseri penyanyi dan band dalam negeri serta beberapa rekaman orkestra film.

Andreas berpendapat bahwa drama musikal Dunia Maia ini menjadi menarik karena adanya penggabungan antara dunia dalam pikiran dan dunia nyata sang tokoh utama.

"Tantangannya adalah bagaimana kita menerjemahkan kedua dunia yang sangat berbeda tersebut melalui musik dan lagu di setiap adegannya,” kata Andreas. "Musik dalam semua adegan di dunia nyata adalah musik organik, sedangkan adegan dalam dunia pikiran si Maia menggunakan electronic music," tambahnya.

Dalam bagian Sound Design dan Live Electronic Music, ada Arya Prayogi yang pernah menjadi Sound Designer film The Raid 1, The Raid 2, dan Killers. Ia juga mendapat penghargaan sebagai Penata Musik dan Suara Terbaik Film Killers.

Dalam sebuah drama musikal, pertunjukan akting dan musik serta lagu saja belum cukup. Tentunya, perlu ada tarian atau koreografi yang menarik dan mendukung jalannya cerita. Koreografer dalam Dunia Maia adalah Seven Marudut Sibarani, seorang seniman tari yang aktif dalam berbagai pentas dan yang karya-karyanya telah dipentaskan dalam kegiatan I-Move dan Indonesia Dance Festival.

Drama musikal ini memang berskala besar karena telah menggandeng beberapa profesional di bidang seni pertunjukan. Akan tetapi, karena Dunia Maia merupakan acara yang diadakan oleh universitas, maka tentunya andil para mahasiswa sangat besar.

"Pementasan ini melibatkan sekitar 350 mahasiswa aktif di UPH, baik sebagai cast ataupun crew,” kata Keia Laturiuw, mahasiswi Business School UPH yang merupakan Head of Management dalam drama musikal ini.


(ELG)

RUU Permusikan Salah Sejak Judul

RUU Permusikan Salah Sejak Judul

1 week Ago

Setelah didalami sejumlah pihak, termasuk Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTL RUUP), te…

BERITA LAINNYA