Konser Perdana Jakarta City Philharmonic Tahun 2018 Sukses Digelar

Cecylia Rura    •    19 April 2018 12:12 WIB
musik klasik
Konser Perdana Jakarta City Philharmonic Tahun 2018 Sukses Digelar
Komponis Jenny Rompas (kiri) bersama Pengaba Budi Utomo Prabowo (kanan) menerima bunga dari pihak BEKraf setelah konser Jakarta City Philharmonic "Lingkaran Keabadian" di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu, 18 April 2018. (Foto: Med

Jakarta: Konser perdana Jakarta City Philharmonic (JCP) di tahun 2018 sukses digelar. Mengusung tema Lingkaran Keabadian, konser yang sebelumnya rutin menggelar panggung musik orkestra dan kini memasuki edisi ke-11 ini menggandeng karya dari komponis sekaligus pianis Jenny Rompas dengan pengaba Budi Utomo Prabowo.

Dalam panggung konser ini, ditampilkan karya terbaru Jenny berjudul O atau Lingkaran, yang sekaligus menjadi inspirasi tema gelaran konser orkestra JCP perdana tahun ini.

"Karyanya dibuat pendek, biar kalau didengar enggak bosan," papar Jenny dalam bincang-bincang singkar bersama Budi Utomo Prabowo sebelum konser dimulai.


Komponis Jenny Rompas (kiri) dan Pengaba Budi Utomo Prabowo (kanan) melakukan bincang-bincang singkat sebelum memulai konser Jakarta City Philharmonic "Lingkaran Keabadian" di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu, 18 April 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)


Panggung musik Jakarta City Philharmonic dimulai pada pukul 19.45 WIB. Dalam kesempatan tersebut turut hadir Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menyaksikan panggung musik orkestra.

"Sebetulnya saya hanya ingin hadir di sini, tapi karena acara ini yang punya Jakarta, yang punya gedung ini belum pernah hadir di Jakarta City Philharmonic jadi kami ingin mengucapkan selamat terhadap Jakarta City Philharmonic," kata sambutan yang diberikan Sandiaga sebelum konser dimulai di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu, 18 April 2018.

"Setelah setahun masyarakat Philharmonic berhasil menelurkan sebuah inisiasi yang baik sudah saatnya pemerintah DKI hadir dan men-support kegiatan yang sangat positif untuk masyarakat."



Sandiaga Uno hadir dalam konser musik orkestra Jakarta City Philharmonic di Teater Jakarta, Rabu, 18 April 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)


Gelaran konser dimulai dengan aransemen musik Indonesia Raya yang kini selalu dinyanyikan di setiap gelaran konser. Karya pertama yang dibawakan adalah karya Johann Sebastian Bach (1685-1750) dengan judul Suita Orkestra No. 3 dalam D Mayor, BWV 1068. Aransemen yang dibawakan adalah Aria pada Dawai G, gerakan kedua Suita No. 3 dalam D Mayor yang dianalogikan sebagai pelangi di tengah rinai hujan. Karya ini merupakan aransemen August Wilhelmj yang paling tersohor untuk biola dan piano.

Karya tersebut dibawakan pada malam konser JCP secara khusus mendedikasikan Aria pada Dawai G untuk mengenang komposer musik almarhum Suka Hardjana yang baru berpulang pada 7 Aprill 2018. Ia dikenal cukup kritis dan kritiknya dikenal baik bagi perkembangan musik Indonesia. Karya ini dibawakan kurang lebih 2-3 menit.

Dilanjutkan dengan karya terbaru dari komponis Jenny Rompas yakni O atau Lingkaran. Karya ini memadukan tema dan variasi dari transformasi leitmotif menjadi enam sisi musik miniatur yang lugu dan sesekali lucu. Dibuka dengan gelombang lembut, kontras dan selingan dan alunan tremolo diiringi tema yang lebih cepat. Gagasan ini berkelip menuju bintang-bintang cemerlang. Menuju penutupan nada artikulasi agonal sembari menembus jahitan dan jalinan tessitura dilantunkan.

Warna musik ini menyinggung gaya pointilistik klangfarbenmelodie pada gerakan ketiga. Kesunyian di antara bebunyian menggubah dimensi pengelihatan, pendengaran, pemikiran, dan perasaan yang baru menyeruak kalbu. Karya O merupakan sebuah eksperimen dramaturgik timbral yang bebas. Dibagi dalam enam sisi musik, masing-masing dibawakan tidak lebih dari 2-3 menit.


Pengaba Budi Utomo Prabowo memimpin panggung musik orkestra Jakarta City Philharmonic di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu, 18 April 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)


Selanjutnya, karya Max Reger (1873-1916) yakni Variasi & Fugue untuk Orkestra berdasarkan tema dari Mozart, Op. 32. Karya ini dikenal sebagai gubahan paling terkenal dan ditulis saat popularitas atonal sedang menanjak. Tema variasi yang diambil berdasarkan Sonata Piano dalam A mayor, KV. 331 karya Mozart. Ciri khas dari bahasa musik Reger berupa pengembangan abstraksi dan transformasi.

Setelah sesi pertama, para pemusik diberi waktu istirahat 15 menit sebelum memulai sesi kedua. Pada sesi kedua mereka membawakan karya Pyotr Ilyich Tchaikocsky (1840-1893) yakni Simfoni No. 5 dalam E minor, Op. 64. Metode komposisi simfonik Tchaikovsky lebih lekat para prosedur penulisan tone-poem ala Liszt. Pada buku panduan musik Jakarta City Philharmonic dikatakan banyak lagu-lagu populer yang menjiplak musiknya, seperti Moon Love yang dipopulerkan Frank Sinatra, diambil dari gerakan lambat Simfoni Kelima.

Dalam panggung konser orkestra JCP, empat sisi musik Pyotr Ilyich Tchaikocsky yang dibawakan yakni Andante - Allegro con anima, Andante cantabile, con alcuna licenza, Valse: Allegro moderato, dan Finale: Andante maestoso - Allegro vivace. Pada karya musik ini dibawakan selama 15-20 menit per sisi musik. Karya ini sekaligus menjadi penutup konser yang diselesaikan sekitar pukul 22.00 WIB.

 
(ASA)