Saat Anak Punk Bikin Pameran Seni

Agustinus Shindu Alpito    •    19 April 2018 16:23 WIB
pameran seni
Saat Anak Punk Bikin Pameran Seni
Mike Marjinal (Kiri) dan Bob Marjinal (Kanan) berpose di samping salah satu instalasi seni (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

Jakarta: Dua personel Marjinal, Mike dan Bob, bersama dengan Amien Kamil dan Refi Mascot menggelar pameran seni bertajuk PANG - No Border, No Class, di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 18 - 31 April 2018.

Seperti diketahui, Marjinal merupakan grup punk yang konsisten selama lebih dari dua dekade. Mereka bukan saja menyuarakan semangat punk lewat lirik lagu, tetapi juga menjalani gaya hidup mandiri dan berdikari lewat komunitas Taring Babi.

“Keempat seniman yang mengadakan pameran dengan tajuk PANG ini memperlihatkan atau lebih tepat mengajak kita untuk saling membagi sentuhan-sentuhan naluri yang kita alami dari pengalaman masing-masing. Mereka sejak awal menanggalkan titik pandang baku bagaimana seharusnya berkarya. Tak ada yang lebih mendasar daripada bahwa berkarya karena desakan naluri dandarimana hal itu muncul tak lain dari apa yang dialami sendiri dalam keseharian . Tidak ada batasan atas apa yang layak dan tidak layak untuk berkarya,” kata Tommy F Awuy selaku kurator pameran.


Seorang pengunjung memerhatikan karya Bob Marjinal yang berjudul Samskull (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)


Sekitar 40 karya, baik dalam bentuk seni lukis, fotografi dan instalasi dipamerkan. Ditemui di lokasi pameran, Bob menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki tema khusus dalam pameran kali ini, empat perupa yang terlibat di sini secara spontan terlibat dan mengirimkan karya-karyanya.

“Ini ada beberapa karya dari 2008, 2011, ide untuk pameran ini berangkat dari kami nongkrong bareng dan akhirnya jadi. Tidak ada konsep kaku, luwes saja. Setiap perupa bebas ingin bicara apa saja di situ,” kata Bob.

Salah satu karya Bob yang menarik perhatian berjudul Senyum Si Bangsat. Karya itu disebut Bob lahir dari interpretasi visualnya terhadap para koruptor.

“Gue bikin kepala enggak ada otaknya, ya itulah visualisasi para koruptor,” ujar Bob.


Karya-karya Bob Marjinal dalam katalog pameran (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)


Napas-napas perlawanan terhadap mereka yang termarjinalkan dan potret permasalahan sosial  terendus menyengat dalam pameran ini. Karya Bob lain, yang berjudul Dorr terinspirasi dari salah satu foto perang Vietnam paling ikonik yang dipotret oleh Eddie Adams.

Foto karya Adams yang memperlihatkan bagaimana polisi Vietnam menodongkan pistol kepada seorang Viet Cong di Saigon, pada 1968, diterjemahkan ulang oleh Bob. Sosok Viet Cong diganti dengan sosok tengkorak berambut punk. Hal ini seolah mengingatkan kita bagaimana kaum punk kerap diperlakukan semena-mena oleh aparat.

Karya-karya Bob dalam pameran ini mengingatkan kita pada karya-karya monumental yang lebih dulu ada. Termasuk potret Monalisa karya Leonardo da Vinci yang diterjemahkan secara visual oleh Bob lewat karya berjudul Monaliskull. Selain itu, Bob juga menggambar ulang sosok Uncle Sam dengan pose menuding yang khas dan sangat populer itu. Bedanya, Bob mengganti wajah Uncle Sam dengan tengkorak dan memberi judul Samskull.


Karya Mike Marjinal yang dipamerkan (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)


Personel Marjinal lain, Mike, cenderung menampilkan karya-karya dengan tema lebih beragam. Mike bahkan memamerkan karya berjudul Ibumi Sakura Jiwa, yang secara keseluruhan memperlihatkan visual bunga Sakura. Karya ini seolah menampilkan sisi kelembutan Mike. Ibumi Sakura Jiwa dibuat Bob dalam lawatannya ke Jepang beberapa waktu lalu.

Bob juga mengikutsertakan karya berjudul Ibumi Pang Pangapurone yang memperlihatkan bagaimana visual anak punk berlutut di hadapan seorang ibu. Lewat karya ini Mike mampu menerjemahkan punk dalam konteks budaya lokal, bagaimana seorang anak sungkep pada ibu, lepas dari status sosial sang anak.

“Tema ini pada umumnya, mengangkat protes dan kepedulian sosial. Ketidakadilan itu diangkat ke sini. Saya kira itulah kelebihan seni, mengangkat tidak secara verbal. Mengangkat secara visual itu lebih halus, lebih susah untuk dikriminalisasikan. Heri Dono misal, dia waktu zaman Orde Baru dipanggil, tetapi dia selalu bisa berkelit. Kalau penulis (mengkritik lewat karya literatur) pasti sudah dipenjara,” kata kolektor seni ternama dr. Hong Djien Oei yang turut membuka pameran.

Pesta pembukaan pameran dimeriahkan dengan panggung musik yang menampilkan Marjinal, Orkes Moral Pengantar Minum Racun dan pembacaan puisi oleh Amien Kamil.


Kolektor seni ternama dr. Hong Djien Oei didaulat sebagai pembuka pameran (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
 


(ASA)